Anjing

Catatan Teja Purnama

Ponsel menjerit, padahal telah susah payah mendapatkan alam tidur yang begitu nikmat ini.

Saya bangkit dan mengambil ponsel itu. Tanpa nama.

“Halo,” ucap saya dengan nada tak senang.

“Halo,” balasnya.

“Siapa? Ada apa ya?”

“Anjing. Aku anjing.”

Mula-mula geli, tapi lebih ingin marah. Hanya orang gila yang bermain-main pada dini hari ini!

“Kau boleh tak percaya, boleh marah. Aku memang anjing. Dan aku ingin protes malam ini!”

Semestinya saya matikan saja ponsel itu. Tetapi entah kenapa saya jadi tertarik mendengar kata protes. (lagi…)

Diterbitkan di: on Maret 13, 2011 at 6:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Papan Bunga di Kota Kami

Catatan Teja Purnama

Kemarin saya ikut menjemput Bang N. Syamsuddin Ch. Haesy di Bandara Polonia. Di tengah kesibukan memimpin Harian Jurnal Nasional dia meluangkan waktu mengunjungi kami untuk menularkan berbagai pengalaman dan pengetahuan.

Medan tentu saja menarik perhatiannya. Berbagai tanggapan muncul. Salah satunya tentang gemarnya orang Medan mengirimkan ucapan selamat melalui papan bunga. Saya sempat tersentak dan begitu saja berkata,”Papan bunga menjadi ciri khas Medan. Ini kota papan bunga Bang.” (lagi…)

Diterbitkan di: on Februari 27, 2011 at 6:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Teater Cikeusik

Catatan Teja Purnama

Teater pekerjaan besar. Ada semacam ambisi “menciptakan” kehidupan dan takdir tokoh di atas panggung. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan.

Meletihkan memang. Anda yang merasa pekerja teater bolehlah cemburu pada saya yang tinggal menyisihkan sedikit uang lantas mendapat kekuasan di kursi penonton. Kekuasaan itu memberi kebebasan menalar peristiwa yang di panggung. Saya dapat menilai kualitas tontonan itu sangat jauh di bawah kualitas garapan para pelaku berbagai insiden bernuasa SARA yang terjadi di tanah air belakangan ini. (lagi…)

Diterbitkan di: on Februari 20, 2011 at 7:27 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tertawa

Catatan Teja Purnama

Sesungguhnya saya ingin menampilkan catatan tentang perselingkuhan. Beberapa paragraf telah tersusun, namun gagal dilanjutkan. Bukan karena takut dibaca istri lalu dia menyangka saya menulis pengalaman pribadi. Tulisan itu gagal dilanjutkan hanya karena saya geram pada tawa anak kos di depan rumah.

Anda boleh menyebut saya berapologi. Faktanya, saya langsung keluar rumah, mengingatkan para mahasiswa itu bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Mereka meminta maaf. Saya tak menanggapinya, lalu pulang ke rumah dan dengan geram membanting pintu. Tak sampai dua detik, melengking tangis anak yang baru berusia jalan tujuh bulan. Pasti karena suara bantingan pintu, bukan karena tawa mahasiswa itu… (lagi…)

Diterbitkan di: on Februari 14, 2011 at 1:17 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Mandi

Catatan Teja Purnama

S emalam kawan saya berulang tahun. Dia mengajak minum kopi. Malam tentunya. “Kita masih buruh, belum majikan. Makanya waktu yang tepat malam,” katanya seakan lupa dia juga bekerja di koran. Tetapi apa guna memperdebatkan undangan minum kopi? Tentu saja saya tak menolak walaupun belum tahu tema apa yang jadi obrolan menarik nantinya.

Baru beberapa saat duduk, kawan yang rajin menulis cerpen ini, langsung bicara. “Aku tak butuh ucapan ulang tahun. Yang perlu kuberitahu kepadamu, aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak mandi pada hari ulang tahunku ini,” ungkapnya.

Sadarlah saya, ternyata bau tak enak yang mengganggu hidung merebak dari tubuhnya. Saya tak mau berpikir jauh. Saya juga tak mau melihat janjinya itu lahir dari keunikan berpikir seorang seniman. Mungkin dia ingin membuat sejarah pada hari bersejarah dalam hidupnya: tak mandi seharian.

Kita telah terbiasa mandi. Aktivitas personal pada hari baru tak lepas dari mandi. Selain memberi kesegaran, juga membebaskan tubuh dari kesumukan dan kerisihan. Kesumukan dan kerisihan itu juga bisa menular ke orang lain, jika saya yang tak mandi berinteraksi dengan orang lain. Mandi menjadi kian penting bagi fungsi personal dan sosial tubuh. (lagi…)

Diterbitkan di: on Februari 5, 2011 at 7:21 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Rakyat

Catatan Teja Purnama

Rakyat memang hebat. Tak ada negara tanpa rakyat. Namanya keramat. Selalu jadi ajimat legislator dan pejabat. (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 22, 2011 at 8:03 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Bunuh Diri

Catatan Teja Purnama

Bagaimana cara bunuh diri yang indah agar menjadi kenangan sepanjang masa? Teman saya, seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang, pernah berimajinasi mengiris nadinya, lantas aliran darah menjadi tinta untuk menulis surat terakhir bagi kekasihnya. Kawan saya, seorang seniman juga sempat berpikir bunuh diri demi melahirkan karya: yakni memutilasi diri sendiri dan merekam segala proses penganiayaan itu. (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 15, 2011 at 2:21 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Air

Catatan Teja Purnama

Waktu masih kanak-kanak, hujan selalu menggelegakkan naluri bermain. Hujan pula menjerang kekesalan emak karena ayah selalu selalu mengizinkan saya mandi hujan. Ayah selalu membuka pintu yang tadinya dikunci emak, menyuruh saya menunggu beberapa saat, baru kemudian membiarkan saya bergabung dengan anak-anak lain yang telah basah kuyup. Emak merepet, ayah hanya diam menonton saya menggauli air. (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 10, 2011 at 1:53 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Warung Nasi Legislator

Malam menyiramkan hujan saat saya dan seorang teman melintas di kawasan Pasar Peringgan. Dengan sigap teman saya menghentikan sepeda motornya ke sebuah warung nasi. “Makan dulu, sekalian berteduh,” ajaknya.

Tak sulit mencari tempat. Hanya ada sekelompok perempuan menunggu pesanan. Sekejap duduk, datang anak belasan tahun membawa cuci tangan dan segelas air hangat. Dia tanya pesanan kami. “Taruh aja semua. Biar kami lihat dulu,” jawab kawan saya. (lagi…)

Diterbitkan di: on Desember 18, 2010 at 11:07 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Perawan, Panggaron, Semprit

Catatan Teja Purnama

Setiap orang punya kenangan dan izinkan saya mengenang kawan lama. Panggaron bukan namanya, tetapi saya sering menyapanya demikian. Bayangnya muncul setelah membaca pernyataan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief yang mengatakan, tahun 2010 sebanyak 52 persen remaja perempuan di Medan sudah tak perawan lagi. Tak tahu bagaimana sikap Panggaron sekarang menanggapi berita ini. Soalnya, dulu dia pernah bilang, “Hati-hati cari istri, supaya dapat yang perawan.” (lagi…)

Diterbitkan di: on Desember 6, 2010 at 3:17 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.