Gubsu, H Syamsul Arifin mengeluarkan pernyataan yang cukup menghentak. Orang nomor satu di Sumatera Utara ini mendesak Pemko Medan menertibkan reklame-reklame bermasalah. Dia tidak mau Medan sebagai ibukota provinsi menjadi hutan reklame.
“Tolong tertibkan reklame yang bermasalah. Jangan pandang bulu. Kalau ada yang bawa-bawa nama Gubernur tapi tidak memiliki izin, sikat! Yang tidak ada izin buang!” tegas Syamsul di hadapan para pejabat Pemko, termasuk Pj Walikota Medan Drs H Afifuddin Lubis MSi beberapa waktu lalu.
Tentu pernyataan Syamsul ini bukan asal ucap. Penegasan yang ditanamkannya di hadapan pejabat Pemko Medan itu berangkat dari kenyataan di kota yang bercita-cita moderen, relijius, dan madani ini.
Lihatlah! Nyaris tidak satu pun jalan atau persimpangan strategis luput dari billboard-bilboard raksasa yang memajangkan berbagai produk. Persaingan biro jasa periklanan kian tajam. Masing-masing berusaha menutupi bilboard yang lain.
Fasilitas publik pun terkooptasi perangai bisnis periklanan ini. Fungsi jembatan penyeberangan bergeser menjadi pajangan reklame. Jangan pula heran, terdapat dua jembatan penyeberangan di lokasi yang berdekatan, yakni di Jalan Balai Kota dan Putri Hijau. Herannya, Pemko Medan tidak bisa berbuat apa-apa hanya karena biro jasa periklanan itu yang membangun jembatan penyeberangan tersebut.
Trotoar sebagai hak pejalan kaki dan median jalan tak luput dari eksploitasi. Di trotoar, selain bilboard raksasa juga tertanam tugu reklame. Sebagai kamuflase, tugu reklame itu dipasang di tengah taman kecil yang hingga kini tak terawat.
Reklame-reklame ini juga berisiko kecelakaan. Bukan sekali-dua kali kita mendengar kabar tumbangnya papan reklame hingga menimbulkan korban luka, bahkan jiwa. Dan bersyukurlah, sampai sekarang belum ada kabar orang iseng atau sakit jiwa yang menumbangkan bilboard secara bertahap hanya untuk mencelakai orang banyak.
Melihat kenyataan ini, sudah saatnya Drs H Afifuddin Lubis MSi bertindak tegas. Keraguan akan memperparah kehancuran Medan. Jangan seperti Hamlet yang terus dililit keraguan hingga membawa petaka bagi dirinya sendiri.
Bacalah karya Shakespeare itu dan rasakan derita Hamlet si peragu. Hamlet yang telah mendapat “pertanda” begitu larut dalam keraguan bahwa pamannya, Claudius, yang telah meracun ayahnya. Lucunya, untuk menepis keraguan, Hamlet mengundang kelompok sandiwara untuk mementaskan tentang tewasnya seorang raja. Sedihnya lagi, saat ia telah yakin bahwa benar Claudius yang membunuh ayahnya, Hamlet tak membunuh Claudius yang saat itu sedang khusyuk berdoa. Alasannya, orang yang tewas saat berdoa akan masuk surga dan Claudius tak pantas menghuni surga.
Akibat keraguan ini, bukan sedikit derita yang mendera. Claudius dan ibunya naik tahta menggantikan mendiang ayahnya. Hamlet membunuh calon mertuanya dan kekasih sejatinya, Ophelia pun menjadi gila lalu tenggelam di dasar sungai.
Kini tinggal pertanyaan bersarang di hati: Apakah Medan tak malu mempunyai seorang Hamlet yang tersesat dan bingung di tengah hutan reklame?