Catatan Teja Purnama
S emalam kawan saya berulang tahun. Dia mengajak minum kopi. Malam tentunya. “Kita masih buruh, belum majikan. Makanya waktu yang tepat malam,” katanya seakan lupa dia juga bekerja di koran. Tetapi apa guna memperdebatkan undangan minum kopi? Tentu saja saya tak menolak walaupun belum tahu tema apa yang jadi obrolan menarik nantinya.
Baru beberapa saat duduk, kawan yang rajin menulis cerpen ini, langsung bicara. “Aku tak butuh ucapan ulang tahun. Yang perlu kuberitahu kepadamu, aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak mandi pada hari ulang tahunku ini,” ungkapnya.
Sadarlah saya, ternyata bau tak enak yang mengganggu hidung merebak dari tubuhnya. Saya tak mau berpikir jauh. Saya juga tak mau melihat janjinya itu lahir dari keunikan berpikir seorang seniman. Mungkin dia ingin membuat sejarah pada hari bersejarah dalam hidupnya: tak mandi seharian.
Kita telah terbiasa mandi. Aktivitas personal pada hari baru tak lepas dari mandi. Selain memberi kesegaran, juga membebaskan tubuh dari kesumukan dan kerisihan. Kesumukan dan kerisihan itu juga bisa menular ke orang lain, jika saya yang tak mandi berinteraksi dengan orang lain. Mandi menjadi kian penting bagi fungsi personal dan sosial tubuh. (lagi…)