Mar


Cerpen Teja Purnama

Mar geram. Ingin ia merobek-robek surat peringatan yang ditandatangani camat itu. Ia harus membongkar warungnya sendiri, kalau kalau tak mau dibongkar-paksa. Dan ini surat ketiga. Artinya, orang-orang yang mengaku pelayan masyarakat itu serius. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 27, 2008 at 4:48 pm Komentar (1)

Rekomendasi Tabung Gas

Catatan Teja Purnama

Kabar tak sedap merebak dari gedung DPRD Medan. Oknum Wakil Ketua DPRD, Zulfan, mengeluarkan rekomendasi yang ditujukan kepada Pertamina berisikan permintaan pembelian 3.000 tabung gas Elpiji. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 4:30 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Kemelut Dirut

Catatan Teja Purnama

Suhu di Komisi C DPRD Sumut memanas. Bukan karena rusaknya pendingin ruangan, bukan pula karena anggota dewan diharuskan mengenakan baju berlapis-lapis. Meningginya suhu itu akibat salah seorang anggota Komisi itu, Hidayatullah, menuding rekan-rekannya menerima aliran dana untuk memuluskan Gus Irawan menjadi Dirut PT Bank Sumut ketiga kalinya. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 20, 2008 at 4:37 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Trotoar Kota Kita

Catatan Teja Purnama
Tidak semua orang mempunyai kendaraan. Tidak semua pemilik kendaraan tak ingin menikmati jalan kaki. Mungkin karena itulah trotoar menjadi kebutuhan kota dan penghuninya. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 4:30 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Menonton “Tuan Kondektur” Teater Kartupat

Catatan Teja Purnama

Teater memang pekerjaan besar. Apalagi bagi sutradara yang rela bergumul dengan diri sendiri sebelum merekayasa kehidupan dan takdir para tokoh di atas panggung. Kehilangan sekaligus penemuan terjadi. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 13, 2008 at 3:35 pm Komentar (2)

Kaos Porman

Catatan Teja Purnama

Seandainya dapat bicara, kaos mungkin berkata, “Terima kasih Marlon Brando, James Dean… Kalian membuat dunia membuka mata padaku”. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 3:16 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Jumat

Cerpen Teja Purnama

Doa baru saja selesai. Ustad Badrin yang menjadi imam dan khatib sholat Jumat, baru akan berdiri menunaikan sembahyang sunat. Sebagian besar jamaah belum keluar dari masjid. Saat itulah Pria melangkah cepat menuju mimbar lalu menyambar mikropon. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 9, 2008 at 5:11 pm Komentar (3)

Najwa

Cerpen Teja Purnama

Gerbong berderak. Kereta api mulai bergerak. Aku pulang, Mak.

Suara-suara di stasiun menjelang keberangkatan menghilang. Berganti deru mesin, rintih rel tergilas, dan dengus gerbong.

Tak ada penumpang lain di sampingku. Juga di depanku. Bukan kupilih bangku ini. Tanya saja pada petugas loket. Tapi kalau pun ada pilihan lagi, tetap kupilih bangku ini. Aku ingin berdua denganmu menuju pulang menemuimu. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 4:38 pm Komentar (1)

pulang

Puisi Teja Purnama

depan rumahmu
cemas meremas rindu
pagar itu begitu ragu

bulu mata luruh satu
senja sunyikan tiang jemuran
sebentar lagi maghrib

barangkali kau berdoa setelah membaca alkitab
barangkali bantalmu basah airmata

aku pulang
ke masjid

(dipublikasikan di Harian Analisa)

Diterbitkan di:  on Juni 8, 2008 at 4:31 pm Tinggalkan sebuah Komentar

sajak

Puisi Teja Purnama

akhirnya

semua kata dianggap mimpi

lalu sepi

bulan dan kau berpagut mesra

sepakat menindas pedih jadi diri

menunggu-nunggu matari menindih bumi

(dipublikasikan di Harian Analisa)

Diterbitkan di:  on at 3:33 pm Tinggalkan sebuah Komentar