Cerpen Teja Purnama
Gerbong berderak. Kereta api mulai bergerak. Aku pulang, Mak.
Suara-suara di stasiun menjelang keberangkatan menghilang. Berganti deru mesin, rintih rel tergilas, dan dengus gerbong.
Tak ada penumpang lain di sampingku. Juga di depanku. Bukan kupilih bangku ini. Tanya saja pada petugas loket. Tapi kalau pun ada pilihan lagi, tetap kupilih bangku ini. Aku ingin berdua denganmu menuju pulang menemuimu.
Lihat, Mak! Kaca jendela mengalirkan senja. Deras. Sangat deras. Berbagai gambar di mata maupun kepala muncul silih berganti. Jalan perbatasan kota. Orang tergopoh-gopoh. Barisan sawit. Sisa lembayung. Bercak merah tilam tipis tanpa bersprei. Ladang. Cangkulmu. Ayah! Aih! Apa Najwa-mu ini harus pulang?
Memang harus ‘kan Mak? Bodoh aku takut! Dia bukan siapa-siapa lagi. Aku tak perlu lagi menjadi Wawa anak baik, Wawa anak patuh. Itu yang membuat vaginaku berdarah. Maaf, maaf, Mak. Ampun. Baru sekarang aku berani mengadu! Padahal sudah berkali-kali. Aku tidak mau menghitung berapa kali ia melemparkan aku ke neraka itu. Aku ingin lupa, Mak. Tapi bagaimana caranya?
Belum kabur kobar neraka itu di dada dan kepalaku, Mak. Seterang matahari pagi sepuluh tahun lalu. Cahayanya begitu bebas masuk ke perigi kita yang berpintu sarungmu. Apakah perigi kita masih tak beratap? Dulu aku gemar memandang cahaya matahari berpendar-pendar di air sumur. Pagi itu juga. Malah aku sempat ingin matahari tercemplung ke sumur. Mengambang. Basah membuat cahaya semakin berkilau. Lalu rumah kita yang tua kembali muda diterangi cahaya dari perigi.
Memang keinginan itu terpenuhi. Pagi itu matahari jatuh. Tapi bukan ke sumur. Bola api jatuh jadi neraka di dapur yang juga tempat kita makan bersama. Mungkin karena aku telah selesai dan keluar dari perigi dengan lilitan handukmu di tubuh. Mungkin karena ayah ada di dapur yang sekaligus tempat kita makan.
“Wawa sayang ayah ‘kan?”
“Pasti mau minta Wawa buatkan kopi,”
“Tidak. Sini. Dekat ayah,”
“Wawa udah mau telat sekolah,”
“Wawa tidak sayang ayah ya? Mentang-mentang ayah nggak meladang lagi,”
Entah kenapa aku kasihan. Kudekati ia dengan penasaran.
Masih kuingat hangat telapak tangannya di leherku yang tak tertutupi handukmu. Suaranya yang tersendat-sendat di leher juga masih terdengar.
“Jangan ikut Emak yang nggak sayang lagi pada Ayah,”
Leherku dibelainya. Itu bukan belaian seorang ayah. Itu belaian lelaki. Aku risih. Mau menjauh. Tapi ia memelukku. Kuat. Sangat kuat, Mak. Aku sadar apa yang terjadi. Aku meronta. Tapi pelukannya makin kuat.
Di mana kau pagi itu, Mak?
“Wawa sayang ayah ’kan? Wawa nggak mau jadi anak durhaka ‘kan?”
Ia menarik handukmu dari tubuhku. Cepat. Sangat cepat. Aku telanjang. Di depan Ayah. Tidak. Dia bukan Ayah. Dia jantan. Haus betina. Tapi kenapa harus aku yang jadi betinanya?
“Wawa jangan melawan Ayah,”
Jantan itu menggendongku ke kamarmu. Kekasarannya hilang. Hati-hati sekali ia meletakkan aku ke lantai beralas tilam tipis. Mungkin di atas tilam itu juga ia menyemburkan spermanya ke vaginamu. Tapi pasti, aku tak lupa, di atas tilam itu pula vaginaku berdarah, Mak.
“Wawa memang anak patuh. Ayah yakin Wawa sayang Ayah. Jangan bilang Emak ya, Nak. Nanti Emak marah,”
Aku hanya diam, Mak. Begitu tenang lelaki itu memakai sarungnya lagi. Tak kulihat Ayah padanya.
Aku tidak sekolah pagi itu. Perih kemaluanku. Lebih perih hatiku. Tapi aku memang bodoh. Tetap menurut ketika dia menyuruhku menghapus bercak darah di tilam? Seharusnya kubiarkan saja. Biar kau melihatnya. Dan aku tak perlu berulang kali jadi Wawa yang sayang Ayah. Wawa anak patuh.
Sayang dan patuhku pada Ayah adalah neraka. Aku jadi gemar membuat sorga. Sampai kini sorga-sorga itu ada di buku gambarku.
Kau pasti ingat? Aku pernah menggambar taman. Ada bunga-bunga mekar. Buah-buah segar yang tergantung rendah hampir menyentuh tanah. Di sana ada kita. Aku, kau, dan Ayah. Wajahmu teduh. Ayah teduh. Aku gembira. Ini salah satu sorga yang membuatku juara lukis tingkat SMP se-kabupaten.
Sampai sekarang sorga-sorga itu masih kurawat. Anakku, cucu sekaligus anak Ayah, sangat suka melihatnya. Kau pasti gemas melihat mata bulat anakku berbinar-binar memandangnya. Mungkin karena ia terlalu senang dengan sorga-sorga itu, Tuhan mengambilnya kembali dariku dan mengirimkannya ke sorga yang nyata. Ayah pasti senang. Dia tak ingin aku melahirkan cucumu. Dia memaksa aku makan tapai sebanyak-banyaknya. Dia beri aku jamu. Tapi tetap tumbuh daging dan nyawa di perutku. Hingga pada pagi celaka itu.
Dia mencekikku di dapur. Patuhku pecah. Sayangku hilang. Aku lawan dia. Kuraih gelas kopinya. Kupukul ke pelipisnya. Sekuat tenaga. Dia berdarah. Aku jadi ingat pada darah vaginaku yang membercak di tilam. Aku tidak melawan lagi. Aku marah. Kau dengar suara kereta api ini? Seperti itulah kemarahanku. Berulang-ulang kupukulkan gelas itu ke kepalanya dan ia pun terjatuh.
Aku lari. Kutinggalkan rumah. Kau dan jantan itu. Apakah sekarang aku masih berlari, Mak? Ya. Aku berlari, Mak. Tapi untuk menjumpaimu. Dan aku tidak perlu takut berjumpa dengannya.
Tunggu aku, Mak. Tidak sampai dua jam aku tiba. Jangan pernah izinkan mereka membawamu sebelum aku datang.
***
Seharusnya kau tidak perlu datang, Wawa. Kau membuat rumah ini asing. Dan aku kehilangan wajah di hadapanmu. Aku takut melihatmu. Bukan karena gelas yang membuat pelipisku cacat. Kedewasaanmu yang membuatku gentar.
Seharusnya sepuluh tahun lalu kuusir kau. Sebelum pagi itu laknat itu. Pasti tak kau bantah. Kau anak yang sayang ayah. Kau anak yang patuh.
Tapi sekarang, bagaimana caraku memintamu berlalu dari mataku. Aku tak sanggup memandangmu. Apalagi berbicara denganmu.
Apakah kau tidak mengerti ayahmu lagi? Dulu tak perlu kuminta, kau sudah mengerti apa yang kuinginkan. Aku hanya perlu masuk kamar dan memanggilmu dan kau pun jadi anak yang patuh. Aku hanya duduk di meja makan sore-sore, kau tahu aku ingin kopi.
Sekarang kau tak mau mengerti. Kau pasti tau aku tak sanggup berbicara denganmu. Tapi kau masih betah di sini.
Pulanglah ke kotamu. Takziah telah selesai. Jangan harap ada empat puluh hari. Sepuluh tahun lalu kau tinggalkan rumah ini miskin. Sekarang tambah miskin. Mungkin sebentar lagi rumah ini pun harus terjual. Aku tak sanggup lagi meladang, Wa.
Pergilah. Jangan siksa aku dengan kehadiranmu. Emakmu tenang tenang di kuburnya. Setenang rahasia yang kukubur di balik cacat pelipisku. Kau pasti tak tenang juga sekarang ‘kan? Cepatlah. Jangan termangu saja di dapur. Belajarlah untuk lupa.
***
Apakah pisau ini juga merindukanmu, Mak? Kau selalu merepet jika pisau kupakai mengukir namaku di pohon Mangga. Aih, Mak! Aku jadi ingin menggunakan pisaumu ini untuk melukis wajahmu di dadanya?
Dia ada di depan sekarang. Aku tinggal memangilnya. Berpura melupakan neraka yang dikobarkannya di dada dan kepalaku. Saat dia lengah, kutusukkan pisau ini ke lengannya. Dia pasti terkejut, Ma. Atau sudah pasrah? Terserah. Aku tak mau tahu. Kusumpal mulutnya dengan handuk yang kupakai pagi itu. Dan tentunya aku tak lekas puas menikam lengannya. Pisau juga kutusukkan juga ke pahanya. Pantatnya. Kuseret ke perigi kita. Di bawah bulan setengah penuh, di samping sumur, aku melukis wajahmu di dadanya. Tentu dengan pisaumu.
Mungkin, lukisan wajahmu itu yang terbaik dari ratusan yang telah kupamerkan, Mak. Betapa tidak! Aku berkarya dengan darah, daging, kulit, dan pisau dapurmu.
Kau marah kulakukan? Sedih? Mak, aku tak tahu perasaanku saat ini. Aku tahu kau sangat sayang padanya. Bukan pula seperti sayang dan patuhku padanya.
Kau merepetinya dengan sayang. Memakinya dengan sayang. Kalau tidak buat apa kau menguras tenaga di ladang Wak Haji? Itu demi dapur yang harus mengepul. Agar dia tetap bisa minum kopi dan merokok.
Aku harus bagaimana? Pulang meninggalkannya di rumah ini? Dia pasti sanggup hidup sendiri.
Mungkin itu lebih baik ya Mak? Penyesalannya semakin dalam jika aku berlama-lama di rumah ini. Tapi apa memang ia menyesal?
***
Angin ini bau Kamboja. Kau sedang apa di kuburmu? Kau tau, aku dan dan anakmu belum sepatah pun berbicara. Sudah lama dia mengubur diri di dapur. Haruskah aku memanggilnya dan segera memintanya pergi dari rumah ini? Lidahku kaku, Fat. Tolong suamimu ini
***
“Wa. Wawa, ”. Terucap juga. Nurdin tak menyangka sanggup memanggil dan mendekati anaknya ke dapur.
Seketika pisau jatuh dari tangan Najwa. Nurdin terkejut. Tapi hanya sekejap. Dikutipnya pisau itu. Disodorkannya kepada Najwa.
Najwa ragu. Ada wajah Emak di kerut-kerut kening Ayah. Dadanya berdebar. Ada yang berkobar. Senyum aneh mengembang di bibir Nurdin. Ia memaksa anaknya menerima pisau itu kembali, lalu berbalik dan berjalan lambat menuju ruang tamu. Najwa masih mematung memandang punggung ringkih itu. Tangannya masih menggenggam pisau.
(dipublikasikan di Harian Global)
ceitanya mirip dengan yang dipentaskan dulu ya… cuma perannya aja yang berbeda..
wahh…
samakah kenyataan yg kiTA lihat bg???
aQ suka cerpeny…
lbih suka yg satu ini dripda Jumat…