Catatan Teja Purnama
Teater memang pekerjaan besar. Apalagi bagi sutradara yang rela bergumul dengan diri sendiri sebelum merekayasa kehidupan dan takdir para tokoh di atas panggung. Kehilangan sekaligus penemuan terjadi. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan.
Pekerjaan besar ini meletihkan. Bukan tidak mungkin terbersit kecemburuan kepada penonton yang tinggal menyisihkan uang (itu pun kalau berlebih) untuk kursi di depan panggung yang menyuguhkan hiburan sekaligus berbagai makna kehidupan itu.
Kursi yang diperoleh dengan selembar tiket atau undangan memang memberi kekuasaan bagi penonton menilai pekerjaan besar itu. Tapi, kenyataan ini tidak perlu membuat sutradara dan seluruh awak panggung merasa kecil, apalagi sampai menjilat kekuasaan penonton. Soalnya, sutradara dan awaknya juga mempunyai kekuasaan atas panggung. Tinggal bagaimana mengolah dan menyiasati kekuasaan ini dalam berhadapan dengan kekuasaan penonton.
Pementasan-pementasan buruk sering terjadi akibat kegagapan penguasa panggung menghadapi kekuasaan penonton. Dua kenyataan yang sering terlihat dari setiap pementasan. Kegagapan ini bisa jadi karena kesemenaan penguasa panggung tanpa memperhitungkan dan memahami kekuasaan penonton. Bisa juga karena penghambaan kekuasaan panggung pada kekuasaan penonton.
Kegagapan inilah yang terlihat dalam pementasan Teater Kartupat pada penutupan Parade Teater Karang Taruna Sumut, 22 Desember malam di Gedung Tertutup Taman Budaya Sumut. Teater yang terbilang sudah dewasa ini membawa naskah Anton Chekov, “Tuan Kondektur”. Raswin Hasibuan sebagai sutradara memilih mengadaptasi karya Chekov ke alam Indonesia. Pemilihan adaptasi ini boleh jadi sebagai bentuk kekuasaan mencipta peristiwa di panggung. Sebuah siasat standar dalam menghadapi kekuasaan penonton. Mungkin Raswin ingin menciptakan kedekatan antara peristiwa di panggung dengan penonton. Letak kegagapannya, Raswin begitu kentara ingin menyenangkan, bahkan menjilat penonton. Parahnya, upaya menjilat ini ditujukan pada sebagian dari sekian banyak bagian tubuh penonton. Dan nafsu mencumbu diri sendiri melengkapi keparahan itu.
Alhasil, penonton mempertanyakan konteks apa yang mengizinkan disebut-sebutnya nama Ketua Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN) Sumut, Erwin Kampusi dalam dialog pemain. Jawabnya: tak ada konteks yang dirangkai. Hanya semacam penghambaan untuk memuaskan. Dan mungkin yang dijilat tak terangsang, tetapi malah merasa muak.
Sebetulnya, kalau Raswin mengoptimalkan kekuasaan atas panggung, naskah Anton Chekov sangat memungkinkannya untuk berhasil. Chekov memberi peluangan itu dengan begitu bersahaja, namun begitu total menampilkan kedalaman jiwa para tokoh dalam “Tuan Kondektur”.
Penulis naskah ini bercerita tentang seorang Nyonya pemilik biro jodoh dalam menjalankan hidup dan usahanya, Nyonya didampingi pelayan yang secara tak sadar sering menyentil perasaan tersembunyi majikannya. Salah satunya, adalah kerinduan Nyonya mendapatkan pasangan hidup. Di tengah rutinitas hidup Nyonya dan Pelayan, hadir Tuan Kondektur yang mengaku butuh bantuan Nyonya mendapat jodoh, lalu mencuri uang dan menyatakan cinta pada Nyonya.
Dalam adaptasinya, Raswin menciptakan karakter Batak pada Tuan Kondektur yang dimainkan dengan baik oleh Sabarto. Sedang pada peran Nyonya atau Zulaiha yang dimainkan Dessy dan Pelayan oleh Yoyok diberi karakter Jawa. Sayangnya, pertemuan kedua karakter yang kontras ini tak begitu menggigit dalam setiap permainan. Bisa jadi karena Raswin sendiri tak mengenal Chekov yang selalu menonjolkan suasana hati dari pemain yang memerankan satu tokoh. Dalam diri tokoh yang diciptakan Chekov ada pergulatan yang begitu hebat dan sengit. Namun Chekov selalu bisa mengendalikan tokohnya agar tidak menyampaikan suasana hati dengan emosi meletup-letup. Namun, tanpa emosi yang meletup, penikmat dapat mengetahui terdapat sesuatu pergolakan dalam diri tokoh.
Dalam cerpen maupun dramanya, suami dari aktris “Teater Seni Moskow” Olga Knipper ini, selalu mengaksentuasikan keadaan hati tokoh dan suasana. Dialog-dialog tokoh selalu terlontar sebagai mutiara yang telah mengendap lama di hati. Dengan demikian dialog dan laku tokoh dapat menyingkap selimut kehidupan yang tak berbatas dan membawa penikmat menyelusuri relung-relung jiwa manusia yang hidup dalam diri seorang tokoh.
Dipandang sekilas, memang Chekov teramat gampang digarap. Apalagi “Tuan Kondektur” ini terbilang pendek, sehingga mengesankan tidak memerlukan stamina prima. Namun sesungguhnya, naskah ini sangat membutuhkan stamina yang cukup tinggi, terutama dalam mengolah emosi, pikiran, dan motif dari tokoh-tokoh.
Pada beberapa bagian dalam pementasan Raswin, pemain baik Sabarto maupun Dessy dapat menangkap jiwa Chekov. Zulaiha yang berusaha namun tidak berhasil menyembunyikan rasa cintanya, Tuan Kondektur yang penuh percaya diri mencuri dan mengaku, pelayan lugu dan setia, tampak berusaha menjadi manusia dalam peristiwa teater itu. Ketiganya berupaya meyakini peran yang diembannya. Keyakinan itu ada dalam genggaman, walau terkadang terjatuh dan dikutip lagi.
Terlepas dari kebolehan aktornya, Raswin perlu mengingat, hubungan kejiwaan antartokoh dalam setiap naskah Chekov merupakan salah satu keseluruhan yang bulat. Keseluruhan yang utuh ini dapat diolah untuk memuaskan segenap intelektualitas penonton.
Dialog tokoh yang lahir dari suasana hati yang terkadang saling menguatkan bahkan bermusuhan, merupakan satu kesatuan dati sebuah adegan kehidupan setiap tokoh.
Kesatuan dari berbagai dialog ini sebenarnya dapat membuka peluang penafsiran ke ruang wacana. Ketika pintu wacana ini terbuka, sutradara masuk dan menghayati setiap inci dari ruang itu. Penghayatan ini akan melahirkan sebuah pegangan bagi pemain dalam menghidupkan perannya.
Dengan demikian, motivasi dalam setiap laku selalu ada. Sayangnya, mereka kehilangan motivasi yang seharusnya menjadi perhatian Raswin selaku sutradara. Terjadilah gangguan. Ini dapat terlihat ketika Zulaiha tanpa alasan beranjak dari obrolan meninggalkan dompetnya dan Tuan Kondektur.
Dan tanpa didahului proses sebelumnya, Tuan Kondektur mencuri uang dalam dompet Zulaiha. Ketidakwajaran kembali terjadi saat Zulaiha kembali ke meja obrolan dan tanpa motivasi memeriksa dompetnya lalu merasa kehilangan.
Sebetulnya, jika Raswin cerdas, ia dapat menciptakan motivasi bagi Zulaiha untuk beranjak sebentar dari obrolan. Dengan kecerdasan dan kepercayaan diri, bisa pula diciptakan motivasi bagi Zulaiha untuk membuka dompetnya dan kaget mengetahui uang di dalamnya sudah tak ada lagi. Sayangnya, kecerdasan ini tak ditunjukkan Raswin. Alhasil, ejekan dan tertawa bergema, meski tak keluar dari mulut.
Ejekan dan tertawaan ini sebenarnya dapat dihindari. Teater Kartupat mempunyai sumberdaya anggota yag relatif kuat. Beberapa anggota Kartupat yang turut dalam pementasan di luar garapan Raswin berhasil cukup baik. Contohnya Sabarto dan Siska yang begitu baik bermain dalam garapan Porman Wilson “Maling Menuntut Keadilan” dan “Mentang-Mentang dari New York” yang diproduksi Kampusi Promo. Lantas, di Teater Kartupat juga berdiri Winarto yang lihai bermusik dan berseni rupa. Dan tak dapat dipungkiri, Kartupat juga mempunyai anggota yang cukup disiplin.
Jadi apalagi yang membuat pementasan Teater Kartupat malam itu jauh dari harapan? Entahlah! Mungkin karena Raswin terlalu lelah dihadapkan pada dua pekerjaan, yakni menggarap sekaligus ketua panitia Parade Teater Karang Taruna Sumut.
Mungkin juga sudah saatnya Raswin istirahat dulu lalu membaca dan memahami kekuasaan penonton yang lahir dari selembar tiket atau undangan.
(dipublikasikan di Harian Global)
kalau punya naskah wek-wek boleh kami minta?
selamat berjuang