Cerpen Teja Purnama
Mar geram. Ingin ia merobek-robek surat peringatan yang ditandatangani camat itu. Ia harus membongkar warungnya sendiri, kalau kalau tak mau dibongkar-paksa. Dan ini surat ketiga. Artinya, orang-orang yang mengaku pelayan masyarakat itu serius.
Mereka ingin mengusirku dari pinggiran jalan ini, batin Mar. Mereka punya senjata mewujudkannya. Peraturan daerah. Tapi, kenapa baru sekarang peraturan itu dijalankan? Kok tidak dari dulu? Apa arti uang keamanan dan kebersihan yang harus kubayar setiap hari kepada kepala lingkungan?
Janda berumur 37 tahun itu menarik nafas. Panjang. Seperti mencari kekuatan dan melapangkan pengap di dada. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini tarikan nafas semacam itu selalu gagal.
Masih ada yang menyesak di dada. Entah apa. Mungkin angin yang mengendap, karena harus berjaga semalaman di warung kopi. Mungkin beban hidup ini yang terlalu menghimpit. Atau keduanya?
Mar tidak tahu, juga tidak mau tahu. Dia malas merasakannya, apalagi memikirkannya. Untuk makan dan menyekolahkan anaknya, Fatimah, sudah banyak pikiran dan perasaan yang terkuras. Belum lagi soal surat peringatan camat ini. Jadi untuk apa disibukkan dada yang sesak. Itu hanya buang-buang waktu dan membuat dada makin tersumbat.
Ia mendesah. Surat peringatan dimasukkan ke laci warung yang beroda dua itu. Selintas dilihatnya uang dalam laci. Tidak sampai sepuluh ribu perak. Inilah yang ia dapat sejak membuka warung sore tadi sampai dua jam setelah ‘Isya ini. Cepat-cepat ditutupnya laci itu. Kuat. Menyentak. Seperti ingin membentak sekaligus mengakhiri cerita cemas yang melonjak-lonjak di antara kata-kata dalam surat dingin tanpa perasaan itu. Tidak berhasil. Kecemasan demi kecemasan meremas hati. Biaya sewa rumah yang harus dibayar dua bulan lagi. Hutang. Rekening air. Listrik. Beras. Tetapi yang paling menggelisahkan biaya sekolah Fatimah.
Mendadak tubuhnya lemas. Ia terduduk di kursi plastik yang terletak tepat di depan laci kereta sorong yang disulap menjadi warung itu. Wajah anaknya melintas di benak. Sudah tiga bulan Mar tidak membayar uang sekolah Fatimah. Ia pura-pura lupa. Ingin rasanya ia meminta pengertian Fatimah. Tapi malu. Ia tidak ingin Fatimah menilainya sebagai ibu yang tidak bertanggung-jawab. Mar harus kuat di mata anaknya. Dan ia memang merasa kuat menghadapi hidup ini. Ia melewati rintangan apa pun asal Fatimah dapat menyelesaikan sekolah, minimal SMA. Setelah itu, Fatimah bisa diterima bekerja. Di mana pun. Yang penting halal. Di swalayan, pabrik, syukur kalau bisa jadi PNS.
Mar sangat paham, itu semua baru bisa mungkin kalau Fatimah pintar. Karena itu, Fatimah harus sekolah. Tidak seperti dirinya yang hanya tamat SMP. Pemikiran inilah yang membuatnya tidak pernah merasa capek mencari uang, walau harus berjaga semalaman. Mar jadi bisa dan terbiasa menahan emosi. Ia sanggup memendam marah saat Bono, si tukang becak itu pura-pura tidak sengaja menyentuh dadanya dengan siku. Mar juga selalu berusaha ramah melayani setiap rayuan dari pembeli. Ia harus bisa menjaga pelanggan. Jangan sampai mereka sakit hati atau malu duduk di warungnya lagi. Uang dari kantong mereka juga yang digunakannya untuk menyekolahkan Fatimah.
Lagi-lagi dia menarik nafas panjang. Lagi-lagi dadanya tak juga terasa lapang. Mar mengalihkan pandangan ke jalan. Dia membayangkan setiap orang yang melintas singgah di warung, berganti-gantian mengisi kekosongan bangku panjang dan kursi plastik warung.
Ke mana langgananku malam ini? Ia bertanya-tanya dalam hati. Sudah seminggu warung sepi. Sudah tidak enakkah kopiku? Tak enak lagikah mi gorengku? Bahkan, Koceng yang sehari-hari jadi tukang tulis togel juga tak ada. Apa dia pindah ke warung Tengku?
Mar tersentak. Titik gerimis jatuh di lengan. Ia segera berlindung di bawah atap warung. Cemas berbaur sedih. Udara malam tambah dingin.
Sudah tidurkah Fatimah malam ini? Atau masih mengerjakan tugas sekolah? Atau belum tidur karena memikirkan uang sekolahnya? Mar tidak tahu. Ia percaya anaknya sangat mengerti dengan keadaan keluarga. Buktinya, walau ia pura-pura lupa memberi uang sekolah, Fatimah tidak pernah memintanya.
Seperti tadi pagi, anak itu sama sekali tidak menyinggung soal uang sekolah. Padahal jantungnya sudah berdegup kencang saat Fatimah masuk ke kamarnya.
“Mak, Fat pergi sekolah ya. Nanti pulang agak malam. Mau belajar komputer di rumah Neneng. Mak pergi saja berjualan. Jangan tunggu Fat,” ucap Fatimah.
Mar yang saat itu baru berbaring di kamar pura-pura tidur. Ia diam. Nafas diatur nafas agar nampak sudah pulas. Mar sengaja begitu, supaya tidak melihat wajah Fatimah. Sesaat kemudian, Fatimah pergi. Pelan sekali anak itu menutup pintu kamar. Ini membuatnya tambah sedih. Ia merasa Fatimah begitu takut membuatnya terbangun.
Setelah Fatimah pergi, Mar ingin bangkit dan mencuci. Namun kantuk begitu hebat. Diputuskannya tidur. Menjelang sore Mar terbangun. Yang pertama ia ingat saat itu adalah nasi. Bukan karena lapar. Ia sudah makan tadi pagi sebelum tidur sampai sisa nasi tadi malam habis. Sedangkan ia lupa memasak nasi lagi sebelum tidur.
Mar pun beranjak ke dapur mengambil beras. Lalu masuk kamar mandi, mencuci beras setelah membasuh wajahnya dengan air. Ia ingin begitu Fatimah sampai di rumah, nasi sudah masak. Anak itu bisa makan walau hanya dengan mi intstan rebus dan telur ayam buras.
“Serius betul si Fat belajar komputer? Tapi baguslah itu. Biar nanti kalau sudah tamat sekolah bisa kerja di kantor,” ucap Mar dalam hati sambil mendekati kompor dengan membawa beras yang sudah dicuci.
Kemudian ia mengambil korek api pinggiran kompor dan menghidupkannya. Tidak dilihatnya liidi yang sudah dua hari ini dipakainya untuk menyalakan sumbu kompor. Dimasukkannya saja anak korek api itu ke tempat sumbu. Berhasil. Satu sumbu terbakar. Ia sedikit membungkuk sambil mengembuskan udara dari mulutnya agar api menjalar ke sumbur lain. Ops! Hembusan terlalu kuat. Api menyambar. Spontan Mar menghindar. Tapi terlambat. Ia mencium bau hangus. Api kompor telah menyentuh ujung rambutnya. “Belum lagi masak nasi, sudah ada yang hangus,” ucap Mar tak sadar.
Sampai pukul setengah enam sore, Fatimah belum juga pulang. Mar sudah mandi. Nasi yang dimasak tadi tidak lagi panas. Ia tidak bisa menunggu lagi. Warung harus segera dibuka.
“Hei!” kejut Bono membuat jantung Mar berdebar. “Jangan melamun aja! Buatkan dulu aku kopi susu. Yang kental ya!”
Mar berusaha menenangkan diri. Juga berupaya melupakan apakah anaknya sudah tidur atau belum.
“Banyak uang ya! Biasa kopi aja, nggak pake susu!” kata Mar sambil mengerjakan pesanan Bono.
“Ya, memang lagi banyak uang. Untuk melamar kau juga bisa,” balas Bono.
Mar terdiam. Ia teringat Torik, mendiang suaminya. Kalau saja Torik masih hidup dan mendengar godaan ini, pasti Bono babak belur.
“Maaf, Mar. Aku main-main kok,”. Bono seperti mengerti pikiran Mar.
“Nggak apa-apa. Aku juga mau dilamar kok!” canda Mar untuk menghindari suasana tidak enak sambil menyajikan kopi susu ke meja Bono.
“Betul nih?” tanya Bono tak mau kalah bercanda.
“Betul!” tantang Mar.
Bono melihat kanan – kiri. Dia bangkit. Lengannya dibuka lebar-lebar. Dia ingin memeluk Mar. Janda itu sama sekali tidak menghindar. Biasa saja. Ia malah duduk di samping Bono. Mar tahu, Bono hanya main-main. Bono tidak akan berani selangsung itu. Kalau pun ingin, ia pasti ‘mencuri-curi’. Misalnya menyenggol dadanya dengan pura-pura tak sengaja.
“Ngomong-ngomong kau memang lagi banyak uang, No?” tanya Mar serius.
Bono mengangguk sambil mengaduk-aduk kopi susu. “Kenapa rupanya?”
“Boleh aku hutang…”. Sebetulnya ini yang hendak diucapkan Mar. Tapi janda itu tidak sanggup mengatakannya. Ia malu.
“Ada apa?,” tanya Bono penasaran.
“Nggak apa-apa,” jawab Mar.
“Jadi cara nanyanya kok serius kali?,”
“Aku mau tau kau dapat objek apa tadi,”
“Kena togel tadi sore. Dua angka. Baru tadi kuambil duitnya sama si Koceng,”
“Koceng? Di mana dia?”
“Warung Tengku,”
“Ooo..”
Mar berusaha bersikap wajar. Tapi hatinya mengeluh. “Berkurang lagi langgananku. Berkurang lagi penghasilanku. Bagaimana kulunasi uang sekolahmu, Fat. Aduh, anakku, sudah tidurkah kau?”
Bono menghabiskan sisa kopi susunya. Bangkit dan meletakkan uang pecahan lima ribu di hadapan Mar. “Udah nggak usah kasih baliknya,” ucapnya. Tapi baru beberapa langkah keluar dari warung, Bono berbalik, “Jaga-jaga, Mar. Katanya mau ada penggusuran,”
Mar tersenyum getir. Ada yang menusuk hatinya. Udara makin dingin. Gerimis masih menyanyi, seperti sebuah tangis lirih di hatinya. Angin melempar bungkus mi instan ke parit yang tak lagi berair. “Fat, sabar ya sayang. Orang sabar kasihan Tuhan. Tabah. Biar kau jadi orang kaya,” harap hatinya.
Entah siapa yang mendengar harapan itu. Mungin angin dan membawanya mengitari kota. Melewati plaza-plaza yang sudah tutup. Lampu dan taman kota yang menghabiskan uang berpuluh milyar. Mempermainkan rambut seorang waria yang menunggu tamu di samping sebuah gedung kesenian. Menyelusup ke lubang angin kamar sebuah hotel berbintang lima.
Derit rem sebuah truk menjerit beberapa meter dari warung kopi Mar. Segerombolan polisi pamong praja melompat ke tanah. Mereka membawa palu dan kayu. Langkahnya berderap bagi monster yang lapar, yang sudah seminggu tidak makan. Mereka semakin dekat. Tapi Mar hanya terdiam. Ia membeku.
“Tak ada yang bisa mengusirku dari sini. Aku harus tetap berjualan. Fatimah harus tetap sekolah,” kata hati Mar.
“Maaf, bu. Ini surat perintah penertiban. Kami hanya menjalani tugas,” ucap seseorang berbadan tinggi tegap.
Mar tidak menjawab. Bergeming.
“Tolong menjauh, bu. Warung ini kami bawa ke kantor polisi pamong praja dulu. Besok pagi baru bisa ibu urus,”
“Besok pagi?” tanya Mar, tapi hanya dalam hati. “Besok pagi Fatimahku harus bayar uang sekolah. Siang hari ia harus belajar komputer. Malam hari ia harus belajar tanpa kutemani,”
Mar tak bergeming. Orang-orang, Bono, hanya bisa memandang. Tidak dapat membantu.
Para monster itu tak sabar. Dengan kasar mereka mendorong warung Mar mendekati truk.
“Jangan! Jangan!” teriak Mar.
Para monster itu tak peduli. Piring, gelas berjatuhan. Gula, kopi, bertaburan. Sebagian memegangi Mar yang meronta-ronta. Sebagian lagi menarik warung sederhana itu dan mendorongnya ke atas truk.
“Satu, dua, ti…ga!” seru satu monster mengomandoi pengangkatan warung Mar ke dalam truk.
Angin semakin kencang. Tetapi kini Mar kepanasan. Peluh membasahi dahi, ketiak, dan tengkuknya.
“Satu, dua, ti…ga!”.
Warung itu semakin dekat ke truk.
Angin masih kencang.
Mar kepanasan. Tapi, ia hanya diam membeku membayangkan Fatimah sedang bermimpi membayar uang sekolah.
Memang, memang saat itu Fatimah sedang bermimpi. Tapi tidak tidur. Ia kepanasan. Peluh membasahi leher jenjangnya. Leher itu menjadi begitu indah disiram cahaya lampu dalam KTV sebuah karouke.
Anak itu sedang bermimpi. Tapi tidak tidur. Ia menari sambil berpelukan dengan seorang lelaki separuh baya. Mereka berjingkrak-jingkrak bersama dentam musik.
Lelaki separuh baya itu menarik Fatimah ke dalam toilet.
Mar masih diam membeku membayangkan Fatimah sedang mimpi membayar uang sekolah.
“Satu, dua, ti..ga! Yaaa!” Monster-monster semakin menggila.
“Yaaaaah…” desah lelaki separuh baya di dalam toilet KTV sebuah karouke.
Warung Mar telah berada di atas truk.
(dipublikasikan di Harian Analisa)
teja, salam kawan. blog adalah jendela baru. aku membacamu kini
budi p hatees
Bang Teja. Mantap! jejak di dunia maya yang maha luasnya… “Mar” Greget kali bah!!
salam-tempel-eh BAHAGIA!