Setelah Sholat

Puisi Teja Purnama

kamu mengeluh lagi

meragukan jarak bersama

pernah kamu benar-benar meninggalkanKu

tapi Kutau sesekali kau benar-benar menangis merinduKu

pernah juga kamu begitu rajin menemuiKu

seperti takut kehilangan waktu

bahkan tak ragu, tak malu

walau usai melupakanKu

kini

kamu tak tau lagi

Kita makin dekat

atau jauh

(dipublikasikan di Harian Global)

Diterbitkan di:  on Juli 20, 2008 at 10:58 am Komentar (4)

Maut Ahmad Suraji

Catatan Teja Purnama

Kematian sebuah kepastian. Semua mahluk hidup harus menjalaninya, termasuk Ahmad Suraji, terpidana mati kasus pembunuhan 42 perempuan di Perkebunan Tebu PTPN II Sei Semayang, Dusun Aman Damai, Deliserdang.

Sebagaimana manusia lain, Ahmad Suraji yang lebih populer sebagai Dukun AS itu juga berusaha membela nyawanya yang telah divonis mati oleh pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam pada 27 April 1997. Dia mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Medan, namun tetap divonis mati pada 27 Juni 1998. Tak putus asa, LBH Medan selaku kuasa hukum Suradji mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Hasilnya, MA tetap memvonis mati Suradji dengan putusan MA Nomor :1076/K/Pid/ 1998 tertanggal 22 September 2000. Kemudian, Suraji memohon Peninjauan Kembali (PK) kepada MA. Namun, MA menolak PK tersebut sesuai dengan putusan nomor :34/PK/Pid/2002 tertanggal 28 Mei 2003. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juli 14, 2008 at 2:40 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Sebenarnya Saya Ingin Memuisi Kamu, Pak Presiden

Catatan Teja Purnama

Dengan apalah kulukiskan kamu? Kita tak dekat, juga tak jauh, walau saling kenal. Atau kulukiskan saja kamu dengan laut yang selalu merekam bisik gelombang di pantai? Atau mungkin lebih baik dengan pisau mendurhaka luka? Barangkali bisa juga dengan doa kemilau seekor semut di hutan paling kelam? Entahlah. Kata-kata hanya bisa menggedor-gedor dada, tak mengalir ke jemari saat berusaha memuisi kamu. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 2:36 pm Tinggalkan sebuah Komentar