Percintaan Bahasa dan Sastra

Catatan Teja Purnama

Sepasang kekasih, bercinta dalam segala cuaca. Rindu yang sendu, remasan cemas, rayuan sangsi, dan berbagai rasa mewarnai percintaan. Merekalah bahasa dan sastra. Sebuah asmara yang tak padam walau malam membenam matahari.

Dalam kehidupan yang selalu berkembang ini, bahasa senantiasa terbuka dan menyediakan diri pada setiap ekspresi sastra. Sastra pun kerap menyuburkan benih di rahim bahasa. Tak jarang kata yang lama terbenam dalam kenangan, kembali lahir memecahkan kebuntuan dalam proses transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak. Hasilnya, perbedaharaan kata menjadi kaya.

Percintaan ini mematahkan pertanyaan ketika sebuah lembaga bernama Balai Bahasa Medan memandang bahasa dan sastra sama pentingnya dalam kehidupan sebuah bangsa. Tanpa bahasa dan sastra, sebuah bangsa tak mempunyai perekat dan identitas dalam kemajemukannya.

Sikap ini jelas terlihat dalam visi Balai Bahasa Medan yang ingin menjadikan bahasa dan sastra sebagai wahana untuk bekerja sama dan sebagai perekat dalam membangun kehidupan yang disemangati rasa solidaritas dan kesetaraan dalam masyarakat yang majemuk. Visi ini diwujudkan dalam misi meningkatkan mutu bahasa dan sastra, sikap positif masyarakat, mengembangkan bahan informasi, dan kerja sama. Intinya, lembaga ini berkepentingan terhadap pembinaan maupun pengembangan bahasa dan sastra.

Secara teknis dan administrasi, Balai Bahasa Medan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dibina dan bertanggungjawab kepada Pusat Bahasa. Tentu ada garis-garis yang harus dipatuhi. Tentu pula, Pusat Bahasa yang berdiri sejak 1947 ini memberi ruang kebebasan bagi Balai Bahasa Medan dalam menerapkan misi yang telah ditentukan. Soalnya, pendekatan yang digunakan dalam menjalankan misi tentu disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah.

Tidak sesuai dengan namanya, Balai Bahasa Medan mempunyai tanggung jawab pembinaan serta pengembangan bahasa dan sastra Indonesia di Sumut. Ini bukan tugas yang ringan. Apalagi provinsi ini mempunyai kemajemukan yang begitu tinggi. Beragam bahasa daerah, adat, budaya, dan agama menjadi tantangan tersendiri. Tantangan ini semakin tajam dengan kian garangnya globalisasi merasuk berbagai sendi kehidupan. Diksi asing menjadi penjajah baru yang menyelusup di media massa, papan iklan di ruang-ruang umum. Bahkan ada juga karya sastra tak luput bermain-main dengannya.
Sepintas, kenyataan ini memprihatinkan. Tak dapat dipungkiri, bahasa Indonesia telah menjadi perekat dalam proses berbangsa. Fungsi pemersatu menjadi begitu menonjol di sini. Nasionalisme kian murung.
Tapi tunggu dulu! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Selain sebagai pemersatu, bahasa juga mempunyai fungsi komunikatif. Kemajuan zaman memaksa fungsi komunikatif bahasa juga berkembang. Perkembangan ini tidak lepas dari akumulasi perkembangan pengalaman dan pemikiran manusia sebagai pengguna bahasa.

Fungsi komunikatif bahasa ini tidak dapat dimusnahkan begitu saja, karena sudah melekat sejak seorang manusia lahir ke bumi. Tak ada jalan lain kecuali terus mengembangkannya, namun dengan sadar dan waspada. Selain untuk menjaga menjaga fungsi pemersatu dari bahasa Indonesia, kesadaran dan kewaspadaan itu diperlukan dalam menemukan peluang pembentukan kata-kata baru yang diserap dari bahasa daerah maupun asing.

Saringan Sastra

Pembentukan kata-kata baru ini dapat dilakukan seluruh lapisan masyarakat yang bergelut dalam berbagai bidang kehidupan. Tanpa disadari mereka yang hidup dengan fungsi komunikatif bahasa senantiasa membentuk kata-kata baru. Kata-kata yang belum diakui sebagai bahasa Indonesia itu dianggap memenuhi kebutuhan dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan, dan sikap yang lahir dari pengalaman, baik langsung maupun tidak langsung.

Pengalaman manusia dan kemanusiaan inilah yang diolah sastrawan dalam berkarya. Sastrawan menangkap pengalaman-pengalaman itu dan memilihnya untuk dituangkan ke dalam karyanya. Pemilihan itu dilakukan secara personal, namun menghasilkan sesuatu yang universal karena berawal dari pengalaman manusia dan kemanusiaan.

Keintiman pun terjalin antara karya sastra dengan pengalaman manusia dan kemanusiaan. Tidak jarang pula, muncul diksi-diksi yang jarang dikenal, namun bagi sebagian orang yang mempunyai pengalaman tertentu sangat dikenali. Apalagi diksi itu memang telah melalui saringan imajinasi dan perenungan seorang sastrawan.

Para pemegang kebijakan bahasa dan sastra di Indonesia tidak perlu buru-buru mengambil sikap. Biarkan saja diksi itu berproses secara alami. Ketika semua orang telah merasa memilikinya, di saat itulah diksi yang semula tidak dianggap itu diangkat menjadi salah satu perbendaharaan bahasa Indonesia.


Pembinaan, Pengembangan, Kerja Sama

Kelahiran karya sastra yang dapat mendorong pembentukan kata-kata baru ini seyogianya mendapat perhatian dari Balai Bahasa Medan. Konsistensi membina dan mengembangkan sastra harus terus terjaga dengan intens.

Pembinaan tidak saja dilakukan kepada sastrawan, tetapi juga kepada penikmat karya sastra. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan kegairahan di kalangan sastrawan dan meningkatkan apresiasi penikmat. Beda dengan pembinaan, pengembangan memusatkan perhatian kepada peningkatan mutu karya.

Untuk itu, Balai Bahasa Medan perlu menjalin kerja sama yang sinergis dengan berbagai pihak, di antaranya seniman, sanggar seni, dinas pendidikan provinsi/kota/kabupaten, sekolah, guru, dan berbagai instansi lainnya. Tanpa itu, jangan diharapkan pembinaan dan pengembangan sastra berjalan baik.

Kerja sama dapat terjalin jika kedua belah pihak saling mempercayai. Kepercayaan tercapai setelah keduanya saling mengenal. Pertanyaannya, sudahkah Balai Bahasa Medan menjadi lembaga yang diperhitungkan sehingga layak dikenal?

Semua terpulang pada niat yang telah terpahat perbuatan.

Diterbitkan di:  on Agustus 4, 2008 at 3:08 pm Tinggalkan sebuah Komentar

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://tejamu.wordpress.com/2008/08/04/percintaan-bahasa-dan-sastra/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Leave a Comment