Puisi Teja Purnama
Handuk selalu mencintaimu.
Selalu bersedia menerima ketelanjangan
yang kau sembunyikan di balik kain biru.
Siapa pun kau, ia tak pernah menghindar.
Dengan tulus mengikuti usapan sepanjang tubuh basah.
Tak ia persoalkan pula kebasahan itu.
Biar dari hujan malam-malam
dari air bak yang lama tak dikuras
atau sumur tua dan berjamur.
Tak ada benci dan dendamnya
walau matahari kembali menyengat kerelaan.
Ia rela mengembangkan dada
menerima cucuran peluh gelisah hitam
yang jadi belati menekan lehermu
atau peluh yang mengkilapkan lenganmu
usai merubah letak kursi
dan memasang potret keluarga
di ruang tamu atau peluh mengering
sekeluarnya engkau dari kamar pelacur.
Betapa dalam cintanya.
Benarlah engkau jika tidak pernah berpikir amarahnya
saat kau jadikan lap dapur yang kotor.
Handuk selalu mencintaimu.
Selalu setia dari satu cuaca ke cuaca lain.
Sampai ia menipis dan lapuk
sampai usapan duka di dadamu
yang dingin
dan tak lagi bersuara.
(telah dipublikasikan di Harian Global)