Jangan Kasihani Iblis!

Kenapa kita harus kasihan pada Iblis? Pertanyaan ini saya lontarkan di dinding facebook awal April. Berbagai komentar muncul. Sayangnya, tak ada yang mempertanyakan pertanyaan saya atau menyamakannya dengan pernyataan: Iblis tak perlu dikasihani walau sepanjang hidupnya tragedi.

Kisah Iblis memang penuh tragedi. Sejak ia menolak tunduk kepada Adam, makhluk yang selama ratusan tahun hanya mengabdi kepada Allah harus menanggung kutuk dengan kesombongan yang menggelikan sekaligus mengerikan: meminta waktu sampai kiamat untuk menggoda anak cucu Adam. Menariknya, Sang Pencipta dengan kemahatahuan-Nya malah mengabulkan permintaan itu. Sejak itulah perang panjang antara Manusia dan Iblis berlangsung.

Perang panjang ini melahirkan berbagai penafsiran maupun penghayatan. Tidak sedikit seniman menjadikan proses penciptaan manusia yang menjungkalkan Iblis ke jurang kutuk tak berdasar ini sebagai pemantik kreativitas. Pengarang kenamaan, Da’ud ibnu Ibrahim Al Shawni salahsatunya. Dalam novelnya “The Madness of God”, Shawni dengan gaya unik dan tetap berpijak kepada Al quran menghadirkan kelihaian Iblis dalam memainkan logika dan perasaan manusia. Di antaranya menganggap diri martir bagi takdir manusia. Alasannya, semua pilihan adalah milik-Nya dan ia tidak kuasa menolak keinginan kekasih-Nya untuk memberi kesempatan kepada manusia memahami kekuasaan Penciptanya.

Sastrawan muda Indonesia, Hasan Al Banna juga tergoda memahami “permainan” logika dan perasaan yang dilancarkan Iblis dalam perang panjang ini. Ia menulis monolog “Cublis” dan memainkannya di Gedung Taman Budaya Sumatera Utara, 16 Mei 2009 lalu. Terlepas dari kegugupan teknikal, pementasan monolog perdana Hasan ini layak mendapat perhatian. Dengan kecerdasan artistiknya, Hasan dibantu Raudah Jambak, berusaha mempresentasikan tema berat secara ringan dan komunikatif. Ada keinginan menghibur sekaligus menabur manfaat.

Dalam monolog berdurasi kurang dari satu jam itu, Cublis, seorang cucu Iblis, berusaha menguras iba penonton sekaligus menghujat manusia. Pembelaan Cublis terhadap kaumnya juga dimanfaatkan Hasan menyoroti kemerosotan iman manusia.

Cublis yang baru saja merayakan ulang tahun itu menggugat manusia yang selalu menempatkan kaumnya pada posisi bersalah. Segala yang buruk selalu dikaitkan dengan Iblis, bahkan sampai noda biru legam yang mendadak muncul di paha manusia. Perempuan baik diperkosa, Iblislah pelakunya. Seorang anak menghajar Ibu kandungnya sendiri, itu Iblis. Uang negara lenyap, Iblis. Ada Ayah menanam benih ke perut putrinya sendiri, sehingga ia pun menjadi Ayah sekaligus Kakek bagi bayinya, itu Iblis. Perang pecah, orang mati sia-sia, Iblislah terdakwa.

“Memang, memang terus terang, kamilah yang habis-habisan mengoda Habil agar membunuh saudaranya Kabil. Tapi ingat, ingat, catat, dan tulis, dan cetak dengan huruf besar di suratkabar terbitan besok, bahwa kami para Iblis tidak pernah menyuruh manusia memenggal-memenggal tubuh sesamanya, merajang, dan merebusnya sampai putih, sampai hancur seperti bubur sumsum, lalu menelantarkannya di bak sampah sebagai persembahan bagi kawanan lalat,” ungkap Cublis tersendat-sendat dalam karakter yang cenderung kekanakan di panggung yang dipenuhi balon, terompet, boneka, dan kotak dan sampul kado itu.
Dalam adegan itu, Cublis berusaha menyerang keimanan penonton. Bahkan tanpa beban ia berusaha menanggalkan manusia dari diri penonton.

“Maaf, aku terlalu berlebihan… Entah manusia mana tadi yang bertengger di telingaku…. Untuk apa aku marah pada kalian. Toh kalian bukan manusia. Sesama kaum yang bukan manusia dilarang saling menghina,” ucap Cublis yang dalam aksinya juga mempertontonkan bagaimana sang manusia, Tuan Bustaman memaksanya meniduri seorang pelacur.

Serangan itu semakin diperkuat dengan kehadiran Atok Iblis. Di sini keterampilan Hasan membedakan karakter setiap tokoh mengemuka. Iblis renta berpenyakitan menghardik Cublis yang menghuj at manusia. Dalam adegan ini, Hasan kembali mengritik manusia yang suka hujat-menghujat. “Serangan” dan kritik kemanusiaan itu kembali dilancarkan ketika Atok Iblis meratapi manusia yang lebih lihai menciptakan jalan dosa daripada kaumnya. Bahkan ia menuding manusia telah merampas pekerjaan Iblis.

Hasan Al Banna berusaha mengalir dalam monolog perdananya ini. Namun, ia tersekat-sekat di jerat ketakutan “merusak” keimanan penonton. Di sisi lain sesekali ia terjebak godaan melucu melalui tingkah dan ucapan Cublis yang terkesan polos dan memancing keibaaan.

Di pementasan ini, kekuasaan penonton tampak membayang-bayangi garapan. Walau tidak sampai kepada berhala, keinginan “menyelamatkan” iman penonton dan menyodorkan kelucuan menimbulkan kesan serba tanggung yang berisiko kepada penyimpangan pesan. Bukan tidak mungkin ketakutan itu malah terwujud setelah pementasan itu usai.

Daya menghibur dan menabur manfaat sebenarnya sebuah kekuatan yang besar dalam menghadapi kekuasaan penonton. Diperlukan keberanian dan kejelian dalam “menyerang” penonton dalam keyakinan bahwa penonton juga Adam yang dibekali Pencipta dengan akal dan kalbu. Menakar dan menyeimbangkan bobot pertunjukan dengan kualitas penonton sama halnya menyuguhkan gelombang laut ke dalam botol. Artinya, gelombang tinggallah air asin kehilangan gerak, angin, matahari, bintang, bulan, kulit kerang, atau jejak-jejak bocah di pasir pantai.

Kecurigaan terhadap kualitas penonton terasa mengganggu di akhir pertunjukan. Melalui bayang besar di sudut panggung, Tuan Bustaman menikam pertunjukan dengan hanya menyatakan Cublis telah berbohong dan melemparkan fitnah keji pada dirinya. Sayang, Hasan memilih cara yang verbal untuk mengungkap keculasan dan kecerdikan Cublis mempermainkan logika dan perasaan manusia.

Akhir yang mencair agak mencemari kekentalan garapan peristiwa terbongkarnya kelicikan Cublis di pertengahan pementasan yang jauh dari verbalitas. Misalnya, saat Cublis menyatakan rambutnya lebat, hitam, bergelombang, tapi mudah disisir, padahal jelas-jelas ia botak. Adegan ini begitu kuat membongkar kombur Iblis, apalagi ia sempat keceplos memaki ketololannya sendiri Siasat seperti ini tak ditemukan Hasan di akhir pertunjukan.

Saya jadi khawatir pembongkaran kelicikan Cublis di pertengahan pementasan hanya melahirkan tawa tanpa mengekalkan pesan bahwa Iblis menyerang dengan berbagai cara dan dari berbagai sisi, bahwa kita memang tak perlu kasihan pada Iblis!

Published in: on Mei 25, 2009 at 2:25 pm  Komentar (2)  

The URI to TrackBack this entry is: http://tejamu.wordpress.com/2009/05/25/jangan-kasihani-iblis/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

2 KomentarTinggalkan Komentar

  1. Jangan kasihani iblis… mengapa peryataan ini timbul? apakah berarti “pembuat” pertanyaan ini “pernah/sempat” berfikir untuk “mengasihani” (baca: terpesona, menyanjung atau malah cinta} pada iblis?

    • terima kasih atas apresiasinya, mas.
      esai ini sebuah komentar atas pertunjukan monolog seorang teman di gedung utama taman budaya.
      kebetulan tema yang diusungnya pernah menjadi pemikiran saya. dan justru saya ingin mengingatkan
      bahwa iblis menyerang dari berbagai sisi, termasuk pikiran kita dan keinginantahuan kita pada sejarah manusia.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.