Catatan Teja Purnama
Sepotong malam, sehabis gerimis. Merdeka Walk tak sunyi, juga tak ramai pengunjung. Seorang teman yang baru pulang dari Malaysia dan Brunei Darussalam mengeluh. Bukan soal diskriminasi orang Indonesia yang dialaminya, bukan pula soal sulitnya dia mencari kekurangan negara tetangga itu jika dibanding dengan kota kita, melainkan tentang perempuan yang melenggang di samping meja kami.
”Aku paling benci melihat perempuan yang memamerkan tubuhnya,” ujarnya seraya menunjukkan perempuan itu dengan kepalanya.
Spontan saya mengikuti arah kepalanya. Yaaa… terlihatlah pemandangan itu. Rambut panjang tergerai. Hot pants memajangkan panjang dan putih mulus paha-kakinya. Ditambah lagi gelombang pinggang yang menantang di tepi tanktop-nya… Pikiran jorok menjorok…Terus terang seksi memang, walau tak seseksi Maria Miyabi Ozawa yang dua pekan belakangan ini membuat heboh karena rencana kunjungan ke negeri khatulistiwa ini.
Kehebohan yang membangkitkan pertanyaan sekaligus kegelian. Miyabi begitu kuat menyedot reaksi. Mungkin wajar. Perempuan berbusana seksi yang tak terkenal yang melenggang di depan kami saja, begitu cepat melahirkan reaksi teman saya. Apalagi Maria…. Bedanya teman saya itu tidak seekstrim para pendukung Miyabi yang membentuk forum hanya untuk mendukung kedatangan Maria Ozawa. Mungkin ia tak berpikir politis, sehingga merasa tak perlu menghimpun massa buat mengusir semua gadis ber-tanktop dan hot pant melenggang di Merdeka Walk…
Pengumpulan massa menolak atau mendukung Maria Ozawa inilah yang mengherankan. Mungkin ini dapat menggambarkan sudah begitu politisnya cara bertindak kita. Tindakan politis itu bukan tidak mungkin akibat begitu dominannya politisasi di segala bidang. Jangan-jangan nanti untuk menceraikan istri, seorang lelaki mengumpulkan massa untuk mendemo kantor departemen agama….
Kembali ke Miyabi, berbagai alasan menolak atau mendukung kedatangannya bisa dilontarkan. Misalnya, kenapa saya harus menolak Maria Ozawa yang selalu menambah gairah saya menunaikan kewajiban sebagai seorang suami?. Atau seperti ini: saya tolak Miyabi karena telah membuat anak saya onani di depan layar televisi dan kalau onani menjadi candu, anak saya bakal loyo sebelum tua lalu gila menemukan istrinya berselingkuh dengan supir angkot di kamar kerjanya.
Terlepas dari semua alasan itu, datang atau tidak Miyabi ke Indonesia, birahi tetap mengiringi perjalanan kehidupan di bumi. Miyabi hanya seraut ranting zaman yang mengekploitasi segala potensi manusiawi demi kepentingan ekonomi walaupun harus menanggalkan moral. Miyabi adalah tubuh yang menjelma kapital di pasar imajinasi. Di pasar ini, personalitas tubuh ditanggalkan, diolah dan diproduksi secara massal. Dan jangan heran, produk impersonal ini berubah lagi menjadi begitu personal di ruang-ruang imajinasi konsumen.
Saya tak tahu, apakah tubuh Maria Ozawa yang kehilangan personalitas di pasar imajinasi ini sama dengan impersonal-nya Putri Indonesia yang katanya berasal dari Aceh, Qory Sandrioriva yang harus melepas jilbab dan berbikini jika jadi bertarung di ajang Miss Universe? Atau sama dengan impersonal-nya paha mulus dan gelombang pinggang menantang di tepi tanktop perempuan yang melenggang di Merdeka Walk?
Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, saat teman saya mengeluhkan pemandangan yang menarik itu, saya sempat membayangkan perempuan ber-hot pants itu mendatangi kami lalu menyodorkan secarik kertas bertulisan nomor ponsel dan sebuah kalimat mengundang: kontak aku…