Catatan Teja Purnama
Waktu masih kanak-kanak, hujan selalu menggelegakkan naluri bermain. Hujan pula menjerang kekesalan emak karena ayah selalu selalu mengizinkan saya mandi hujan. Ayah selalu membuka pintu yang tadinya dikunci emak, menyuruh saya menunggu beberapa saat, baru kemudian membiarkan saya bergabung dengan anak-anak lain yang telah basah kuyup. Emak merepet, ayah hanya diam menonton saya menggauli air.
Menggauli air. Entah kenapa kata “menggauli” yang terpilih! Apakah karena memang air pasangan hidup yang selalu mendampingi kehidupan saya? Itu mungkin salah. Barangkali yang benar, air mendampingi kehidupan seluruh manusia! Guru geografi saya waktu SMP menyebutkan duapertiga bumi ini terdiri dari air. Guru biologi juga mengatakan sebagian besar tubuh terdiri dari cairan dan begitu mengagungkan peran darah. Saya juga pernah memanfaatkan suasana air Sembahe untuk membujuk mantan pacar agar mau beromantis-romantis, namun sialnya berujung pada bentakan kesal, “Kamu juga ada karena air suci papamu!”
Wah, hebat betul air! Kehebatannya menumbuhkan kebutuhan untuk menggaulinya. Setiap hari. Dan dia tak memaksa, apalagi memerkosa!
Air selalu mengalah, namun sesungguhnya menunjukkan kegesitan bertenaga menyikapi tantangan, gigih meraih keinginan. Batu menghalang di sungai, dia memecah, mencari celah menghindari konflik, lalu menyatu kembali menuju tujuan. .
Kegesitan dan tenaga air dalam menyikapi keadaan mungkin dapat digambarkan dengan banjir yang merendam beberapa kecamatan di Medan pada pekan pertama 2011. Ada yang bilang, banjir itu yang terparah sejak 2002. Ketinggian air nyaris mencapai atap rumah.
Air jadi bala. Padahal dia hanya mengikuti jalan alam. Matahari membuatnya menguap. Sudah pula dia mengawan, bermain dengan angin, menggumpal, saling tindih, mencapai atmosfer dingin, memberat, hingga angin rela melepasnya menjadi hujan. Dia pun turun mencari wadahnya agar tak ada yang terganggu. Tetapi bagaimana wadah itu? Sungai kian dangkal. Menjadi tong sampah segala sampah. Mulai sampah dapur, tubuh, bahkan mayat orok. Jangan tanya pula soal Daerah Aliran Sungai (DAS). Wadah penampung sekaligus penyalur hujan ke sungai-sungai kecil itu telah babak-belur. Fungsinya ditanggalkan kepentingan bisnis. Lalu bagaimana dengan kanal yang telah dibangun? Lihat saja sendiri, apakah wadah yang dibangun dengan pajak dan retribusi dapat bekerja maksimal? Apakah wadah itu hanya berorientasi proyek menguntungkan hingga terabaikan perencanaan dan pertimbangan peta sungai? Saya tak bisa menjawabnya. Saya juga takut jawaban itu bermetamorfosa jadi fitnah.
Mungkin lebih baik mengenang kesenangan masa kecil. Bermain bola plastik di bawah hujan. Tak ada yang tahu saya sengaja pipis di celana demi kehangatan, karena semua sudah basah. Tak takut baju kotor karena air hujan bakal melunturkannya. Yang saya takut demam setelah mandi hujan. Soalnya, selain bisingnya repetan dan sakitnya cubitan emak, saya juga harus menelan obat.