Bunuh Diri

Catatan Teja Purnama

Bagaimana cara bunuh diri yang indah agar menjadi kenangan sepanjang masa? Teman saya, seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang, pernah berimajinasi mengiris nadinya, lantas aliran darah menjadi tinta untuk menulis surat terakhir bagi kekasihnya. Kawan saya, seorang seniman juga sempat berpikir bunuh diri demi melahirkan karya: yakni memutilasi diri sendiri dan merekam segala proses penganiayaan itu.

Mungkin pertanyaan itu tidak terlintas dalam benak Heldi Syahputra alias Wak Anjang, penarik becak yang tinggal di Jalan Selamat Simpang Limun Medan, yang mengakhiri hidupnya pada 11 Januari lalu, dengan gantung diri di kamar mandi karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Pun barangkali tidak terpikir oleh Zulkifli (37) warga Jalan Gaperta Medan yang juga gantung diri setelah sekian lama tidak bekerja dan sering mendapat omelan dari istrinya. Keduanya memilih cara gampang. Tidak pula meniru beberapa pelaku bunuh diri di Jakarta yang lompat dari tempat tinggi di keramaian plaza sebagaimana terjadi beberapa hari sebelumnya. Jangan tanya pula saya mana yang paling sakit: gantung diri atau terjun bebas. Yang jelas dua-duanya sakit.

Herannya, walaupun sakit, bunuh diri mengiringi perjalanan kehidupan manusia. Bukan hanya mereka yang awam dan miskin. Mereka yang telah kaya-raya, cerdas, dan berimajinasi juga mengakhiri hidup sendiri. Seniman besar juga melakukannya. Mungkin paling banyak di Jepang yang memang mempunyai tradisi bunuh diri sebagaimana dilakukan antara lain oleh Ryunosuke dan Mishima. Seniman dari barat juga tak luput dari godaan maut ini, di antaranya Van Gogh yang menembak dadanya sendiri, Virginia Wolf mengisi kantong-kantong bajunya dengan batu lalu menenggelamkan diri ke Sungai Ouse, Sussex, Inggris, Sylvia Plath menggunakan gas, juga Kurt Cobain menembak diri sendiri. Masih banyak nama tenar lain bisa dijejerkan.

Saya sempat membaca di salah satu situs, hasil penelitian Amerika Foundation for Suicide Prevention pada tahun 2000 menunjukkan manusia kreatif lebih berisiko terkena depresi lalu bunuh diri. Sebelumnya, pada 1992 A Lugwig juga pernah melakukan studi sebelum menyimpulkan kemungkinan seniman dan penulis bunuh diri 18 kali lebih besar daripada orang biasa. Tetapi tentu terlalu naïf kalau kita ingin menjadi depresi agar dapat menjadi orang yang kreatif. Seseorang yang menderita depresi belum tentu memiliki kreativitas yang tinggi.

Pisau absurditas hidup telah menyayat-nyayat mental. Mungkin inilah salah satu pendorong seseorang bunuh diri. Dia merasa hidup tidak bermakna. Bodoh, hanya menyajikankan kebuntuan demi kebuntuan. Jiwa pun terjebak dalam labirin ciptaan Daedalus, tempat Raja Minos memelihara Minotaur, monster bertubuh manusia namun berkepala lembu.

Kegelapan dan ketidakbermaknaan ini mungkin kian menyayat hati seorang penarik becak, yang untuk menutupi utang kemarin agar dapat berutang lagi terpaksa melawan keletihan. Di pihak lain, seorang anak merengek tak mau minum susu dan makan semur ayam karena papinya belum pulang membawa BlackBerry. Seorang warga negara tak berani pulang ke rumah karena belum bisa membayar hutang kepada tetangganya, sedangkan pimpinan negaranya terus menumpuk hutang luar negeri. Sarjana dengan nilai tinggi bertahun-tahun tak dapat kerja, sedangkan anak pejabat yang pendidikannya pas-pasan begitu gampang dan enaknya meminta proyek di berbagai instansi. Aih! Kita memang hidup dalam absurditas. Yang dulu fiksi telah menjadi fakta, bahkan terkalahkan. Bukankah seperti dalam novel dan cerpen jika ayah menyodomi anak kandungnya?

Absurditas telah menyuntikkan pikiran tentang tidak berartinya hidup ke sebagian orang dan tak jarang mementalkan keinginan hidup orang itu ke jurang maut tak berdasar. Ini penting dibicarakan, karena sangat berkaitan dengan hidup yang merupakan salah satu pertanyaan mendasar setiap filsuf. Kebermaknaan hidup memang sangat tergantung pada kemampuan mental dan spiritual personal, namun jangan lupakan, personal-personal itu tumbuh dalam masyarakat sebuah negara yang punya beragam aturan, kebijakan, dan pemimpin.

Bunuh diri bukan masalah sepele. Albert Camus, sastrawan dan filsuf Prancis, menyisihkan banyak waktu untuk memikirkannya. Lantas ia menemukan cerita Sisifus lantas mengidolakan tokoh itu. Sisifus yang dikutuk mendorong batu ke puncak lantas batu itu kembali bergulir ke bawah, lalu didorongnya lagi, menggelinding lagi, dan begitu seterusnya. Sisifus telah mengejek kekuasaan para dewa dan siap menerima segala risiko. Dia memberontak dan tetap menjalankan kutukannya. Dan Camus pun mengajak kita membayangkan “Pemberontak” itu berbahagia menjalani kutukannya.

Diterbitkan di: on Januari 15, 2011 at 2:21 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://tejamu.wordpress.com/2011/01/15/bunuh-diri/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.