Catatan Teja Purnama
Rakyat memang hebat. Tak ada negara tanpa rakyat. Namanya keramat. Selalu jadi ajimat legislator dan pejabat.
Rakyat memang tenar. Namanya selalu dibawa-bawa, apalagi dalam rapat-rapat anggota dewan. Mau kritik pejabat, angkat nama rakyat. Pejabat yang paham juga menjunjung nama rakyat. Akhirnya, politisi dan pejabat saling jabat kemudian nyanyi di sebuah karaoke atas nama rakyat!
Rakyat memang menggairah. Membangkitkan birahi kekuasaan yang tak pernah selesai. Segala cumbu, segala rayu, harus dilancarkan untuk mendekati rakyat, terutama pada musim pemilihan. Jaga perasaannya. Sedapat mungkin penuhi permintaannya. Kalau pun menolak jangan berterus-terang. Jaga perasaannya. Jangan sampai mereka tersinggung, bisa gawat perolehan suara. Kalau sudah terpilih, lain pula ceritanya…
Suara rakyat memang dahsyat. Dapat melahirkan puting-beliung kekuasaan. Memporak-porandakan istana kerajaan. Ada pula yang bilang suara rakyat, suara Tuhan. Wajib didengar. Perintahnya jalankan, larangannya jangan kerjakan. Guru PMP kita di SD juga bilang, pemerintahan kita pemerintahan rakyat. Itu artinya, kalau masih banyak rakyat lapar, pemerintahan kita juga lapar. Makanya jangan heran kalau banyak orang pemerintahan korupsi. Sepertinya rakyat, mereka juga lapar. Rakyat lapar nasi, mungkin mereka lapar gengsi hingga merasa harus punya rumah bak istana, belasan mobil, juga helikopter!
Rakyat memang miskin, tetapi kaya. Sangkin miskinnya, mau main teater di median jalan berperan sebagai pengemis. Sangking kayanya diam saja melihat wakil-wakilnya liburan ke luar negeri dengan alasan studi banding.
Rakyat memang tak mau susah berpikir. Di bawah panas terik, mendengar janji-janji penguasa yang tak pernah terwujud. Rakyat lupa atau berpura melupakannya. Sang penguasa tenang-tenang saja. Soalnya, dia yang mengongkosi rakyat mendengar janji-janji kampanye. Dia pula yang menyelipkan amplop berisi uang ke saku rakyat beberapa jam sebelum hari pemungutan suara. Dan rakyat menerima. Rakyat tentu saja menerimanya. Bukankah setengah mati mencari uang seratus ribu perak sekarang? Lantas, soal janji… ya… sudahlah, pemimpin mana yang tidak ingkar janji. Lho?
Rakyat memang ada di mana-mana. Di mana pun, dia terlihat. Di gang kumuh berlumpur, pinggiran rel kereta api dan sungai, pajak yang becek, mal, plaza. Pokoknya, di mana-manalah. Bahkan, saat sendirian di muka cermin, kamu melihat rakyat.
“Kamu rakyat?” kata orang di dalam cermin.
Terserah kamu mau jawab apa. Bisa saja kamu menjawab, “Saya wakil rakyat! Kamu?”
Orang dalam cermin itu tersenyum seperti mengingat sebuah lelucon di sebuah situs internet. “Saya rakyat. Dan sekarang saya ingin merampok. Serahkan uangmu!”
“Saya tak punya uang. Dan kamu harus ingat, saya anggota DPR, wakil rakyat!”
“Kalau begitu kembalikan uang saya.”
Rakyat memang suka yang lucu-lucu. Tidak heran, banyak penguasa bermain komedi. Penguasa selalu bilang, koruptor itu mirip tikus, mengendus-endus, ada kesempatan, libas terus, dan sembunyi di balik lubang kakus. Belakangan setelah ngomong begitu, dia harus meringkuk karena terbukti korupsi. Jelas, ini komedi. Dan katanya, komedi itu puncak tragedi.