Catatan Teja Purnama
S emalam kawan saya berulang tahun. Dia mengajak minum kopi. Malam tentunya. “Kita masih buruh, belum majikan. Makanya waktu yang tepat malam,” katanya seakan lupa dia juga bekerja di koran. Tetapi apa guna memperdebatkan undangan minum kopi? Tentu saja saya tak menolak walaupun belum tahu tema apa yang jadi obrolan menarik nantinya.
Baru beberapa saat duduk, kawan yang rajin menulis cerpen ini, langsung bicara. “Aku tak butuh ucapan ulang tahun. Yang perlu kuberitahu kepadamu, aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak mandi pada hari ulang tahunku ini,” ungkapnya.
Sadarlah saya, ternyata bau tak enak yang mengganggu hidung merebak dari tubuhnya. Saya tak mau berpikir jauh. Saya juga tak mau melihat janjinya itu lahir dari keunikan berpikir seorang seniman. Mungkin dia ingin membuat sejarah pada hari bersejarah dalam hidupnya: tak mandi seharian.
Kita telah terbiasa mandi. Aktivitas personal pada hari baru tak lepas dari mandi. Selain memberi kesegaran, juga membebaskan tubuh dari kesumukan dan kerisihan. Kesumukan dan kerisihan itu juga bisa menular ke orang lain, jika saya yang tak mandi berinteraksi dengan orang lain. Mandi menjadi kian penting bagi fungsi personal dan sosial tubuh.
Secara medis, mandi juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Malah, katanya, berendam di air hangat selama setengah jam dapat menurunkan kadar gula darah sekitar 13 persen dan menyehatkan jantung. Saat mandi, ada yang perasaan ingin bebas dari segala macam kotoran yang lekat di tubuh. Perasaan ini mendapat respons dari air yang mengaliri tubuh.
Perjalanan waktu juga mendorong mandi menjadi sesuatu yang lebih pribadi. Bagi sebagian orang, mungkin juga kawan saya yang ulang tahun itu, kamar mandi di rumah menjadi momen penyegaran bagi tubuh setelah dibelenggu aturan-aturan sosial. Seperti handuk, kamar mandi juga selalu merahasiakan ketelanjangan yang selalu kita sembunyi di balik baju.
Tetapi tunggu dulu! Kamar mandi juga selalu merahasiakan seandainya ada orang iseng atau jahat yang memasangkan kamera kecil di sana…
Saya jadi ingat Raja Phrygia, Midas, yang memiliki telinga keledai. Dia dikutuk Apollo karena tidak bisa membedakan musik yang baik dan buruk. Midas berusaha menyembunyikan telinganya. Dia menutupinya dengan topi. Menyuap tukang cukur agar tidak membongkar rahasianya. Namun dia tidak tahan juga, lalu menggali tanah dan berbisik di dalam lubang itu, “Midas mempunyai telinga keledai,” lalu menutup galian itu lagi. Midas puas telah membongkar rahasia itu di lubang yang digalinya sendiri. Namun dia tidak sadar, dari tanah tersebut muncul ilalang yang terus-menerus menyanyikan rahasia itu bersama angin, hingga seluruh rakyat mengetahuinya.
Dalam kamar mandi dan mandi, rahasia tubuh memang mendapat kenyamanan. Seburuk apa pun kotoran yang melekat di tubuh disapu busa sabun dan air. Sehabis mandi, tubuh bebas dari kotoran. Namun kita tak pernah bisa melupakan bau yang pernah lekat di tubuh. Ada hati selalu mengingatkan agar membersihkan tubuh dari segala kotoran. Ingatan itulah yang mendorong kita mandi setiap hari. Lantas timbul pula pertanyaan, apakah dalam beraktivitas dalam kehidupan sosial, hanya tubuh yang dapat menjadi kotor? Aktivitas sosial tubuh melibatkan hati, pikiran, dan perasaan yang juga rentan kotor. Lantas, bukankah hati, pikiran, dan perasaan perlu juga mandi? Kalau begitu, perlu juga kamar mandi untuk pikiran, hati, dan perasaan kita…
Kawan saya tertawa. Pikiran saya buyar.
“Memang badanku bau, tapi hati, perasaan, dan pikiranku wangi. Lebih wangi dari kopi ini,” ujarnya pelan lalu meneguk kopi yang baru saja tersaji di meja kami.