Catatan Teja Purnama
Sesungguhnya saya ingin menampilkan catatan tentang perselingkuhan. Beberapa paragraf telah tersusun, namun gagal dilanjutkan. Bukan karena takut dibaca istri lalu dia menyangka saya menulis pengalaman pribadi. Tulisan itu gagal dilanjutkan hanya karena saya geram pada tawa anak kos di depan rumah.
Anda boleh menyebut saya berapologi. Faktanya, saya langsung keluar rumah, mengingatkan para mahasiswa itu bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Mereka meminta maaf. Saya tak menanggapinya, lalu pulang ke rumah dan dengan geram membanting pintu. Tak sampai dua detik, melengking tangis anak yang baru berusia jalan tujuh bulan. Pasti karena suara bantingan pintu, bukan karena tawa mahasiswa itu…
Saya tak tahu apakah para mahasiswa itu sehat dan akan awet muda nantinya karena gemar tertawa. Banyak pakar bilang, tertawa itu menyehatkan. Di sebuah situs internet ada tulisan tentang Universitas Indian State melakukan penelitian terhadap 30-an perempuan yang sehat. Setengah dari mereka disuruh menonton film komedi, separuh lagi film wisata. Setelah film selesai, peneliti mengambil sample sel kekebalan tubuh mereka lalu mencampurkannnya dengan sel kanker. Hasilnya menunjukkan, perempuan yang tertawa karena menonton film komedi itu memiliki sistem kekebalan yang lebih sehat dibandingkan mereka yang menonton film wisata.
Tertawa itu memang menyehatkan. Aktivitas tawa membantu otot bagian bawah perut, bahu maupun dada berkontraksi hingga meningkatkan daya kerja jantung. Oksigen yang terhirup saat tertawa juga lebih banyak. Tertawa juga membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih segar.
Begitu nikmatnya tertawa hingga membuat kita selalu senang berteman dengan orang yang dapat membuat tertawa. Saya juga punya teman di Taman Budaya Sumatera Utara yang selalu bisa membuat kita tergelak. Eddy Siswanto namanya.
“Kalian pikir enak kali ya aku jadi PNS. Itulah pekerjaan yang paling menyiksa. Kerjanya setiap hari adalah pura-pura bekerja,” katanya saat kami bertemu beberapa hari setelah insiden tawa mahasiwa di depan rumah saya.
Saya tertawa, hanya tidak sampai berderai-derai. Kurang menggigit. Eddy jadi penasaran. Lantas dia menceritakan temannya yang juga PNS. Teman itu sangat gugup saat ditelepon atasannya. Soalnya, waktu itu kancing bajunya lepas. “Jadi waktu menelepon itu dia mengikat kancing bajunya dan membungkuk-bungkuk saat mendengar perintah dari telepon. ‘Iya, Pak. Iya Pak’” katanya sambil memeragakan gaya temannya yang tak sengaja terbungkuk-bungkuk mendengar perintah atasan melalui telepon.
Kali ini saya tertawa lepas. Ada kesegaran menyiram perasAan. Tidak puas, lantas saya memancingnya dengan segela kopi susu agar terus mengobrol. Apa katanya saat kopi susu itu disajikan? “Besok jam-jam segini juga kan?”
Saya tertawa lagi, namun sempat berhenti. Saya teringat Zeuxis, pelukis Yunani tertawa terbahak-bahak melihat lukisan wanita yang baru diselesaikannya, lalu sesak nafas dan mati. Teringat pula pada penulis Italia Pietro Aretino tertawa mendengar cerita jorok dari saudara perempuannya, hingga ia terjungkal dari kursi, kejang-kejang lalu meninggal. Saya juga tak bisa membayangkan bagaimana komedian Yunani, Philemon yang mati karena menertawai leluconnya sendiri. Anehnya, cerita ini bukan membuat takut, malah saya jadi tertawa lagi.
Eddy bingung. “Ketawamu bersambung-sambung ya Ja.”
Saya makin terbahak-bahak.