Teater Cikeusik

Catatan Teja Purnama

Teater pekerjaan besar. Ada semacam ambisi “menciptakan” kehidupan dan takdir tokoh di atas panggung. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan.

Meletihkan memang. Anda yang merasa pekerja teater bolehlah cemburu pada saya yang tinggal menyisihkan sedikit uang lantas mendapat kekuasan di kursi penonton. Kekuasaan itu memberi kebebasan menalar peristiwa yang di panggung. Saya dapat menilai kualitas tontonan itu sangat jauh di bawah kualitas garapan para pelaku berbagai insiden bernuasa SARA yang terjadi di tanah air belakangan ini.

Menonton kebrutalan terhadap penganut Ahmadiyah di Cikeusik misalnya. Saya seperti terlempar dan terlantar pada berbagai perasaan. Begitu hebat sutradara insiden tersebut melahirkan kebrutalan kolosal. Begitu yakin pula para pelaku menganiaya korban yang sudah tidak berdaya sambil menyerukan kebesaran nama Tuhan.

Para sutradara insiden bernuansa SARA itu begitu memahami perbedaan bisa memicu konflik dengan klimaks yang membekas pada diri penonton. Sutradara juga memahami ketakutan para petinggi berseberangan dengan tindak menyimpang si banyak. Ketakutan ini dikelola dengan baik, sehingga laku polisi yang tak bisa berbuat apa-apa dalam adegan pembantaian itu begitu meyakinkan. Sutradara itu juga begitu memahami karakter para pemain untuk menjalin peristiwa walau tanpa naskah yang utuh. Para sutradara jeli membaca kelabilan dalam bertoleransi. Kejelian ini sangat membantu mereka menempatkan kebrutalan dalam dekor keagamaan. Dekor ini begitu membantu penghayatan pelaku sehingga meyakini aksinya adalah kebenaran.

Peristiwa mirip fiksi yang terjadi di Cikeusik ini tidak perlu membuat pelaku teater benaran kecil hati. Harus diakui kedahsyatan fakta hingga dapat menyerupai fiksi. Tak perlu juga gagap karena masyarakat penonton sudah begitu sering masuk dalam realitas imajinatif dan objektif di negeri ini. Tak usah merasa “kehidupan” yang diciptakan di panggung teater takkan bisa lagi menyaingi realitas yang dijalani dan ditonton masyarakat baik di panggung berbentu koran, telivisi, dan media digital.

Saat melahirkan sebuah pementasan teater di gedung pertunjukan, pelaku teater telah menciptakan pertemuan antar manusia. Di gedung teater, manusia dari berbagai agama duduk menghadap panggung, menonton suguhan kisah manusia. Mungkin ada yang tersentuh dan bertahan hingga pertunjukan usai. Ada pula yang menggerutu lantas keluar gedung sambil menyalakan rokok.

Saya yakin mereka yang keluar sebelum pementasan usai tetap menyadari mereka hanya melihat pertunjukan, bukan peristiwa. Begitu juga yang bertahan, sedalam apapun ingatan pada satu-dua adegan, mereka tetap paham itu teater. Mereka tak pernah mengambil kesimpulan menonton teater itu selamanya membosankan atau memberi kenikmatan. Tak ada generalisasi di sini. Keyakinan ini juga saya tetap saya pegang saat menonton adegan Cikeusik di internet, bahwa aksi pelaku tidak serta-merta mewakili keyakinan yang dianutnya.

Diterbitkan di: on Februari 20, 2011 at 7:27 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://tejamu.wordpress.com/2011/02/20/teater-cikeusik/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.