Papan Bunga di Kota Kami

Catatan Teja Purnama

Kemarin saya ikut menjemput Bang N. Syamsuddin Ch. Haesy di Bandara Polonia. Di tengah kesibukan memimpin Harian Jurnal Nasional dia meluangkan waktu mengunjungi kami untuk menularkan berbagai pengalaman dan pengetahuan.

Medan tentu saja menarik perhatiannya. Berbagai tanggapan muncul. Salah satunya tentang gemarnya orang Medan mengirimkan ucapan selamat melalui papan bunga. Saya sempat tersentak dan begitu saja berkata,”Papan bunga menjadi ciri khas Medan. Ini kota papan bunga Bang.”

Memang, sesuatu yang biasa bagi kita, bisa jadi keanehan bagi orang lain. Anda yang tinggal di Medan mungkin biasa melihat jejeran papan bunga yang bahkan bisa sepanjang satu kilometer setiap ada hajatan maupun kemalangan di suatu tempat. Papan bunga telah menjadi dekor sebuah peristiwa kehidupan, baik suka maupun duka.

Belum ada orang yang meneliti secara khusus dan mendalam tradisi pengiriman papan bunga di Medan ini. Bahkan kawan saya yang kuliah S-2 antropologi di Unimed tak tertarik menelitinya. Hanya ada sedikit informasi dari sejarawan dari Unimed, Ichwan Azhari. “Saya sendiri kaget ketika pulang ke Medan tahun 2011. Papan bunga dan kibor adalah dua hal baru yang satu temukan di kota ini,”ucapnya saat diwawancarai wartawan salah satu koran besar di Indonesia.

Ikhwan yang sudah bertahun-tahun mencari ilmu di Jerman itu tak bisa memastikan sejak kapan tradisi itu muncul. Namun ia menduga tradisi itu muncul akibat pengaruh orang Eropa yang pada awal abad ke-20 banyak tinggal dan berinvestasi di kota ini. Kebiasaan mengirimkan papan bunga di daerah asalnya terus berlanjut di kota ini. Awalnya, menurut Ikhwan, usaha pembuatan dan pengiriman papan bunga ditangani orang Eropa, namun lama-kelamaan diikuti oleh perantau dari Tapanuli.

Informasi ini tentu jauh dari cukup. Saya tak ingin memaksa kawan mahasiswa S2 yang tak pernah lagi mengundang ngopi malam itu untuk meneliti tradisi ini. Saya hanya ingin memberi tahu kepadanya, pengiriman papan bunga itu sebuah kongkretisasi empati. Ikut merasa duka akibat kemalangan seorang teman seolah bisa diwakili dengan papan dan bunga plastik. Tak soal jika papan dan bunga plastik itu minggu lalu digunakan sebagai ucapan turut berbahagia atas pernikahan seseorang yang lain.

Tradisi ini mengandung nilai ekonomis, politis, psikologis dalam tradisi. Bagi pengusaha papan bunga, banyaknya orderan tentu mendatangkan profit, sedangkan yang menerimanya minimal mendapat benefit berupa promosi gratis yang menaikkan gengsi. Pada kalangan legislatif dan eksekutif, papan bunga menjadi penanda kondisi sebuah relasi politik, sehingga tidak sedikit pejabat dan politisi yang menganggarkan biaya pengiriman papan bunga. Penerima papan bunga juga bangga jika banyak mendapat kiriman papan bunga, apalagi dari seorang yang terkenal. Demi kebanggaan, banyak pemilik hajatan mengupayakan agar acaranya dihiasi papan bunga kiriman pejabat.

Tidak jarang pula tradisi ini membuat risih. Papan bunga yang dipamerkan di trotoar menggangu pejalan kaki yang sudah semakin tersudut oleh tiang-tiang billboard. Kerisihan juga bisa timbul bagi pemilik hajatan yang harus melunasi utang setelah pesta perkawinan anaknya. “Bah, banyak kali papan bunganya. Dari walikota ada. Gubernur ada. Anggota dewan juga. Tapi tak ada uangnya!” Mungkin ini ucapan seorang janda usai pesta perkawinan anaknya yang wartawan.

Lantas anaknya berusaha menghibur. “Nggak apa-apa Mak, yang penting gengsi. Kawan-kawan wirid Mamak tahu kalau Pak Walikota kenal sama Mamak.”

“Papan bunga itu tak bisa dipakai bayar Wak Bedah, bidan pengantin kau,” ketus sang Mamak.

Diterbitkan di: on Februari 27, 2011 at 6:45 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://tejamu.wordpress.com/2011/02/27/papan-bunga-di-kota-kami/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.