Catatan Teja Purnama
Ponsel menjerit, padahal telah susah payah mendapatkan alam tidur yang begitu nikmat ini.
Saya bangkit dan mengambil ponsel itu. Tanpa nama.
“Halo,” ucap saya dengan nada tak senang.
“Halo,” balasnya.
“Siapa? Ada apa ya?”
“Anjing. Aku anjing.”
Mula-mula geli, tapi lebih ingin marah. Hanya orang gila yang bermain-main pada dini hari ini!
“Kau boleh tak percaya, boleh marah. Aku memang anjing. Dan aku ingin protes malam ini!”
Semestinya saya matikan saja ponsel itu. Tetapi entah kenapa saya jadi tertarik mendengar kata protes.
“Kau selalu membawa nama kami setiap melihat kekurangajaran, kelicikan, kerakusan yang dilakukan sesamamu sendiri.
Pejabat yang naik jabatan karena membayar ratusan juta kepada pimpinannya kau bilang anjing. Pimpinannya yang menerima sorongan nikmat itu juga kau bilang anjing. Lantas pejabat itu memanfaatkan jabatannya untuk mengembalikan modal dan mengeruk keuntungan pribadi, pun kau bilang anjing. Kreatiflah sedikit. Jangan bawa-bawa nama kami dalam setiap kejahatan manusia!”
Saya terdiam. Lancar betul dia bicara. Tak sedikit pun mahluk yang mengaku binatang itu ragu dengan ucapannya sendiri.
“Ada orang yang kerjanya menjilat atasan, memijak bawahan, kau bilang anjing. Ada orang yang telah lanjut usia dengan segudang pengalaman dan akses, namun kerjanya merusuhi pekerjaan orang lain dengan semangat post power syndrome-nya, juga kau sebut anjing. Orang yang kau benci kau bilang anjing. Seakan-akan hanya anjinglah asal muasal kebencian, kejijikan, kemarahan!”
Bah! Kenapa dengan penelepon yang mengaku canis lupus familiaris ini! Dia terus merepeti saya, si pandir yang bangga lahir sebagai manusia ini. “Bagaimana kalian manusia ini bisa memandang begitu rendah kepada kami kaum anjing, sehingga nama kami selalu melekat pada hal-hal yang buruk.
Kau yang merasa manusia ini juga selalu menyeret-nyeret nama kami untuk tindakan yang menjijikkan. Ayah menyodomi anak kandung; anjing! Koruptor berwajah ulama; anjing! Seseorang tua yang mengaku sudah mapan, tinggal menunggu maut dengan menularkan ilmu, namun nyatanya menghasut demi merebut pekerjaan orang; anjing!
Tak adakah kebaikan yang pantas disandingkan dengan kami yang dilahirkan sebagai anjing ini? Lihatlah kebaikan yang ada pada kami. Kami tabah dan tahan banting. Di mana pun kami ditempatkan, kami tidak pernah menolak. Kami juga setia. Setia menjaga tuan kami dan rumahnya. Kami rela sedikit tidur demi menghargai komitmen kehidupan kami.
Kami juga tidak pernah meminta lahir sebagai anjing! Tapi jangan pula kau pikir kami ingin lahir sebagai manusia. Walaupun bisa berpikir, manusia juga binatang kan? Nafsu menekan dan menelan yang lemah juga ada pada manusia. Hanya karena manusia punya pikiran, tindakan hewani itu dibajui kesucian. Maka, kami yang anjing ini hanya tertawa saja, saat kau heran mengenang seorang pejabat yang terkenal taat beragama harus dibui bertahun-tahun karena korupsi.”
Bah! Anjing sudah terlalu maju dan berani menghujat manusia. Begitu fasih dia menyindir dengan berita-berita keruntuhan moral manusia. Seolah ingin mengatakan, kalian manusia, terkadang juga tidak lebih tinggi, bahkan lebih daripada anjing. Sindiran itu membuat dada terasa berat. Ingin saya banting ponsel ini, tapi terasa ada yang memegang tangan saya. Ada yang menekan dada dan terdengar lagi dering ponsel… Kali ini saya betul-betul terbangun.