Tubuh Miyabi

Catatan Teja Purnama

Sepotong malam, sehabis gerimis. Merdeka Walk tak sunyi, juga tak ramai pengunjung. Seorang teman yang baru pulang dari Malaysia dan Brunei Darussalam mengeluh. Bukan soal diskriminasi orang Indonesia yang dialaminya, bukan pula soal sulitnya dia mencari kekurangan negara tetangga itu jika dibanding dengan kota kita, melainkan tentang perempuan yang melenggang di samping meja kami. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Oktober 17, 2009 at 2:23 am Tinggalkan sebuah Komentar

Badai di Ranjang Perempuan

Catatan Teja Purnama

Sebermula ranjang. Lalu keremangan panjang memajangkan perempuan dalam berbagai pose ketidakberdayaan: terkulai, gelapar pemberontakan dan dendam tak sampai, air mata, darah. Hmm… ternyata ranjang masih menjadi etalase yang mengundang… (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 9, 2009 at 1:59 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Jangan Kasihani Iblis!

Kenapa kita harus kasihan pada Iblis? Pertanyaan ini saya lontarkan di dinding facebook awal April. Berbagai komentar muncul. Sayangnya, tak ada yang mempertanyakan pertanyaan saya atau menyamakannya dengan pernyataan: Iblis tak perlu dikasihani walau sepanjang hidupnya tragedi.

Kisah Iblis memang penuh tragedi. Sejak ia menolak tunduk kepada Adam, makhluk yang selama ratusan tahun hanya mengabdi kepada Allah harus menanggung kutuk dengan kesombongan yang menggelikan sekaligus mengerikan: meminta waktu sampai kiamat untuk menggoda anak cucu Adam. Menariknya, Sang Pencipta dengan kemahatahuan-Nya malah mengabulkan permintaan itu. Sejak itulah perang panjang antara Manusia dan Iblis berlangsung. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Mei 25, 2009 at 2:25 pm Komentar (2)

Tak Bisa Saya Meninggalkan Kamu

Catatan Teja Purnama

Saya harus jujur. Hanya kamu yang dapat mewakili pikiran, perasaan, dan sikap saya. Maka, jangan tertawa kalau saya mengaku tak bisa meninggalkan kamu.

Bukan tak pernah saya mencari yang lain. Secara sembunyi-sembunyi, saya membanding-bandingkan mata kamu dengan eye, tangan dengan hand, kaki dengan foot, cinta dengan love. Lalu apa jadinya ketika saya mulai berkata-kata? Gagap, bingung, dan saya semakin tampak bodoh di mata dunia. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 12, 2008 at 4:04 am Komentar (3)

Percintaan Bahasa dan Sastra

Catatan Teja Purnama

Sepasang kekasih, bercinta dalam segala cuaca. Rindu yang sendu, remasan cemas, rayuan sangsi, dan berbagai rasa mewarnai percintaan. Merekalah bahasa dan sastra. Sebuah asmara yang tak padam walau malam membenam matahari. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Agustus 4, 2008 at 3:08 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Sebenarnya Saya Ingin Memuisi Kamu, Pak Presiden

Catatan Teja Purnama

Dengan apalah kulukiskan kamu? Kita tak dekat, juga tak jauh, walau saling kenal. Atau kulukiskan saja kamu dengan laut yang selalu merekam bisik gelombang di pantai? Atau mungkin lebih baik dengan pisau mendurhaka luka? Barangkali bisa juga dengan doa kemilau seekor semut di hutan paling kelam? Entahlah. Kata-kata hanya bisa menggedor-gedor dada, tak mengalir ke jemari saat berusaha memuisi kamu. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juli 14, 2008 at 2:36 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Menonton “Tuan Kondektur” Teater Kartupat

Catatan Teja Purnama

Teater memang pekerjaan besar. Apalagi bagi sutradara yang rela bergumul dengan diri sendiri sebelum merekayasa kehidupan dan takdir para tokoh di atas panggung. Kehilangan sekaligus penemuan terjadi. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Juni 13, 2008 at 3:35 pm Komentar (2)

Kaos Porman

Catatan Teja Purnama

Seandainya dapat bicara, kaos mungkin berkata, “Terima kasih Marlon Brando, James Dean… Kalian membuat dunia membuka mata padaku”. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 3:16 pm Tinggalkan sebuah Komentar