<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>apakata</title>
	<atom:link href="http://tejamu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tejamu.wordpress.com</link>
	<description>catatan teja purnama</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Mar 2011 06:58:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tejamu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>apakata</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tejamu.wordpress.com/osd.xml" title="apakata" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tejamu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anjing</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/03/13/anjing/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/03/13/anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Mar 2011 06:58:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Ponsel menjerit, padahal telah susah payah mendapatkan alam tidur yang begitu nikmat ini. Saya bangkit dan mengambil ponsel itu. Tanpa nama. &#8220;Halo,&#8221; ucap saya dengan nada tak senang. &#8220;Halo,&#8221; balasnya. &#8220;Siapa? Ada apa ya?&#8221; &#8220;Anjing. Aku anjing.&#8221; Mula-mula geli, tapi lebih ingin marah. Hanya orang gila yang bermain-main pada dini hari ini! [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=142&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama</p>
<p>Ponsel menjerit, padahal telah susah payah mendapatkan alam tidur yang begitu nikmat ini.</p>
<p>Saya bangkit dan mengambil ponsel itu. Tanpa nama.</p>
<p>&#8220;Halo,&#8221; ucap saya dengan nada tak senang.</p>
<p>&#8220;Halo,&#8221; balasnya.</p>
<p>&#8220;Siapa? Ada apa ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anjing. Aku anjing.&#8221;</p>
<p>Mula-mula geli, tapi lebih ingin marah. Hanya orang gila yang bermain-main pada dini hari ini!</p>
<p>&#8220;Kau boleh tak percaya, boleh marah. Aku memang anjing. Dan aku ingin protes malam ini!&#8221;</p>
<p>Semestinya saya matikan saja ponsel itu. Tetapi entah kenapa saya jadi tertarik mendengar kata protes.<span id="more-142"></span></p>
<p>&#8220;Kau selalu membawa nama kami setiap melihat kekurangajaran, kelicikan, kerakusan yang dilakukan sesamamu sendiri.</p>
<p>Pejabat yang naik jabatan karena membayar ratusan juta kepada pimpinannya kau bilang anjing. Pimpinannya yang menerima sorongan nikmat itu juga kau bilang anjing. Lantas pejabat itu memanfaatkan jabatannya untuk mengembalikan modal dan mengeruk keuntungan pribadi, pun kau bilang anjing. Kreatiflah sedikit. Jangan bawa-bawa nama kami dalam setiap kejahatan manusia!&#8221;</p>
<p>Saya terdiam. Lancar betul dia bicara. Tak sedikit pun mahluk yang mengaku binatang itu ragu dengan ucapannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Ada orang yang kerjanya menjilat atasan, memijak bawahan, kau bilang anjing. Ada orang yang telah lanjut usia dengan segudang pengalaman dan akses, namun kerjanya merusuhi pekerjaan orang lain dengan semangat post power syndrome-nya, juga kau sebut anjing. Orang yang kau benci kau bilang anjing. Seakan-akan hanya anjinglah asal muasal kebencian, kejijikan, kemarahan!&#8221;</p>
<p>Bah! Kenapa dengan penelepon yang mengaku canis lupus familiaris ini! Dia terus merepeti saya, si pandir yang bangga lahir sebagai manusia ini. &#8220;Bagaimana kalian manusia ini bisa memandang begitu rendah kepada kami kaum anjing, sehingga nama kami selalu melekat pada hal-hal yang buruk.</p>
<p>Kau yang merasa manusia ini juga selalu menyeret-nyeret nama kami untuk tindakan yang menjijikkan. Ayah menyodomi anak kandung; anjing! Koruptor berwajah ulama; anjing! Seseorang tua yang mengaku sudah mapan, tinggal menunggu maut dengan menularkan ilmu, namun nyatanya menghasut demi merebut pekerjaan orang; anjing!</p>
<p>Tak adakah kebaikan yang pantas disandingkan dengan kami yang dilahirkan sebagai anjing ini? Lihatlah kebaikan yang ada pada kami. Kami tabah dan tahan banting. Di mana pun kami ditempatkan, kami tidak pernah menolak. Kami juga setia. Setia menjaga tuan kami dan rumahnya. Kami rela sedikit tidur demi menghargai komitmen kehidupan kami.  </p>
<p>Kami juga tidak pernah meminta lahir sebagai anjing! Tapi  jangan pula kau pikir kami ingin lahir sebagai manusia. Walaupun bisa berpikir, manusia juga binatang kan? Nafsu menekan dan menelan yang lemah juga ada pada manusia. Hanya karena manusia punya pikiran, tindakan hewani itu dibajui kesucian. Maka, kami yang anjing ini hanya tertawa saja, saat kau heran mengenang seorang pejabat yang terkenal taat beragama harus dibui bertahun-tahun karena korupsi.&#8221;</p>
<p>Bah! Anjing sudah terlalu maju dan berani menghujat manusia. Begitu fasih dia menyindir dengan berita-berita keruntuhan moral manusia. Seolah ingin mengatakan, kalian manusia, terkadang juga tidak lebih tinggi, bahkan lebih daripada anjing. Sindiran itu membuat dada terasa berat. Ingin saya banting ponsel ini, tapi terasa ada yang memegang tangan saya. Ada yang menekan dada dan terdengar lagi dering ponsel… Kali ini saya betul-betul terbangun.    </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=142&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/03/13/anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Papan Bunga di Kota Kami</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/27/papan-bunga-di-kota-kami/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/27/papan-bunga-di-kota-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2011 18:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Kemarin saya ikut menjemput Bang N. Syamsuddin Ch. Haesy di Bandara Polonia. Di tengah kesibukan memimpin Harian Jurnal Nasional dia meluangkan waktu mengunjungi kami untuk menularkan berbagai pengalaman dan pengetahuan. Medan tentu saja menarik perhatiannya. Berbagai tanggapan muncul. Salah satunya tentang gemarnya orang Medan mengirimkan ucapan selamat melalui papan bunga. Saya sempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=138&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama</p>
<p>Kemarin  saya ikut menjemput Bang N. Syamsuddin Ch. Haesy di Bandara Polonia. Di tengah kesibukan memimpin Harian Jurnal Nasional dia meluangkan waktu mengunjungi kami untuk menularkan berbagai pengalaman dan pengetahuan.</p>
<p>Medan tentu saja menarik perhatiannya. Berbagai tanggapan muncul. Salah satunya tentang gemarnya orang Medan mengirimkan ucapan selamat melalui papan bunga. Saya sempat tersentak dan begitu saja berkata,&#8221;Papan bunga menjadi ciri khas Medan. Ini kota papan  bunga  Bang.&#8221;<span id="more-138"></span></p>
<p>Memang, sesuatu yang biasa bagi kita, bisa jadi keanehan bagi orang lain. Anda yang tinggal di Medan mungkin biasa melihat jejeran papan bunga yang bahkan bisa sepanjang satu kilometer setiap ada hajatan maupun kemalangan di suatu tempat. Papan bunga telah menjadi dekor sebuah peristiwa kehidupan, baik suka maupun duka.</p>
<p>Belum ada orang yang meneliti secara khusus dan mendalam tradisi pengiriman papan bunga di Medan ini. Bahkan kawan saya yang kuliah S-2 antropologi di Unimed tak tertarik menelitinya. Hanya ada sedikit informasi dari sejarawan dari Unimed, Ichwan Azhari. &#8220;Saya sendiri kaget ketika pulang ke Medan tahun 2011. Papan bunga dan kibor adalah dua hal baru yang satu temukan di kota ini,&#8221;ucapnya saat diwawancarai wartawan salah satu koran besar di Indonesia.</p>
<p>Ikhwan yang sudah bertahun-tahun mencari ilmu di Jerman itu tak bisa memastikan sejak kapan tradisi itu muncul. Namun ia menduga tradisi itu muncul akibat pengaruh orang Eropa yang pada awal abad ke-20 banyak tinggal dan berinvestasi di kota ini. Kebiasaan mengirimkan papan bunga di daerah asalnya terus berlanjut di kota ini. Awalnya, menurut Ikhwan, usaha pembuatan dan pengiriman papan bunga ditangani orang Eropa, namun lama-kelamaan diikuti oleh perantau dari Tapanuli.</p>
<p>Informasi ini tentu jauh dari cukup. Saya tak ingin memaksa kawan mahasiswa S2 yang tak pernah lagi mengundang ngopi malam itu untuk meneliti tradisi ini. Saya hanya ingin memberi tahu kepadanya, pengiriman papan bunga itu sebuah kongkretisasi empati. Ikut merasa duka akibat kemalangan seorang teman seolah bisa diwakili dengan papan dan bunga plastik. Tak soal jika papan dan bunga plastik  itu minggu lalu digunakan sebagai ucapan turut berbahagia atas pernikahan seseorang yang lain.</p>
<p>Tradisi ini mengandung nilai ekonomis, politis, psikologis dalam tradisi. Bagi pengusaha papan bunga, banyaknya orderan tentu mendatangkan profit, sedangkan yang menerimanya minimal  mendapat benefit berupa promosi gratis yang menaikkan gengsi. Pada kalangan legislatif dan eksekutif, papan bunga menjadi penanda kondisi sebuah relasi politik, sehingga tidak sedikit pejabat dan politisi yang menganggarkan biaya pengiriman papan bunga. Penerima papan bunga juga bangga jika banyak mendapat kiriman papan bunga, apalagi dari seorang yang terkenal. Demi kebanggaan, banyak pemilik hajatan mengupayakan agar acaranya dihiasi papan bunga kiriman pejabat.</p>
<p>Tidak jarang pula tradisi ini membuat risih. Papan bunga yang dipamerkan di trotoar menggangu pejalan kaki yang sudah semakin tersudut oleh tiang-tiang billboard. Kerisihan juga bisa timbul bagi pemilik hajatan yang harus melunasi utang setelah pesta perkawinan anaknya. &#8220;Bah, banyak kali papan bunganya. Dari walikota ada. Gubernur ada. Anggota dewan juga. Tapi tak ada uangnya!&#8221; Mungkin ini ucapan seorang janda usai pesta perkawinan anaknya yang wartawan.</p>
<p>Lantas anaknya berusaha menghibur. &#8220;Nggak apa-apa Mak, yang penting gengsi. Kawan-kawan wirid Mamak tahu kalau Pak Walikota kenal sama Mamak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Papan bunga itu tak bisa dipakai bayar Wak Bedah, bidan pengantin kau,&#8221; ketus sang Mamak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=138&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/27/papan-bunga-di-kota-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teater Cikeusik</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/20/teater-cikeusik/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/20/teater-cikeusik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 07:27:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Teater pekerjaan besar. Ada semacam ambisi “menciptakan” kehidupan dan takdir tokoh di atas panggung. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan. Meletihkan memang. Anda yang merasa pekerja teater bolehlah cemburu pada saya yang tinggal menyisihkan sedikit uang lantas mendapat kekuasan di kursi penonton. Kekuasaan itu memberi kebebasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=135&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama</p>
<p>Teater pekerjaan besar.  Ada semacam ambisi “menciptakan” kehidupan dan takdir tokoh di atas panggung. Di balik semua itu, mengendap perasaan bersalah karena berusaha meniru-niru pekerjaan Tuhan.</p>
<p>       Meletihkan memang. Anda yang merasa pekerja teater bolehlah cemburu pada saya yang tinggal menyisihkan sedikit uang lantas mendapat kekuasan di kursi penonton. Kekuasaan itu memberi kebebasan menalar peristiwa yang di panggung. Saya dapat menilai kualitas tontonan itu sangat jauh di bawah kualitas garapan para pelaku  berbagai insiden bernuasa SARA yang terjadi di tanah air belakangan ini.<span id="more-135"></span></p>
<p>       Menonton kebrutalan terhadap penganut Ahmadiyah di Cikeusik misalnya. Saya seperti terlempar dan terlantar pada berbagai perasaan. Begitu hebat sutradara insiden tersebut melahirkan kebrutalan kolosal. Begitu yakin pula para pelaku menganiaya korban yang sudah tidak berdaya sambil menyerukan kebesaran nama Tuhan.  </p>
<p>       Para sutradara insiden bernuansa SARA itu begitu memahami perbedaan bisa memicu konflik dengan klimaks yang membekas pada diri penonton. Sutradara juga memahami ketakutan para petinggi berseberangan dengan tindak menyimpang si banyak. Ketakutan ini dikelola dengan baik, sehingga laku polisi yang tak bisa berbuat apa-apa dalam adegan pembantaian itu begitu meyakinkan. Sutradara itu juga begitu memahami karakter para pemain untuk menjalin peristiwa walau tanpa naskah yang utuh. Para sutradara jeli membaca kelabilan dalam bertoleransi. Kejelian ini sangat membantu mereka menempatkan kebrutalan dalam dekor keagamaan. Dekor ini begitu membantu penghayatan pelaku sehingga meyakini aksinya adalah kebenaran.</p>
<p>       Peristiwa mirip fiksi yang terjadi di Cikeusik ini tidak perlu membuat pelaku teater benaran kecil hati. Harus diakui kedahsyatan fakta hingga dapat menyerupai fiksi. Tak perlu juga gagap karena masyarakat penonton sudah begitu sering masuk dalam realitas imajinatif dan objektif di negeri ini. Tak usah merasa “kehidupan” yang diciptakan di panggung teater takkan bisa lagi menyaingi realitas yang dijalani dan ditonton masyarakat baik di panggung berbentu koran, telivisi, dan media digital.</p>
<p>       Saat melahirkan sebuah pementasan teater di gedung pertunjukan, pelaku teater telah menciptakan pertemuan antar manusia. Di gedung teater, manusia dari berbagai agama duduk menghadap panggung, menonton suguhan kisah manusia. Mungkin ada yang tersentuh dan bertahan hingga pertunjukan usai. Ada pula yang menggerutu lantas keluar gedung sambil menyalakan rokok.</p>
<p>Saya yakin mereka yang keluar sebelum pementasan usai tetap menyadari mereka hanya melihat pertunjukan, bukan peristiwa. Begitu juga yang bertahan, sedalam apapun ingatan pada satu-dua adegan, mereka tetap paham itu teater. Mereka tak pernah mengambil kesimpulan menonton teater itu selamanya membosankan atau memberi kenikmatan. Tak ada generalisasi di sini. Keyakinan ini juga saya tetap saya pegang saat menonton adegan Cikeusik di internet,  bahwa aksi pelaku tidak serta-merta mewakili keyakinan yang dianutnya.  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=135&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/20/teater-cikeusik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tertawa</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/14/tertawa/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/14/tertawa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Feb 2011 13:17:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Sesungguhnya saya ingin menampilkan catatan tentang perselingkuhan. Beberapa paragraf telah tersusun, namun gagal dilanjutkan. Bukan karena takut dibaca istri lalu dia menyangka saya menulis pengalaman pribadi. Tulisan itu gagal dilanjutkan hanya karena saya geram pada tawa anak kos di depan rumah. Anda boleh menyebut saya berapologi. Faktanya, saya langsung keluar rumah, mengingatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=131&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama</p>
<p>Sesungguhnya saya ingin menampilkan catatan tentang perselingkuhan. Beberapa paragraf telah tersusun, namun gagal dilanjutkan. Bukan karena takut dibaca istri lalu dia menyangka saya menulis pengalaman pribadi. Tulisan itu gagal dilanjutkan hanya karena saya geram pada tawa anak kos di depan rumah.  </p>
<p>Anda boleh menyebut saya berapologi. Faktanya, saya langsung keluar rumah, mengingatkan para mahasiswa itu bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Mereka meminta maaf. Saya tak menanggapinya, lalu pulang ke rumah dan dengan geram membanting pintu. Tak sampai dua detik, melengking tangis anak yang baru berusia jalan tujuh bulan. Pasti karena suara bantingan pintu, bukan karena tawa mahasiswa itu…<span id="more-131"></span></p>
<p>Saya tak tahu apakah para mahasiswa itu sehat dan akan awet muda nantinya karena gemar tertawa. Banyak pakar bilang, tertawa itu menyehatkan. Di sebuah situs internet ada tulisan tentang Universitas Indian State melakukan penelitian terhadap 30-an perempuan yang sehat. Setengah dari mereka disuruh menonton film komedi, separuh lagi film wisata. Setelah film selesai, peneliti mengambil sample sel kekebalan tubuh mereka lalu mencampurkannnya dengan sel kanker. Hasilnya menunjukkan, perempuan yang tertawa karena menonton film komedi itu memiliki sistem kekebalan yang lebih sehat dibandingkan mereka yang menonton film wisata.</p>
<p>Tertawa itu memang menyehatkan. Aktivitas tawa membantu otot bagian bawah perut, bahu maupun dada berkontraksi hingga meningkatkan daya kerja jantung. Oksigen yang terhirup saat tertawa juga lebih banyak. Tertawa juga membuat perasaan dan pikiran menjadi lebih segar.  </p>
<p>Begitu nikmatnya tertawa hingga membuat kita selalu senang berteman dengan orang yang dapat membuat tertawa. Saya juga punya teman di Taman Budaya Sumatera Utara yang selalu bisa membuat kita tergelak. Eddy Siswanto namanya.</p>
<p>&#8220;Kalian pikir enak kali ya aku jadi PNS. Itulah pekerjaan yang paling menyiksa. Kerjanya setiap hari adalah pura-pura bekerja,&#8221; katanya saat kami bertemu beberapa hari setelah insiden tawa mahasiwa di depan rumah saya.</p>
<p>Saya tertawa, hanya tidak sampai berderai-derai. Kurang menggigit. Eddy jadi penasaran. Lantas dia menceritakan temannya yang juga PNS. Teman itu sangat gugup saat ditelepon atasannya. Soalnya, waktu itu kancing bajunya lepas. &#8220;Jadi waktu menelepon itu dia mengikat kancing bajunya dan membungkuk-bungkuk saat mendengar perintah dari telepon. &#8216;Iya, Pak. Iya Pak&#8217;&#8221; katanya sambil memeragakan gaya temannya yang tak sengaja terbungkuk-bungkuk mendengar perintah atasan melalui telepon.</p>
<p>Kali ini saya tertawa lepas. Ada kesegaran menyiram perasAan. Tidak puas, lantas saya memancingnya dengan segela kopi susu agar terus mengobrol. Apa katanya saat kopi susu itu disajikan? &#8220;Besok jam-jam segini juga kan?&#8221;</p>
<p>Saya tertawa lagi, namun sempat berhenti. Saya teringat Zeuxis, pelukis Yunani tertawa terbahak-bahak melihat lukisan wanita yang baru diselesaikannya, lalu sesak nafas dan mati. Teringat pula pada penulis Italia Pietro Aretino tertawa mendengar cerita jorok dari saudara perempuannya, hingga ia terjungkal dari kursi, kejang-kejang lalu meninggal.  Saya juga tak bisa membayangkan bagaimana komedian Yunani, Philemon yang mati karena menertawai leluconnya sendiri. Anehnya, cerita ini bukan membuat takut, malah saya jadi tertawa lagi.</p>
<p>Eddy bingung. &#8220;Ketawamu bersambung-sambung ya Ja.&#8221;</p>
<p>Saya makin terbahak-bahak. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=131&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/14/tertawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mandi</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/05/mandi/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/05/mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 07:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama S emalam kawan saya berulang tahun. Dia mengajak minum kopi. Malam tentunya. &#8220;Kita masih buruh, belum majikan. Makanya waktu yang tepat malam,&#8221; katanya seakan lupa dia juga bekerja di koran. Tetapi apa guna memperdebatkan undangan minum kopi? Tentu saja saya tak menolak walaupun belum tahu tema apa yang jadi obrolan menarik nantinya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=127&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama</p>
<p>S emalam kawan saya berulang tahun. Dia mengajak minum kopi. Malam tentunya. &#8220;Kita masih buruh, belum majikan. Makanya waktu yang tepat malam,&#8221; katanya seakan lupa dia juga bekerja di koran. Tetapi apa guna memperdebatkan undangan minum kopi? Tentu saja saya tak menolak walaupun belum tahu tema apa yang jadi obrolan menarik nantinya.</p>
<p>Baru beberapa saat duduk, kawan yang rajin menulis cerpen ini, langsung bicara. &#8220;Aku tak butuh ucapan ulang tahun. Yang perlu kuberitahu kepadamu, aku telah berjanji kepada diri sendiri tidak mandi pada hari ulang tahunku ini,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Sadarlah saya, ternyata bau tak enak yang mengganggu hidung merebak dari tubuhnya. Saya tak mau berpikir jauh. Saya juga tak mau melihat janjinya itu lahir dari keunikan berpikir seorang seniman. Mungkin dia ingin membuat sejarah pada hari bersejarah dalam hidupnya: tak mandi seharian.</p>
<p>Kita telah terbiasa mandi. Aktivitas personal pada hari baru tak lepas dari mandi. Selain memberi kesegaran, juga membebaskan tubuh dari kesumukan dan kerisihan. Kesumukan dan kerisihan itu juga bisa menular ke orang lain, jika saya yang tak mandi berinteraksi dengan orang lain. Mandi menjadi kian penting bagi fungsi personal dan sosial tubuh.<span id="more-127"></span></p>
<p>Secara medis, mandi juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Malah, katanya, berendam di air hangat selama setengah jam dapat menurunkan kadar gula darah sekitar 13 persen dan menyehatkan jantung. Saat mandi, ada yang perasaan ingin bebas dari segala macam kotoran yang lekat di tubuh. Perasaan ini mendapat respons dari air yang mengaliri tubuh.</p>
<p>Perjalanan waktu juga mendorong mandi menjadi sesuatu yang lebih pribadi. Bagi sebagian orang, mungkin juga kawan saya yang ulang tahun itu, kamar mandi di rumah menjadi momen penyegaran bagi tubuh setelah dibelenggu aturan-aturan sosial. Seperti handuk, kamar mandi juga selalu merahasiakan ketelanjangan yang selalu kita sembunyi di balik baju.</p>
<p>Tetapi tunggu dulu! Kamar mandi juga selalu merahasiakan seandainya ada orang iseng atau jahat yang memasangkan kamera kecil di sana…</p>
<p>Saya jadi ingat Raja Phrygia, Midas, yang memiliki telinga keledai. Dia dikutuk Apollo karena tidak bisa membedakan musik yang baik dan buruk. Midas berusaha menyembunyikan telinganya. Dia menutupinya dengan topi. Menyuap tukang cukur  agar  tidak membongkar rahasianya. Namun dia tidak tahan juga, lalu menggali tanah dan berbisik di dalam lubang itu, &#8220;Midas mempunyai telinga keledai,&#8221; lalu menutup galian itu lagi. Midas puas telah membongkar rahasia itu di lubang yang digalinya sendiri. Namun dia tidak sadar, dari tanah tersebut muncul ilalang yang terus-menerus menyanyikan rahasia itu bersama angin, hingga seluruh rakyat mengetahuinya.  </p>
<p>Dalam kamar mandi dan mandi, rahasia tubuh memang mendapat kenyamanan. Seburuk apa pun kotoran yang melekat di tubuh disapu busa sabun dan air. Sehabis mandi, tubuh bebas dari kotoran. Namun kita tak pernah bisa melupakan bau yang pernah lekat di tubuh. Ada hati selalu mengingatkan agar membersihkan tubuh dari segala kotoran. Ingatan itulah yang mendorong kita mandi setiap hari. Lantas timbul pula pertanyaan, apakah dalam beraktivitas dalam kehidupan sosial, hanya tubuh yang dapat menjadi kotor? Aktivitas sosial tubuh melibatkan hati, pikiran, dan perasaan yang juga rentan kotor. Lantas, bukankah hati, pikiran, dan perasaan perlu juga mandi? Kalau begitu, perlu juga kamar mandi untuk pikiran, hati, dan perasaan kita…</p>
<p>Kawan saya tertawa. Pikiran saya buyar.</p>
<p>&#8220;Memang badanku bau, tapi hati, perasaan, dan pikiranku wangi. Lebih wangi dari kopi ini,&#8221; ujarnya pelan lalu meneguk kopi yang baru saja tersaji di meja kami.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=127&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/02/05/mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rakyat</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/22/rakyat/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/22/rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Jan 2011 08:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Rakyat memang hebat. Tak ada negara tanpa rakyat. Namanya keramat. Selalu jadi ajimat legislator dan pejabat. Rakyat memang tenar. Namanya selalu dibawa-bawa, apalagi dalam rapat-rapat anggota dewan. Mau kritik pejabat, angkat nama rakyat. Pejabat yang paham juga menjunjung nama rakyat. Akhirnya, politisi dan pejabat saling jabat kemudian nyanyi di sebuah karaoke atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=124&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Teja Purnama </p>
<p>Rakyat memang hebat. Tak ada negara tanpa rakyat. Namanya keramat. Selalu jadi ajimat legislator dan pejabat.<span id="more-124"></span></p>
<p>Rakyat memang tenar. Namanya selalu dibawa-bawa, apalagi dalam rapat-rapat anggota dewan. Mau kritik pejabat, angkat nama rakyat. Pejabat yang paham juga menjunjung nama rakyat. Akhirnya, politisi dan pejabat saling jabat kemudian nyanyi di sebuah karaoke atas nama rakyat!</p>
<p>Rakyat memang menggairah. Membangkitkan birahi kekuasaan yang tak pernah selesai. Segala cumbu, segala rayu, harus dilancarkan untuk mendekati rakyat, terutama pada musim pemilihan. Jaga perasaannya. Sedapat mungkin penuhi permintaannya. Kalau pun menolak jangan berterus-terang.  Jaga perasaannya. Jangan sampai mereka tersinggung, bisa gawat perolehan suara. Kalau sudah terpilih, lain pula ceritanya…<br />
Suara rakyat memang dahsyat. Dapat melahirkan puting-beliung kekuasaan. Memporak-porandakan istana kerajaan. Ada pula yang bilang suara rakyat, suara Tuhan. Wajib didengar. Perintahnya jalankan, larangannya jangan kerjakan. Guru PMP kita di SD juga bilang, pemerintahan kita pemerintahan rakyat. Itu artinya, kalau masih banyak rakyat lapar, pemerintahan kita juga lapar. Makanya jangan heran kalau banyak orang pemerintahan korupsi. Sepertinya rakyat, mereka juga lapar. Rakyat lapar nasi, mungkin mereka lapar gengsi hingga merasa harus punya rumah bak istana, belasan mobil, juga helikopter!</p>
<p>Rakyat memang miskin, tetapi kaya. Sangkin miskinnya, mau main teater di median jalan berperan sebagai pengemis. Sangking kayanya diam saja melihat wakil-wakilnya liburan ke luar negeri dengan alasan studi banding.</p>
<p>Rakyat memang tak mau susah berpikir. Di bawah panas terik, mendengar janji-janji penguasa yang tak pernah terwujud. Rakyat lupa atau berpura melupakannya. Sang penguasa tenang-tenang saja. Soalnya, dia yang mengongkosi rakyat mendengar janji-janji kampanye.  Dia pula yang menyelipkan amplop berisi uang ke saku rakyat beberapa jam sebelum hari pemungutan suara. Dan rakyat menerima. Rakyat tentu saja menerimanya. Bukankah setengah mati mencari uang seratus ribu perak sekarang? Lantas, soal janji… ya… sudahlah, pemimpin mana yang tidak ingkar janji. Lho?</p>
<p>Rakyat memang ada di mana-mana. Di mana pun, dia terlihat. Di gang kumuh berlumpur, pinggiran rel kereta api dan sungai, pajak yang becek, mal, plaza. Pokoknya, di mana-manalah. Bahkan, saat sendirian di muka cermin, kamu melihat rakyat.</p>
<p>&#8220;Kamu rakyat?&#8221; kata orang di dalam cermin.</p>
<p>Terserah kamu mau jawab apa. Bisa saja kamu menjawab, &#8220;Saya wakil rakyat! Kamu?&#8221;</p>
<p>Orang dalam cermin itu tersenyum seperti mengingat sebuah lelucon di sebuah situs internet. &#8220;Saya rakyat. Dan sekarang saya ingin merampok. Serahkan uangmu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tak punya uang. Dan kamu harus ingat, saya anggota DPR, wakil rakyat!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu kembalikan uang saya.&#8221;</p>
<p>Rakyat memang suka yang lucu-lucu. Tidak heran, banyak penguasa bermain komedi. Penguasa selalu bilang, koruptor itu mirip tikus, mengendus-endus, ada kesempatan, libas terus, dan sembunyi di balik lubang kakus. Belakangan setelah ngomong begitu, dia harus meringkuk karena terbukti korupsi. Jelas, ini komedi. Dan katanya, komedi itu puncak tragedi. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=124&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/22/rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bunuh Diri</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/15/bunuh-diri/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/15/bunuh-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 02:21:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Bagaimana cara bunuh diri yang indah agar menjadi kenangan sepanjang masa? Teman saya, seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang, pernah berimajinasi mengiris nadinya, lantas aliran darah menjadi tinta untuk menulis surat terakhir bagi kekasihnya. Kawan saya, seorang seniman juga sempat berpikir bunuh diri demi melahirkan karya: yakni memutilasi diri sendiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=118&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Teja Purnama</p>
<p> Bagaimana cara bunuh diri yang indah agar menjadi kenangan sepanjang masa? Teman saya, seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan suami orang, pernah berimajinasi mengiris nadinya, lantas aliran darah menjadi tinta untuk menulis surat terakhir bagi kekasihnya. Kawan saya, seorang seniman juga sempat berpikir bunuh diri demi melahirkan karya: yakni memutilasi diri sendiri dan merekam segala proses penganiayaan itu.<span id="more-118"></span></p>
<p>Mungkin pertanyaan itu tidak terlintas dalam benak Heldi Syahputra alias Wak Anjang, penarik becak yang tinggal di Jalan Selamat Simpang Limun Medan, yang mengakhiri hidupnya pada 11 Januari lalu,  dengan gantung diri di kamar mandi karena penyakitnya tak kunjung sembuh. Pun barangkali tidak terpikir oleh Zulkifli (37) warga Jalan Gaperta Medan yang juga gantung diri setelah sekian lama tidak bekerja dan sering mendapat omelan dari istrinya. Keduanya memilih cara gampang. Tidak pula meniru beberapa pelaku bunuh diri di Jakarta yang lompat dari tempat tinggi di keramaian plaza sebagaimana terjadi beberapa hari sebelumnya. Jangan tanya pula saya mana yang paling sakit: gantung diri atau terjun bebas. Yang jelas dua-duanya sakit.</p>
<p>Herannya, walaupun sakit, bunuh diri mengiringi perjalanan kehidupan manusia. Bukan hanya mereka yang awam dan miskin. Mereka yang telah kaya-raya, cerdas, dan berimajinasi juga mengakhiri hidup sendiri. Seniman besar juga melakukannya. Mungkin paling banyak di Jepang yang memang mempunyai tradisi bunuh diri sebagaimana dilakukan antara lain oleh Ryunosuke dan Mishima. Seniman dari barat juga tak luput dari godaan maut ini, di antaranya Van Gogh yang menembak dadanya sendiri, Virginia Wolf mengisi kantong-kantong bajunya dengan batu lalu menenggelamkan diri ke Sungai Ouse, Sussex, Inggris, Sylvia Plath menggunakan gas, juga Kurt Cobain menembak diri sendiri. Masih banyak nama tenar lain bisa dijejerkan.</p>
<p>Saya sempat membaca di salah satu situs, hasil penelitian Amerika Foundation for Suicide Prevention pada tahun 2000 menunjukkan manusia kreatif lebih berisiko terkena depresi lalu bunuh diri. Sebelumnya, pada 1992  A Lugwig juga pernah melakukan studi sebelum menyimpulkan kemungkinan seniman dan penulis bunuh diri 18 kali lebih besar daripada orang biasa. Tetapi tentu terlalu naïf kalau kita ingin menjadi depresi agar dapat menjadi orang yang kreatif. Seseorang yang menderita depresi belum tentu memiliki kreativitas yang tinggi.</p>
<p>Pisau absurditas hidup telah menyayat-nyayat mental. Mungkin inilah salah satu pendorong seseorang bunuh diri. Dia merasa hidup tidak bermakna. Bodoh, hanya menyajikankan kebuntuan demi kebuntuan. Jiwa pun terjebak dalam labirin ciptaan Daedalus, tempat Raja Minos memelihara Minotaur, monster bertubuh manusia namun berkepala lembu.</p>
<p>Kegelapan dan ketidakbermaknaan ini mungkin kian menyayat hati seorang penarik becak, yang untuk menutupi utang kemarin agar dapat berutang lagi terpaksa melawan keletihan.  Di pihak lain, seorang anak merengek tak mau minum susu dan makan semur ayam karena papinya belum pulang membawa BlackBerry. Seorang warga negara tak berani pulang ke rumah karena belum bisa membayar hutang kepada tetangganya, sedangkan pimpinan negaranya terus menumpuk hutang luar negeri. Sarjana dengan nilai tinggi bertahun-tahun tak dapat kerja, sedangkan anak  pejabat yang pendidikannya pas-pasan begitu gampang dan enaknya meminta proyek di berbagai instansi. Aih! Kita memang hidup dalam absurditas. Yang dulu fiksi telah menjadi fakta, bahkan terkalahkan. Bukankah seperti dalam novel dan cerpen jika ayah menyodomi anak kandungnya?</p>
<p>Absurditas telah menyuntikkan pikiran tentang tidak berartinya hidup ke sebagian orang dan tak jarang mementalkan keinginan hidup orang itu ke jurang maut tak berdasar. Ini penting dibicarakan, karena sangat berkaitan dengan hidup yang merupakan salah satu pertanyaan mendasar setiap filsuf. Kebermaknaan hidup memang sangat tergantung pada kemampuan mental dan spiritual personal, namun jangan lupakan, personal-personal itu tumbuh dalam masyarakat sebuah negara yang punya beragam aturan, kebijakan, dan pemimpin.</p>
<p>Bunuh diri bukan masalah sepele. Albert Camus, sastrawan dan filsuf Prancis, menyisihkan banyak waktu untuk memikirkannya. Lantas ia menemukan cerita Sisifus lantas mengidolakan tokoh itu. Sisifus yang dikutuk mendorong batu ke puncak lantas batu itu kembali bergulir ke bawah, lalu didorongnya lagi, menggelinding lagi, dan begitu seterusnya. Sisifus telah mengejek kekuasaan para dewa dan siap menerima segala risiko. Dia memberontak dan tetap menjalankan kutukannya. Dan Camus pun mengajak kita membayangkan &#8220;Pemberontak&#8221; itu berbahagia menjalani kutukannya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=118&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/15/bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/10/air/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/10/air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 13:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Waktu masih kanak-kanak, hujan selalu menggelegakkan naluri bermain. Hujan pula menjerang kekesalan emak karena ayah selalu selalu mengizinkan saya mandi hujan. Ayah selalu membuka pintu yang tadinya dikunci emak, menyuruh saya menunggu beberapa saat, baru kemudian membiarkan saya bergabung dengan anak-anak lain yang telah basah kuyup. Emak merepet, ayah hanya diam menonton [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=115&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Catatan Teja Purnama </em></p>
<p>        Waktu masih kanak-kanak, hujan selalu menggelegakkan naluri bermain. Hujan pula menjerang kekesalan emak karena ayah selalu selalu mengizinkan saya mandi hujan. Ayah selalu  membuka pintu yang tadinya dikunci emak, menyuruh saya menunggu beberapa saat, baru kemudian membiarkan saya bergabung dengan anak-anak lain yang telah basah kuyup. Emak merepet,  ayah hanya diam  menonton saya menggauli air. <span id="more-115"></span></p>
<p>        Menggauli air. Entah kenapa kata “menggauli” yang terpilih! Apakah karena memang air pasangan hidup yang selalu mendampingi kehidupan saya? Itu mungkin salah. Barangkali yang benar, air mendampingi kehidupan seluruh manusia! Guru geografi saya waktu  SMP menyebutkan duapertiga bumi ini terdiri dari air. Guru biologi juga mengatakan sebagian besar tubuh terdiri dari cairan dan begitu  mengagungkan peran  darah. Saya juga pernah memanfaatkan suasana air Sembahe untuk membujuk mantan pacar agar mau beromantis-romantis, namun sialnya berujung pada bentakan kesal, “Kamu juga ada karena air suci papamu!”</p>
<p>       Wah, hebat betul air! Kehebatannya menumbuhkan kebutuhan untuk menggaulinya. Setiap hari. Dan dia tak memaksa, apalagi memerkosa!  </p>
<p>          Air selalu mengalah, namun sesungguhnya menunjukkan kegesitan bertenaga menyikapi tantangan, gigih meraih keinginan. Batu menghalang di sungai, dia memecah, mencari celah  menghindari konflik, lalu menyatu kembali menuju tujuan. .</p>
<p>          Kegesitan dan tenaga air dalam menyikapi keadaan mungkin dapat digambarkan dengan banjir yang merendam beberapa kecamatan di Medan pada pekan pertama 2011. Ada yang bilang, banjir itu yang terparah sejak 2002. Ketinggian air nyaris mencapai atap rumah.</p>
<p>         Air jadi bala. Padahal dia hanya mengikuti jalan alam. Matahari  membuatnya menguap. Sudah pula dia mengawan, bermain dengan angin,  menggumpal, saling tindih, mencapai atmosfer dingin, memberat, hingga angin rela melepasnya menjadi hujan. Dia pun  turun mencari wadahnya agar tak ada yang terganggu. Tetapi bagaimana wadah itu? Sungai kian dangkal. Menjadi tong sampah segala sampah. Mulai sampah dapur, tubuh, bahkan mayat orok. Jangan tanya pula soal Daerah Aliran Sungai (DAS). Wadah penampung sekaligus penyalur hujan ke sungai-sungai kecil itu telah babak-belur. Fungsinya ditanggalkan kepentingan bisnis. Lalu bagaimana dengan kanal yang telah dibangun? Lihat saja sendiri, apakah wadah yang dibangun dengan pajak dan retribusi dapat bekerja maksimal? Apakah wadah itu hanya berorientasi proyek menguntungkan hingga terabaikan perencanaan dan pertimbangan peta sungai? Saya tak bisa menjawabnya. Saya juga takut jawaban itu bermetamorfosa jadi fitnah.</p>
<p>        Mungkin lebih baik mengenang kesenangan masa kecil. Bermain bola plastik di bawah hujan. Tak ada yang tahu saya sengaja pipis di celana demi kehangatan, karena semua sudah basah. Tak takut baju kotor karena air hujan bakal melunturkannya. Yang saya takut demam setelah mandi hujan. Soalnya, selain bisingnya repetan dan sakitnya cubitan emak, saya juga harus menelan obat. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=115&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2011/01/10/air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warung Nasi Legislator</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/18/warung-nasi-legislator/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/18/warung-nasi-legislator/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Dec 2010 11:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Malam menyiramkan hujan saat saya dan seorang teman melintas di kawasan Pasar Peringgan. Dengan sigap teman saya menghentikan sepeda motornya ke sebuah warung nasi. &#8220;Makan dulu, sekalian berteduh,&#8221; ajaknya. Tak sulit mencari tempat. Hanya ada sekelompok perempuan menunggu pesanan. Sekejap duduk, datang anak belasan tahun membawa cuci tangan dan segelas air hangat. Dia tanya pesanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=112&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam menyiramkan hujan saat saya dan seorang teman melintas di kawasan Pasar Peringgan. Dengan sigap teman saya menghentikan sepeda motornya ke sebuah warung nasi. &#8220;Makan dulu, sekalian berteduh,&#8221; ajaknya.     </p>
<p>Tak sulit mencari tempat. Hanya ada sekelompok perempuan menunggu pesanan. Sekejap duduk, datang anak belasan tahun membawa cuci tangan dan segelas air hangat. Dia tanya pesanan kami. &#8220;Taruh aja semua. Biar kami lihat dulu,&#8221; jawab kawan saya.<span id="more-112"></span></p>
<p>Saya tersenyum. Kami hanya makan di warung tepi jalan, tetapi meminta pelayanan seperti restoran berkelas… Ini jelas membuang-buang waktu dan tenaga pelayan tadi. Lagipula apa mungkin mencicipi semua yang disajikan pelayan itu? &#8220;Lucu pelayan tadi. Dia pikir tak mungkin kita mencicipi semua yang dihidangkannya. Kalau kita mau dan mampu membayar kenapa rupanya?&#8221; ucap kawan ini seolah tahu apa yang melintas di pikiran saya.</p>
<p>Kali ini saya tertawa. Sikapnya mengingatkan saya pada anggota legislatif kita yang tak mau melewatkan setiap kesempatan yang disajikan undang-undang dan negara. Studi banding ke luar kota, ke luar negeri misalnya. Kegiatan ini salah satu dari banyak sajian yang konstitusional. Karena tak menyalahi aturan, mereka langsung melahapnya. Soal penting atau tidak hasil studi banding, itu tak penting. Yang penting sudah dianggarkan dalam APBD maupun APBN, sayang kalau tak dimanfaatkan. Bukankah ini sama dengan mencicipi seluruh hidangan yang disajikan pelayan rumah makan, tanpa berpikir itu perlu atau hanya melampiaskan nafsu hedonis?</p>
<p>Bisa saja kita menyalahkan peraturan yang memberi peluang hedonis itu. Dan itu sama saja menyalahkan legislator. Merekalah yang menggodok aturan itu.</p>
<p>Begitu juga rencana pemerintah, termasuk Pemko Medan, menyedot pajak dari warung-warung nasi seperti yang kami singgah ini. Pertengahan Desember 2010 ini, DPRD Medan telah membentuk panitia khusus untuk menggodok rancangan aturan yang telah disiapkan eksekutif. Di mata konstitusi mereka berhak menggodok aturan itu. Padahal mungkin saja mereka tak  pernah merasakan lumpur di pasar pagi, sengat irisan bawang merah dan putih, percik minyak makan di wajan, kelelahan memasang tenda, kecemasan membayar gaji pelayan, sewa tempat, uang kebersihan, juga keamanan. Dan memang itu tak diatur. Tetapi kalau pun merasakan pahit getir pedagang diatur dalam undang-undang seperti program perjalanan dinas, apakah para legislator itu mau melakukannya?</p>
<p>Tentu legislator itu tahu, sejarah mencatat pajak momok menakutkan yang akhirnya menimbulkan keberanian memberontak.  Revolusi Prancis pecah juga karena pajak menginjak-injak perut yang lapar. Perang 100 tahun antara Inggris dan Prancis sejak tahun 1337sampai 1453 M juga dipicu pemberontakan para bangsawan Aquitaine karena pajak yang menekan.</p>
<p>Kita tahu pajak dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan bersama. Dan kita tak butuh jalan berlubang, genangan air setiap hujan turun karena drainase yang buruk, lampu jalan yang selalu padam, traffic light yang malah menimbulkan kemacetan, juga pasar becek bau apek!</p>
<p>Tentu kita boleh juga bertanya, apakah rencana mengutip pajak pedagang makanan dan minuman, terutama yang di pinggir jalan ini, tidak rentan menjadi lahan korupsi baru. Soalnya, belum apa-apa, telah dirancang besar pajak yang harus dibayar, yakni 10 persen dari besar omzet minimal Rp 5 juta.  Padahal, sampai kini baik Pemko maupun DPRD Medan belum tahu jumlah pemilik warung terutama di pinggir jalan. Lantas bagaimana kita mengawasinya?</p>
<p>Saya tersenyum lagi. Bukan karena seluruh menu telah disajikan dan kawan saya langsung memulai ritual makan malamnya. Bukan teringat kembali pada legislator yang melahap seluruh sajian konstitusional. Saya tersenyum mengenang cerita ayah tentang seorang perempuan yang hidup saat pendudukan Kekaisaran Roma di Inggris. Perempuan itu adalah  Lady Godiva. Dia meminta suaminya Earl of Mercia mengurangi beban pajak rakyat, jika tak ingin dia berjalan telanjang keliling kota&#8230;</p>
<p>Saya sulit berharap ada Lady Godiva di Indonesia.  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=112&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/18/warung-nasi-legislator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perawan, Panggaron, Semprit</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/06/perawan-panggaron-semprit/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/06/perawan-panggaron-semprit/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 03:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teja purnama</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama Setiap orang punya kenangan dan izinkan saya mengenang kawan lama. Panggaron bukan namanya, tetapi saya sering menyapanya demikian. Bayangnya muncul setelah membaca pernyataan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief yang mengatakan, tahun 2010 sebanyak 52 persen remaja perempuan di Medan sudah tak perawan lagi. Tak tahu bagaimana sikap Panggaron [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=108&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Teja Purnama</p>
<p>Setiap orang punya kenangan dan izinkan saya mengenang kawan lama. Panggaron bukan namanya, tetapi saya sering menyapanya demikian. Bayangnya muncul setelah membaca pernyataan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief yang mengatakan, tahun 2010 sebanyak 52 persen remaja perempuan di Medan sudah tak perawan lagi. Tak tahu bagaimana sikap Panggaron sekarang menanggapi berita ini. Soalnya, dulu dia pernah bilang, &#8220;Hati-hati cari istri, supaya dapat yang perawan.&#8221;<span id="more-108"></span></p>
<p>Baginya keperawanan perempuan yang belum menikah mutlak. Malah, dia mengaku, pernah memaksa perempuan yang telah dipacarinya selama empat tahun memeriksa keperawanan. Hasilnya, masih perawan. (Tapi, jangan pikir Panggaron menikahinya. Dia malah menyunting gadis lain!).</p>
<p>Saya tidak mau menyalahkan atau membenarkan Panggaron. Sikap itu bisa saja lahir dari norma yang tumbuh dalam dirinya. Agamanya sangat tegas melarang menampakkan aurat kepada orang lain, apalagi sampai berhubungan intim dengan orang yang belum dinikahinya.</p>
<p>Terlalu cepat juga membenarkan sikap Panggaron. Harus diketahui dulu, apakah sikap ini lahir sebuah kesombongan dunia lelaki atau tidak. Sangat jelas realitas sosial selalu menempatkan perempuan pada posisi terpinggirkan. Selaput darah yang pecah dalam persetubuhan sebelum pernikahan itu hanya melekatkan stigma pada perempuan, tidak pada lelaki.</p>
<p>Ketidakadilan ini menyakitkan. Lelaki mempunyai peran sama dalam seks bebas itu, bahkan sering lebih besar. Tidak sedikit pula remaja perempuan harus tertekan akibat ditinggal lelaki yang telah merenggut keperawanan. Banyak di antaranya mereka kehilangan tujuan mulia. Ada yang bunuh diri, tak berani menikah, terpental ke jurang prostitusi, ada pula yang kian buas melampiaskan birahi.</p>
<p>Saya jadi teringat Semprit (ini pun bukan nama aslinya). Ceritanya, dia sempat dua tahun dekat dengan perempuan muda yang tak perawan lagi. Tidak sekali dalam seminggu mereka melampiaskan naluri seks secara bebas di hotel kelas melati di Padang Bulan.</p>
<p>Herannya, dia bukannya tak tahu perempuan itu juga menjalin hubungan dengan lelaki lain. Itu tak masalah. Dia pernah bilang, seks itu seperti makan dan minum. Kalau lapar ya makan, haus ya minum. &#8220;Dan tau nggak kau, seks itu memiliki kehidupan sendiri. Tidak bisa dikaitkan dengan keseluruhan kepribadian manusia. Seks kebutuhan yang perlu dipenuhi,&#8221; ucapnya waktu saya menumpang tidur di kamar kosnya.</p>
<p>Seolah tak tahu saya sudah ngantuk berat, ia terus berkhotbah dari tempat tidurnya. Dibawa-bawanya pula Freud yang sudah jadi tanah dengan mengatakan perilaku manusia lebih didorong libido.</p>
<p>Menurutnya, libido terus mengiringi perjalanan manusia dan kebudayaan. Candi-candi peninggalan kerajaan Hindu dapat membuktinya. Di peninggalan bersejarah itu banyak ditemui perlambang hubungan seks perempuan dan lelaki. Zaman sekarang ini jangan tanya lagi. Libido mendapat berbagai saluran, apalagi dengan kemajuan teknologi komunikasi. Bukan tidak mungkin perkembangan ini mendorong revolusi birahi di Indonesia. Yeah!</p>
<p>Saya selalu tercenung saat mengingat khotbah di atas ranjang itu. Dan lebih jauh lagi tercenung membayangkan Panggaron yang harus bercerai dengan istrinya karena ketahuan berselingkuh dengan mahasiswa. Tidak terbayangkan, jika semua lelaki berpikir seperti mereka. Bagaimana dengan perempuan yang terlanjur kehilangan keperawanannya? Apakah perempuan itu perlu operasi mengembalikan keperawanan untuk mengelabui lelaki di malam pertama? Atau berdiam diri saja menunggu lelaki berwajah cinta dengan pisau syahwat terselip di balik bajunya?</p>
<p>Saya jadi menyesal. Semestinya sejak dulu saya  mengingatkan mereka bahwa agama tidak membenarkan umatnya mengumbar birahi secara bebas. Agama juga hadir untuk membebaskan manusia dari penindasan manusia lainnya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&amp;blog=3914776&amp;post=108&amp;subd=tejamu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2010/12/06/perawan-panggaron-semprit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
