<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>apakata</title>
	<atom:link href="http://tejamu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tejamu.wordpress.com</link>
	<description>catatan teja purnama</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Oct 2009 02:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='tejamu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/6d0eb2b08050e14dc54a257efd04befd?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>apakata</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tejamu.wordpress.com/osd.xml" title="apakata" />
		<item>
		<title>Tubuh Miyabi</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2009/10/17/tubuh-miyabi/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2009/10/17/tubuh-miyabi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 02:23:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama
Sepotong malam, sehabis gerimis. Merdeka Walk tak sunyi, juga tak ramai pengunjung. Seorang teman yang baru pulang dari Malaysia dan Brunei Darussalam mengeluh. Bukan soal diskriminasi orang Indonesia yang dialaminya, bukan pula soal sulitnya dia mencari kekurangan negara tetangga itu jika dibanding dengan kota kita, melainkan tentang perempuan yang melenggang di samping meja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=96&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Catatan Teja Purnama</em></p>
<p>Sepotong malam, sehabis gerimis. Merdeka Walk tak sunyi, juga tak ramai pengunjung. Seorang teman yang baru pulang dari Malaysia dan Brunei Darussalam mengeluh. Bukan soal diskriminasi orang Indonesia yang dialaminya, bukan pula soal sulitnya dia mencari kekurangan negara tetangga itu jika dibanding dengan kota kita, melainkan tentang perempuan yang melenggang di samping meja kami.<span id="more-96"></span><br />
”Aku paling benci melihat perempuan yang memamerkan tubuhnya,” ujarnya seraya menunjukkan perempuan itu dengan kepalanya.<br />
Spontan saya mengikuti arah kepalanya. Yaaa… terlihatlah pemandangan itu. Rambut panjang tergerai. <em>Hot pants</em> memajangkan panjang dan putih mulus paha-kakinya. Ditambah lagi gelombang pinggang yang menantang di tepi <em>tanktop</em>-nya&#8230; Pikiran jorok menjorok…Terus terang seksi memang, walau tak seseksi Maria <em>Miyabi </em>Ozawa yang dua pekan belakangan ini membuat heboh karena rencana kunjungan ke negeri khatulistiwa ini.<br />
Kehebohan yang membangkitkan pertanyaan sekaligus kegelian.<em> Miyabi </em>begitu kuat menyedot reaksi. Mungkin wajar. Perempuan berbusana seksi yang tak terkenal yang melenggang di depan kami saja, begitu cepat melahirkan reaksi teman saya. Apalagi Maria…. Bedanya teman saya itu tidak seekstrim para pendukung Miyabi yang membentuk forum hanya untuk mendukung kedatangan Maria Ozawa. Mungkin ia tak berpikir politis, sehingga merasa tak perlu menghimpun massa buat  mengusir semua gadis ber-<em>tanktop</em> dan <em>hot pant </em>melenggang di Merdeka Walk…<br />
Pengumpulan massa menolak atau mendukung Maria Ozawa inilah yang mengherankan. Mungkin ini dapat menggambarkan sudah begitu politisnya cara bertindak kita. Tindakan politis itu bukan tidak mungkin akibat begitu dominannya politisasi di segala bidang. Jangan-jangan nanti untuk menceraikan istri, seorang lelaki mengumpulkan massa untuk mendemo kantor departemen agama….<br />
Kembali ke<em> Miyabi</em>, berbagai alasan menolak  atau mendukung kedatangannya bisa dilontarkan. Misalnya, kenapa saya harus menolak Maria Ozawa yang selalu menambah gairah saya menunaikan kewajiban sebagai seorang suami?. Atau seperti ini: saya tolak Miyabi karena telah membuat anak saya onani di depan layar televisi dan kalau onani menjadi candu, anak saya bakal loyo sebelum tua lalu gila menemukan istrinya berselingkuh dengan supir angkot di kamar kerjanya.<br />
Terlepas dari semua alasan itu, datang atau tidak <em>Miyabi </em> ke Indonesia, birahi tetap mengiringi perjalanan kehidupan di bumi. <em>Miyabi</em> hanya seraut ranting zaman yang mengekploitasi segala potensi manusiawi demi kepentingan ekonomi walaupun harus menanggalkan moral. <em>Miyabi</em> adalah tubuh yang menjelma kapital di pasar imajinasi. Di pasar ini, personalitas tubuh ditanggalkan, diolah dan diproduksi secara massal. Dan jangan heran, produk impersonal ini berubah lagi menjadi begitu personal di ruang-ruang imajinasi konsumen.<br />
Saya tak tahu, apakah tubuh Maria Ozawa yang kehilangan personalitas di pasar imajinasi ini sama dengan impersonal-nya Putri Indonesia yang katanya berasal dari Aceh, Qory Sandrioriva yang harus melepas jilbab dan berbikini jika jadi bertarung di ajang Miss Universe? Atau sama dengan impersonal-nya paha mulus dan gelombang pinggang menantang di tepi<em> tanktop</em> perempuan yang melenggang di Merdeka Walk?<br />
Mungkin ya, mungkin tidak. Yang jelas, saat teman saya mengeluhkan pemandangan yang menarik itu, saya sempat membayangkan perempuan ber-<em>hot pants</em> itu mendatangi kami lalu menyodorkan secarik kertas bertulisan nomor ponsel dan sebuah kalimat mengundang: <em>kontak aku…</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=96&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2009/10/17/tubuh-miyabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Badai di Ranjang Perempuan</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2009/06/09/badai-di-ranjang-perempuan/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2009/06/09/badai-di-ranjang-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 13:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/2009/06/09/badai-di-ranjang-perempuan/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama
Sebermula ranjang. Lalu keremangan panjang memajangkan perempuan dalam berbagai pose ketidakberdayaan: terkulai, gelapar pemberontakan dan dendam tak sampai, air mata, darah. Hmm… ternyata ranjang masih menjadi etalase yang mengundang…
Gambaran remang ranjang dan ketidakberdayaan perempuan ini masih tertinggal di benak usai menyaksikan “Anak-anak Badai” karya Muhammad Yunus yang dipentaskan Teater Siklus di Taman Budaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=95&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Catatan Teja Purnama</em></p>
<p>Sebermula ranjang. Lalu keremangan panjang memajangkan perempuan dalam berbagai pose ketidakberdayaan: terkulai, gelapar pemberontakan dan dendam tak sampai, air mata, darah. Hmm… ternyata ranjang masih menjadi etalase yang mengundang…<span id="more-95"></span></p>
<p>Gambaran remang ranjang dan ketidakberdayaan perempuan ini masih tertinggal di benak usai menyaksikan “Anak-anak Badai” karya Muhammad Yunus yang dipentaskan Teater Siklus di Taman Budaya Sumatera Utara, pekan lalu. </p>
<p>Dalam pementasan yang digarap Cory Islami ini, ranjang boleh jadi pilihan cerdas yang membuka wilayah penafsiran yang luas. Di atas ranjang, hidup bermula, berakhir, dan berulang lagi. Ranjang menjadi terminal alam sadar dan bawah sadar. Kenyataan berbaur dengan mimpi, yang terkadang termanifestasi gerak tubuh. Batas realitas dan imajinasi mengabur. </p>
<p>Pada keluasan imajinasi ranjang inilah, Badai, tokoh sentral “Anak-anak Badai” berusaha meyakinkan penonton tentang kejamnya kontruksi budaya yang menindas perempuan. Kekejaman ini mengalir tersekat-sekat dalam monolog maupun dialognya dengan Pakde (Syahfitra Harahap) dan Ambar (Fazaris Tanti). </p>
<p>Melalui erangan, raungan, dan repetan aktris dan aktornya, Cory seakan “mengharuskan” penonton bersusah payah menyusun biografi hitam Badai. “Keharusan” ini bukan karena berat dan kakunya naskah yang dibawakan, melainkan sebagian diakibatkan lilitan persoalan-persoalan teknis keaktoran maupun penggarapan. Persoalan teknis keaktoran dan penggarapan ini bisa jadi memangkas kerimbunan penafsiran yang seyogianya melahirkan kreativitas. </p>
<p>Dalam garapan ini, ranjang tersia jadi dekor yang tak menyatu dengan keseluruhan pertunjukan dan biografi hitam Badai (diperkosa belasan lelaki di pantai, melacurkan diri sebagai pemberontakan terhadap kontruksi budaya dan Tuhan).  Cory tak memandang ranjang sebagai benda seksi yang mendamba sentuhan imajinasi dan kreatifitas tanpa batas agar bisa melahirkan sebuah tontonan menarik. Apalagi ranjang itu berada di antara kamar Pak De sebagai representasi konstruksi budaya lelaki dan Ambar yang mengetengahkan rivalitas sengit antarperempuan. Kedua pintu kamar ini seolah mulut tertutup yang sewaktu-waktu dapat menelan Badai dan ranjangnya.  Di satu pihak Badai harus menghadapi lelaki dengan rekayasa budayanya, di pihak lain ia harus menghadapi sesamanya yang menjadi korban “kekuasaan” budaya lelaki.  </p>
<p>Saya tak tahu, apakah dalam pementasan ini tak ada penambahan adegan di luar naskah untuk membuat cerita ini lebih cepat sampai ke penonton. Aih, entah kenapa saya ingin Cory melahirkan segerombolan pemain yang yang dapat bertindak sebagai apa dan siapa saja, kapan dan di mana saja, merepresentasikan pikiran dan perasaan setiap tokoh. </p>
<p>Maaf, Cory, karena saya ingin, maka dalam pementasanmu saya membayangkan gerombolan itu bermain-main di kamar Pak De dan Ambar, menyeret Badai ke pantai dan menghunjamkan berbilah luka pada perempuan yang merindu suami itu, lalu hadir di ranjang sebagai teror dan melemparkan Badai ke jurang pemberontakan pada lelaki, juga Tuhan. Sekali lagi maaf, saya ingin sekali melihat kelebatan Pak De saat gerombolan itu beraksi di pantai agar saya tak terlalu bertanya-tanya motivasi Pak De mengakhiri hidup Badai di akhir pertunjukan.  </p>
<p>Kehadiran gerombolan dalam pikiran saat menyaksikan pementasan itu cukup membantu saya memahami Michael Faucoult yang menilai tubuh juga dikonstruksi oleh budaya, hukum, dan moralitas hingga menjadi sebuah tubuh sosial. Dan tubuh sosial tokoh Badai dapat merepresentasikan tentang tubuh perempuan yang kian rentan diekploitasi, dimarjinalisasi, hingga tak berarti lagi bagi keperempuanannya. Gerombolan itu juga  yang membantu saya memahami bahwa ranjang yang membentangkan kenyataan dan mimpi-mimpi dapat meranjau  perempuan menjadikan tubuhnya sebagai objek dan mengikuti selera orang lain. </p>
<p>Ah, gerombolan itu hanya ada dalam bayangan saya, sama sekali tak ada di panggung yang ditata apik oleh Soecipto dibantu siraman cahaya Soekisno itu. Sama seperti keinginan saya memahami perempuan Jawa saat melihat Badai “bercakap-cakap” dengan wayang Semar. </p>
<p>Sekali lagi maaf, Cory, saya lebih tak memahami ketika membaca pengakuanmu di buku acara yang menyebutkan, secara tematik naskah ini bercerita eksistensi dan eksploitasi seksualitas perempuan dalam tradisi Jawa yang kaku. Saya bertanya-tanya, apakah Badai salah satu korban tradisi yang dikatakannya kaku itu? 	</p>
<p>Kalau boleh saya menjawab, Badai bukanlah korban tradisi Jawa. Dia justru memberontak. Dia keluar dari rumah, tak lagi menjadi istri yang baik di rumah, hingga akhirnya diperkosa di pantai. Badai juga bukan seperti perempuan yang diharapkan tradisi Jawa  dapat menerima kenyataan sepahit apa pun. Terbukti, Badai menjadi badai dalam keluarganya. Merebut hati Kang Mas-nya  Ambar yang penuh dendam, melacurkan diri dan dalam kemabukannya memberontak pada lelaki dan Tuhan. Atau mungkin kita harus lebih banyak lagi membaca Jawa?</p>
<p>Sekarang, pementasan telah usai, walau tak ada layar yang diturunkan. Tetapi saya tahu, tak ada yang sia-sia. Setidaknya, “Anak-anak Badai” dengan berani membentangkan sosobek luka perempuan dan berusaha menampilkannya dengan intens dan konsisten sepanjang pementasan. Cory juga berusaha mengirimkan pesan kepada saya selaku penonton bahwa perempuan masih harus berjuang melakukan dekonstruksi budaya yang menindasnya. </p>
<p>Selain itu, Cory didukung Hafiztaadi sebagai pimpinan produksi telah menunjukkan keberaniannya memasuki dunia serba mungkin. Dunia itu adalah panggung yang bisa berada di mana saja, apalagi sekadar bertukar dengan tempat penonton sebagaimana yang dilakukan dalam pementasan “Anak-anak Badai” ini. Pertukaran tempat bermain itu bagi saya mencerminkan harapan adanya sikap saling memahami antara teater dan penonton. Lebih dari itu, penonton dan teater sebenarnya berintegrasi secara demokratis dan fungsional demi melahirkan peristiwa budaya. Hmmm… saya percaya tak ada tiran di teater yang harus memaksa saya melihat ranjang hanya sebagai ranjang…  </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=95&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2009/06/09/badai-di-ranjang-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Kasihani Iblis!</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2009/05/25/jangan-kasihani-iblis/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2009/05/25/jangan-kasihani-iblis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 14:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/2009/05/25/jangan-kasihani-iblis/</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa kita harus kasihan pada Iblis? Pertanyaan ini saya lontarkan di dinding facebook awal April. Berbagai komentar muncul. Sayangnya, tak ada yang mempertanyakan pertanyaan saya atau menyamakannya dengan pernyataan: Iblis tak perlu dikasihani walau sepanjang hidupnya tragedi.
Kisah Iblis memang penuh tragedi. Sejak ia menolak tunduk kepada Adam, makhluk yang selama ratusan tahun hanya mengabdi kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=94&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kenapa kita harus kasihan pada Iblis? Pertanyaan ini saya lontarkan di dinding facebook awal April. Berbagai komentar muncul. Sayangnya, tak ada yang mempertanyakan pertanyaan saya atau menyamakannya dengan pernyataan: Iblis tak perlu dikasihani walau sepanjang hidupnya tragedi.</p>
<p>Kisah Iblis memang penuh tragedi. Sejak ia menolak tunduk kepada Adam, makhluk yang selama ratusan tahun hanya mengabdi kepada Allah harus menanggung kutuk dengan kesombongan yang menggelikan sekaligus mengerikan: meminta waktu sampai kiamat untuk menggoda anak cucu Adam.  Menariknya, Sang Pencipta dengan kemahatahuan-Nya malah mengabulkan permintaan itu. Sejak itulah perang panjang antara Manusia dan Iblis berlangsung.<span id="more-94"></span></p>
<p>Perang panjang ini melahirkan berbagai penafsiran maupun penghayatan. Tidak sedikit  seniman menjadikan proses penciptaan manusia yang menjungkalkan Iblis ke jurang kutuk tak berdasar ini sebagai pemantik kreativitas. Pengarang kenamaan, Da&#8217;ud ibnu Ibrahim Al Shawni salahsatunya. Dalam novelnya &#8220;The Madness of God&#8221;, Shawni dengan gaya unik dan tetap berpijak kepada Al quran menghadirkan kelihaian Iblis dalam memainkan logika dan perasaan manusia. Di antaranya menganggap diri martir bagi takdir manusia. Alasannya, semua pilihan adalah milik-Nya dan ia tidak kuasa menolak keinginan kekasih-Nya untuk memberi kesempatan kepada manusia memahami kekuasaan Penciptanya.</p>
<p>Sastrawan muda Indonesia, Hasan Al Banna juga tergoda memahami &#8220;permainan&#8221; logika dan perasaan yang dilancarkan Iblis dalam perang panjang ini. Ia menulis monolog &#8220;Cublis&#8221; dan memainkannya di Gedung Taman Budaya Sumatera Utara, 16 Mei 2009 lalu. Terlepas dari  kegugupan teknikal, pementasan monolog perdana Hasan ini layak mendapat perhatian. Dengan kecerdasan artistiknya, Hasan dibantu Raudah Jambak, berusaha mempresentasikan tema berat secara ringan dan  komunikatif. Ada keinginan menghibur sekaligus menabur manfaat.</p>
<p>Dalam monolog berdurasi kurang dari satu jam itu, Cublis, seorang cucu Iblis, berusaha menguras iba penonton  sekaligus menghujat manusia. Pembelaan Cublis terhadap kaumnya juga dimanfaatkan Hasan menyoroti kemerosotan iman manusia.</p>
<p>Cublis yang baru saja merayakan ulang tahun itu menggugat manusia yang selalu menempatkan kaumnya pada posisi bersalah. Segala yang buruk selalu dikaitkan dengan Iblis, bahkan sampai noda biru legam yang mendadak muncul di paha manusia. Perempuan baik diperkosa, Iblislah pelakunya. Seorang anak menghajar Ibu kandungnya sendiri, itu Iblis. Uang negara lenyap, Iblis. Ada Ayah menanam benih ke perut putrinya sendiri, sehingga ia pun menjadi Ayah sekaligus Kakek bagi bayinya, itu Iblis. Perang pecah, orang mati sia-sia, Iblislah terdakwa.</p>
<p>&#8220;Memang, memang terus terang, kamilah yang habis-habisan mengoda Habil agar membunuh saudaranya Kabil. Tapi ingat, ingat, catat, dan tulis, dan cetak dengan huruf besar di  suratkabar terbitan besok, bahwa kami para Iblis tidak pernah menyuruh manusia memenggal-memenggal tubuh sesamanya, merajang, dan merebusnya sampai putih, sampai hancur seperti bubur sumsum, lalu menelantarkannya di bak sampah sebagai persembahan bagi kawanan lalat,&#8221; ungkap Cublis tersendat-sendat dalam karakter yang cenderung kekanakan di panggung yang dipenuhi balon, terompet, boneka, dan kotak dan sampul kado itu.<br />
Dalam adegan itu, Cublis berusaha menyerang keimanan penonton. Bahkan tanpa beban ia berusaha menanggalkan manusia dari diri penonton.</p>
<p>&#8220;Maaf, aku terlalu berlebihan… Entah manusia mana tadi yang bertengger di telingaku…. Untuk apa aku marah pada kalian. Toh kalian bukan manusia. Sesama kaum yang bukan manusia dilarang saling menghina,&#8221; ucap Cublis yang dalam aksinya juga mempertontonkan bagaimana sang manusia, Tuan Bustaman memaksanya meniduri seorang pelacur.</p>
<p>Serangan itu semakin diperkuat dengan kehadiran Atok Iblis. Di sini keterampilan Hasan membedakan karakter setiap tokoh mengemuka. Iblis renta berpenyakitan menghardik Cublis yang menghuj at manusia. Dalam adegan ini, Hasan kembali mengritik manusia yang suka hujat-menghujat. &#8220;Serangan&#8221; dan kritik kemanusiaan itu kembali dilancarkan ketika Atok Iblis meratapi manusia yang lebih lihai  menciptakan jalan dosa daripada kaumnya. Bahkan ia menuding manusia telah merampas pekerjaan Iblis.</p>
<p>Hasan Al Banna berusaha mengalir dalam monolog perdananya ini. Namun, ia tersekat-sekat di jerat ketakutan &#8220;merusak&#8221; keimanan penonton. Di sisi lain sesekali ia terjebak godaan melucu melalui tingkah dan ucapan Cublis yang terkesan polos dan memancing keibaaan.</p>
<p>Di pementasan ini, kekuasaan penonton tampak membayang-bayangi garapan. Walau tidak sampai kepada berhala, keinginan &#8220;menyelamatkan&#8221; iman penonton dan menyodorkan kelucuan menimbulkan kesan serba tanggung yang berisiko kepada penyimpangan pesan. Bukan tidak mungkin ketakutan itu malah terwujud setelah pementasan itu usai.</p>
<p>Daya menghibur dan menabur manfaat sebenarnya sebuah kekuatan yang besar dalam menghadapi kekuasaan penonton. Diperlukan keberanian dan kejelian dalam &#8220;menyerang&#8221; penonton dalam keyakinan bahwa  penonton juga Adam yang dibekali Pencipta dengan akal dan kalbu. Menakar dan menyeimbangkan bobot pertunjukan dengan kualitas penonton sama halnya menyuguhkan gelombang laut  ke dalam botol. Artinya, gelombang tinggallah air asin kehilangan gerak, angin, matahari, bintang, bulan, kulit kerang, atau jejak-jejak bocah di pasir pantai.</p>
<p>Kecurigaan terhadap kualitas penonton terasa mengganggu di akhir pertunjukan. Melalui bayang besar di  sudut panggung, Tuan Bustaman menikam pertunjukan dengan hanya menyatakan Cublis telah berbohong dan melemparkan fitnah keji pada dirinya. Sayang, Hasan memilih cara yang verbal untuk mengungkap keculasan dan kecerdikan Cublis mempermainkan logika dan perasaan manusia.</p>
<p>Akhir yang mencair agak mencemari kekentalan garapan peristiwa terbongkarnya kelicikan Cublis di pertengahan pementasan yang jauh dari verbalitas. Misalnya, saat Cublis menyatakan rambutnya lebat, hitam, bergelombang, tapi mudah disisir, padahal jelas-jelas ia botak. Adegan ini begitu kuat membongkar kombur Iblis, apalagi ia sempat keceplos memaki ketololannya sendiri Siasat seperti ini tak ditemukan Hasan di akhir pertunjukan.</p>
<p>Saya jadi khawatir pembongkaran kelicikan Cublis di pertengahan pementasan hanya melahirkan tawa tanpa mengekalkan pesan bahwa Iblis menyerang dengan berbagai cara dan dari berbagai  sisi, bahwa kita memang tak perlu kasihan pada Iblis!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=94&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2009/05/25/jangan-kasihani-iblis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamlet Tersesat di Hutan Reklame</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2009/03/02/hamlet-tersesat-di-hutan-reklame/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2009/03/02/hamlet-tersesat-di-hutan-reklame/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 12:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[coratcoret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Gubsu, H Syamsul Arifin mengeluarkan pernyataan yang cukup menghentak. Orang nomor satu di Sumatera Utara ini mendesak Pemko Medan menertibkan reklame-reklame bermasalah. Dia tidak mau Medan sebagai ibukota provinsi menjadi hutan reklame. 
“Tolong tertibkan reklame yang bermasalah. Jangan pandang bulu. Kalau ada yang bawa-bawa nama Gubernur tapi tidak memiliki izin, sikat! Yang tidak ada izin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=91&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Gubsu, H Syamsul Arifin mengeluarkan pernyataan yang cukup menghentak. Orang nomor satu di Sumatera Utara ini mendesak Pemko Medan menertibkan reklame-reklame bermasalah. Dia tidak mau Medan sebagai ibukota provinsi menjadi hutan reklame. </p>
<p>“Tolong tertibkan reklame yang bermasalah. Jangan pandang bulu. Kalau ada yang bawa-bawa nama Gubernur tapi tidak memiliki izin, sikat! Yang tidak ada izin buang!” tegas Syamsul di hadapan para pejabat Pemko, termasuk Pj Walikota Medan Drs H Afifuddin Lubis MSi  beberapa waktu lalu.  </p>
<p>Tentu pernyataan Syamsul ini bukan asal ucap. Penegasan yang ditanamkannya di hadapan pejabat Pemko Medan itu berangkat dari kenyataan di kota yang bercita-cita moderen, relijius, dan madani ini. </p>
<p>Lihatlah! Nyaris tidak satu pun jalan atau  persimpangan strategis luput dari billboard-bilboard raksasa yang memajangkan berbagai produk. Persaingan biro jasa periklanan kian tajam. Masing-masing berusaha menutupi bilboard yang lain. </p>
<p>Fasilitas publik pun terkooptasi perangai bisnis periklanan ini. Fungsi jembatan penyeberangan  bergeser menjadi pajangan reklame. Jangan pula heran, terdapat dua jembatan penyeberangan di lokasi yang berdekatan, yakni di Jalan Balai Kota dan Putri Hijau. Herannya, Pemko Medan tidak bisa berbuat apa-apa hanya karena biro jasa periklanan itu yang membangun jembatan penyeberangan tersebut. </p>
<p>Trotoar sebagai hak pejalan kaki dan median jalan tak luput dari eksploitasi. Di trotoar, selain bilboard raksasa juga tertanam tugu reklame. Sebagai kamuflase, tugu reklame itu dipasang di tengah taman kecil yang hingga kini tak terawat. </p>
<p>Reklame-reklame ini juga berisiko kecelakaan. Bukan sekali-dua kali kita mendengar kabar tumbangnya papan reklame hingga menimbulkan korban luka, bahkan jiwa. Dan bersyukurlah, sampai sekarang belum ada kabar orang iseng atau sakit jiwa yang menumbangkan  bilboard secara bertahap hanya untuk mencelakai orang banyak. </p>
<p>Melihat kenyataan ini, sudah saatnya Drs H Afifuddin Lubis MSi bertindak tegas. Keraguan akan  memperparah kehancuran Medan. Jangan seperti Hamlet yang terus dililit keraguan hingga membawa petaka bagi dirinya sendiri. </p>
<p>Bacalah karya Shakespeare itu dan  rasakan derita Hamlet si peragu. Hamlet yang telah mendapat “pertanda” begitu larut dalam keraguan bahwa pamannya, Claudius, yang telah meracun ayahnya. Lucunya, untuk menepis keraguan, Hamlet mengundang kelompok sandiwara untuk mementaskan tentang tewasnya seorang raja. Sedihnya lagi, saat ia telah yakin bahwa benar Claudius yang membunuh ayahnya, Hamlet tak  membunuh Claudius yang saat itu sedang khusyuk berdoa. Alasannya, orang yang tewas saat berdoa akan masuk surga dan Claudius tak pantas menghuni surga. </p>
<p>Akibat keraguan ini, bukan sedikit derita yang mendera. Claudius dan ibunya naik tahta menggantikan mendiang ayahnya. Hamlet membunuh calon mertuanya dan  kekasih sejatinya, Ophelia pun menjadi gila lalu tenggelam di dasar sungai. </p>
<p>Kini tinggal pertanyaan bersarang di hati: Apakah Medan tak malu mempunyai seorang Hamlet yang tersesat dan bingung di tengah hutan reklame? </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=91&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2009/03/02/hamlet-tersesat-di-hutan-reklame/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Handuk</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/handuk/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/handuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 04:47:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Puisi Teja Purnama
Handuk selalu mencintaimu.
Selalu bersedia menerima ketelanjangan
yang kau sembunyikan di balik kain biru.
Siapa pun kau, ia tak pernah menghindar.
Dengan tulus mengikuti usapan sepanjang tubuh basah.
Tak ia persoalkan pula kebasahan itu.
Biar dari hujan malam-malam
dari air bak yang lama tak dikuras
atau sumur tua dan berjamur.
Tak ada benci dan dendamnya
walau matahari kembali menyengat kerelaan.
Ia rela mengembangkan dada
menerima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=81&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Puisi Teja Purnama</em></p>
<p>Handuk selalu mencintaimu.<br />
Selalu bersedia menerima ketelanjangan<br />
yang kau sembunyikan di balik kain biru.</p>
<p>Siapa pun kau, ia tak pernah menghindar.<br />
Dengan tulus mengikuti usapan sepanjang tubuh basah.<br />
Tak ia persoalkan pula kebasahan itu.<br />
Biar dari hujan malam-malam<br />
dari air bak yang lama tak dikuras<br />
atau sumur tua dan berjamur.</p>
<p>Tak ada benci dan dendamnya<br />
walau matahari kembali menyengat kerelaan.<br />
Ia rela mengembangkan dada<br />
menerima cucuran peluh gelisah hitam<br />
yang jadi belati menekan lehermu<br />
atau peluh yang mengkilapkan lenganmu<br />
usai merubah letak kursi<br />
dan memasang potret keluarga<br />
di ruang tamu atau peluh  mengering<br />
sekeluarnya engkau dari kamar pelacur. </p>
<p>Betapa dalam cintanya.<br />
Benarlah engkau jika tidak pernah berpikir amarahnya<br />
saat kau jadikan lap dapur yang kotor.  </p>
<p>Handuk selalu mencintaimu.<br />
Selalu setia dari satu cuaca ke cuaca lain.<br />
Sampai ia menipis dan lapuk<br />
sampai usapan duka di dadamu<br />
yang dingin<br />
dan tak lagi bersuara.<br />
<em><br />
(telah dipublikasikan di Harian Global)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=81&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/handuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Sorga</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/anak-sorga/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/anak-sorga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 04:42:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Puisi Teja Purnama
    -mengenang aceh  
Jangan menangis lagi, mama.
Dia hanya bermain di ranjang  gelombang
lalu  tertidur dalam perjalanan ke sorga.
Betapa lincah lelapnya.
Berlari-lari di laut, melejit
jejaki  awan, melompat
berguling-guling girang, seketika terkejut
lalu tertawa geli melihat
papa berlagak badut  tersangkut
di kabel listrik. 
“Mama, aku terbang
ke pulau penuh balon dan pohon apel,”
Lepaskan ia
Biarkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=79&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Puisi Teja Purnama</em></p>
<blockquote><p>    <em>-mengenang aceh </em> </p></blockquote>
<p>Jangan menangis lagi, mama.<br />
Dia hanya bermain di ranjang  gelombang<br />
lalu  tertidur dalam perjalanan ke sorga.</p>
<p>Betapa lincah lelapnya.<br />
Berlari-lari di laut, melejit<br />
jejaki  awan, melompat<br />
berguling-guling girang, seketika terkejut<br />
lalu tertawa geli melihat<br />
papa berlagak badut  tersangkut<br />
di kabel listrik. </p>
<p><em>“Mama, aku terbang<br />
ke pulau penuh balon dan pohon apel,”</em></p>
<p>Lepaskan ia<br />
Biarkan terbangun di pangkuan bidadari<br />
yang sering kau ceritakan padanya<br />
di malam-malam  kantuk.</p>
<p>Kalau rindu<br />
pandanglah waktu<br />
yang tak pernah berdenyut<br />
dalam keabadian. </p>
<p>Katakanlah, mama<br />
Sebilah pisah di dada berdebur<br />
takkan  mampu mengiris kenangan berlumpur.</p>
<p><em>telah dipublikasikan di Harian Global</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=79&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/11/17/anak-sorga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebelum Sholat</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/10/28/masih-berkecambah/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/10/28/masih-berkecambah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 12:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Teja Purnama
ku bayangkan,
iblis menangisi cintanya
tapi bangga menjalani takdirnya sebagai terkutuk
memainkan skenario panjang kehidupan
mungkin Dia hanya berkata
segalanya mengabdi padaKu
segala hukum dan sejarah
segala kebaikan, bahkan kejahatan
kubayangkan lagi Iblis ingin balas menjawab
tapi tak sempat, karena Dia lebih dahulu menyergah,
&#8220;Suka-sukaKu lah!&#8221;
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=68&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Teja Purnama</em></p>
<p>ku bayangkan,<br />
iblis menangisi cintanya<br />
tapi bangga menjalani takdirnya sebagai terkutuk<br />
memainkan skenario panjang kehidupan</p>
<p>mungkin Dia hanya berkata<br />
segalanya mengabdi padaKu<br />
segala hukum dan sejarah<br />
segala kebaikan, bahkan kejahatan</p>
<p>kubayangkan lagi Iblis ingin balas menjawab<br />
tapi tak sempat, karena Dia lebih dahulu menyergah,<br />
&#8220;Suka-sukaKu lah!&#8221;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=68&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/10/28/masih-berkecambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Bisa Saya Meninggalkan Kamu</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/12/tak-bisa-saya-meninggalkan-kamu/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/12/tak-bisa-saya-meninggalkan-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 04:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama
Saya harus jujur. Hanya kamu yang dapat mewakili pikiran, perasaan, dan sikap saya. Maka, jangan tertawa kalau saya mengaku tak bisa meninggalkan kamu.
Bukan tak pernah saya mencari yang lain. Secara sembunyi-sembunyi, saya membanding-bandingkan mata kamu dengan  eye, tangan dengan hand, kaki dengan foot, cinta dengan love. Lalu apa jadinya ketika saya mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=48&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Catatan Teja Purnama</em></p>
<p>Saya harus jujur. Hanya kamu yang dapat mewakili pikiran, perasaan, dan sikap saya. Maka, jangan tertawa kalau saya mengaku tak bisa meninggalkan kamu.</p>
<p>Bukan tak pernah saya mencari yang lain. Secara sembunyi-sembunyi, saya membanding-bandingkan mata kamu dengan <em> eye</em>, tangan dengan <em>hand,</em> kaki dengan <em>foot,</em> cinta dengan <em>love</em>. Lalu apa jadinya ketika saya mulai berkata-kata? Gagap, bingung, dan saya semakin tampak bodoh di mata dunia. <span id="more-48"></span></p>
<p>Terkadang menyesal hanya mengenal kamu. Kamu hanya salah satu belahan dari berbagai belahan di dunia ini. Akhirnya, saya hanya bisa berusaha meraba-raba kemulusan belahan lain melalui orang lain. <em>Hamlet, Pangeran Denmark </em>memperkenalkan diri kepada saya melalui Trisno Sumardjo, bukannya Shakespeare. Saya juga membutuhkan Sapardi untuk menghayati kisah <em>Lelaki Tua dan Laut</em> Hemingway.  Apalagi <em>Pesta Lapar</em> Rimbaud, saya hanya bisa memahaminya melalui Sitor Situmorang. </p>
<p>Itu baru persoalan membaca. Bagaimana pula dengan menulis? Memuisi, mengarang cerita pen¬dek, sampai menulis, saya pun sangat ter¬gan¬tung kepada kamu. Untungnya, kamu selalu ada dan setia. Kamu setia  menampung segala kebeba¬san dalam diri saya. Tidak heran, sebagian besar sastrawan di jamrud khatulistiwa ini tak bisa me¬ninggalkan kamu. Persoalannya, bagaimana orang-orang di belahan dunia lain dapat membaca karya saya?</p>
<p>Mungkin kamu tersenyum sinis dan berkata,&#8221;Karyamu belum pantas dibaca. Tidak bermutu.&#8221; </p>
<p>Baiklah. Mungkin saya belum bermutu. Tetapi, bagaimana dengan Bokor Hutasuhut si Penakluk Ujung Dunia dan Damiri Mahmud yang memberi penafsiran baru Padamu Jua Amir Hamzah? Atau cerpen-cerpen Hasan Al Banna dan A Rahim Qahhar? Apakah karya mereka hanya perlu dibaca orang Indonesia? </p>
<p>&#8220;Masih banyak orang yang tidak sebodoh kamu. Masih banyak orang yang bisa menerjemahkan karya-karya bermutu. Lagi pula kenapa harus orang Indonesia saja yang boleh memahami saya?&#8221;<br />
Aduh! Lagi-lagi kamu membuat saya tak ber¬daya. Memang, tidak harus orang Indonesia saja yang dapat memahami kamu. Maaf, kalau ka¬mu tersinggung. Tidak ada maksud meremehkan. Tidak mungkin seorang kekasih merendahkan ke¬kasihnya. Anggap saja kecemasan saya  tentang pembaca yang terbatas cerminan kemalasan atau kebodohan seorang manusia dalam menjalani hidupnya di dunia yang luas dan beraneka ini. </p>
<p>Saya mengakui, kamu pantas untuk tidak di¬pahami bangsa Indonesia saja. Kendati kamu tidak tumbuh  dan berkembang di Inggris, Arab, Prancis, Jepang, atau Cina, namun kamu meraja di Asia Tenggara, termasuk Kepulauan Nusantara. Kamu menjadi penghubung antar suku, melancarkan perdagangan dan penyebaran agama Islam. </p>
<p>Pak Anwar, guru saya di SMA Tunas Kartika I Medan menyatakan, sebagai unsur kebudayaan (ungkapan ini dikutipnya dari Categories of Culture karangan seorang antropolog bernama  C Kluckhohn), kamu telah begitu membumi dan tang¬guh. Kamulah yang menyuburkan rasa per¬saudaraan dan persatuan bangsa ini. Tidak heran, pada 1928 para pemuda di tanah air ini menjadikan kamu sebagai  perekat persatuan bangsa. Dalam buku pelajaran SD milik abang saya, peristiwa itu dinamakan Sumpah Pemuda. Wajar pula kamu mempunyai kedudukan resmi dalam negara ini sebagaimana yang digariskan UUD 1945. Guru saya itu juga membanggakan kamu yang berperan penting dalam pengembangan kebudayaan pada zaman Sriwijaya. Kamu selalu diandalkan dalam buku-buku pelajaran agama Buddha. Lebih dari itu, kamu menjadi pegangan resmi Kerajaan Malaka yang berjaya pada abad 14-16. </p>
<p>Sebagai unsur kebudayaan, kamu tidak lepas dari berbagai pengaruh. Kenyataan ini terus berlang¬sung hingga kini. Apalagi  saat teknologi komuni¬kasi berhasil meruntuhkan tembok pembatas ruang dan waktu. </p>
<p>Pengaruh itu bukan lagi tamu yang mengucap¬kan salam sebelum masuk ke ruang tamu lalu duduk dengan sopan, melainkan sudah mengutak-atik dapur bahkan kamar tidur. Tak mungkin pula menutup pintu rapat-rapat. Itu hanya menikamkan keterasingan dan ketertinggalan dalam perkem¬bangan zaman. Tak bisa pula membuka pintu selebar-lebarnya, karena tamu itu bakal menjadi tuan rumah di rumah kita.</p>
<p>Perubahan demi perubahan pun terjadi, termasuk pada prilaku masyarakat negeri ini dalam bertindak dan berbahasa. Keindahanmu mengabur di gemerlap pasar.  Aih, seandainya kamu yang ada di papan reklame itu…</p>
<p>Apakah kamu risau? Boleh saja,  tetapi jangan mengasahnya  menjadi pisau lalu menikam setiap pengaruh yang datang. Kerisauan berlebihan ini hanya akan menimbulkan  rasa  tidak percaya diri pada ketangguhanmu yang telah melintasi berbagai era. </p>
<p>Kamu harus tahu, kamu tidak sendirian. Selain saya sebagai rakyat, ada Balai Bahasa Medan yang merupakan salah satu dari 22 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Bahasa. Kamu boleh lega, kare¬na lembaga ini mempunyai visi menjadi kamu seba¬gai bahasa yang berwibawa dan bahasa perhu¬bung¬an luas tingkat antarbangsa. Visi ini diwujud¬kan dalam misi meningkatkan mutu bahasa dan sastra, sikap positif masyarakat, mengembangkan bahan informasi, dan kerja sama. </p>
<p>Sempat juga saya cemburu pada lembaga ini. Pi¬kiran kotor saya mengatakan, lembaga ini meng¬ang¬gap dirinya sebagai satu-satunya yang men¬cintai dan berkepentingan terhadap kamu dan  sastra Indonesia. Untung saya segera mengetahui, lem¬baga ini sangat mengakui peran masyarakat dan institusi lain dalam mewujudkan visi dan misi¬nya. Kecemburuan pun terkikis, berganti harapan. </p>
<p>Mungkin kamu akan mengejek saya. &#8220;Mulai merayu.&#8221;</p>
<p>Tak apa. Saya tak marah, karena memang saya tidak berniat merayu kamu. Saya hanya ingin mengingatkan tentang harapan agar karya sastra di daerah ini dapat berdiri gagah di tengah arus kuat kebudayaan dunia. Karya Bokor, Damiri, Hasan, dan Rahim bukan hanya menjadi bacaan orang Indonesia, tetapi juga mereka yang tinggal di belahan benua lain. </p>
<p>&#8220;Rayu, terus rayu saya. Seperti teja merayu senja, sebentar pudar dipeluk malam.&#8221;</p>
<p>Ai, ai, ai! Kamu menyindir saya dengan puisi. Tak apa. Tak apa. Sekarang malah saya yang ter¬san¬jung, tetapi tidak akan membuat saya melam¬bung hilang kesadaran. Saya tetap mempunyai harapan lembaga itu tidak hanya cemas, tetapi menjadikan globalisasi dan pasar bebas ini sebagai peluang.</p>
<p>Masalahnya sekarang bagaimana mendorong Balai Bahasa Medan bergaul agar bukan hanya kita yang mengetahui keberadaannya.  Da¬lam pergaulan itu, tentu perlu ada kewibawaan. Tan¬pa wibawa, bagaimana lembaga ini dapat men¬jadikan kamu dan sastra Indonesia berwibawa?</p>
<p>Kewibawaan di sini bukan berarti menikam setiap pengaruh yang datang dengan pisau kerisauan. Kamu harus membisikkan kepada Balai Bahasa Medan, manusia itu mempunyai naluri ber¬adaptasi pada segala perubahan. Tindakan mene¬kan hanya akan melahirkan kebencian. Dan keben¬cian tidak pernah menyelesaikan persoalan.  Yang diperlukan saat ini adalah sikap terbuka, na¬mun dengan kesadaran tinggi menjaga dan mengembangkan kamu dan sastra Indonesia. </p>
<p>Pergaulan mesra tanpa kehilangan wibawa dengan berbagai komponen masyarakat me¬mudah¬kan lembaga ini memasyarakatkan sastra. Tumbuhnya masyarakat sastra di daerah ini hingga meluas ke berbagai daerah lain, akan membuka mata dunia.  Kalau di negara sendiri sastra Indonesia menjadi masih menjadi benda asing, bagaimana pula masyarakat di belahan dunia lain ter¬tarik membacanya?</p>
<p>Mungkin kamu berkata, &#8220;Kamu sok serius. Kamu pasti belum tahu, berbagai upaya terjun langsung ke tengah masyarakat untuk memasyarakatkan sastra sudah dan terus dilakukan. Kamu pasti belum tahu juga lem¬baga ini terus menggelar bengkel sastra di ber¬bagai sekolah. Kamu juga belum tahu lembaga itu telah melakukan berbagai penelitian tentang bahasa dan sastra di Sumut.&#8221; </p>
<p>Tak apa. Tak apa. Tak apa. Saya terima ejekan kamu. Percintaan kita lebih indah jika diwarnai ejekan dan pujian.  Makin kuat harapan saya percintaan kita mem¬punyai kelanjutan yang jelas. Tidak seperti bengkel sastra yang hanya dilanjutkan dari satu sekolah ke sekolah lain. Saya ingin percintaan kita melahirkan buah yang dapat terus dirawat dan dipelihara, sebagaimana bengkel sastra dapat melahirkan sanggar binaan Balai Bahasa Medan di seluruh kabupaten/kota di Sumut.  </p>
<p>Bayangkanlah, pelajar-pelajar yang bergabung dalam sanggar itu tidak lagi asing dengan berbagai sastrawan di Sumut dan merasa perlu membang¬ga¬kannya kepada teman asingnya saat mengobrol melalui internet. </p>
<p>Membayangkan harapan itu terwujud, saya jadi lebih yakin tidak akan pernah bisa meninggalkan kamu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tejamu.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tejamu.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=48&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/12/tak-bisa-saya-meninggalkan-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Percintaan Bahasa dan Sastra</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/04/percintaan-bahasa-dan-sastra/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/04/percintaan-bahasa-dan-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 15:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Teja Purnama

Sepasang kekasih, bercinta dalam segala cuaca. Rindu yang sendu, remasan cemas, rayuan sangsi, dan berbagai rasa mewarnai percintaan.  Merekalah bahasa dan sastra. Sebuah asmara yang tak padam walau  malam membenam matahari.
Dalam kehidupan yang selalu berkembang ini, bahasa senantiasa terbuka dan menyediakan diri pada setiap ekspresi sastra. Sastra pun kerap menyuburkan benih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=46&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Catatan Teja Purnama<br />
</em><br />
Sepasang kekasih, bercinta dalam segala cuaca. Rindu yang sendu, remasan cemas, rayuan sangsi, dan berbagai rasa mewarnai percintaan.  Merekalah bahasa dan sastra. Sebuah asmara yang tak padam walau  malam membenam matahari.<span id="more-46"></span></p>
<p>Dalam kehidupan yang selalu berkembang ini, bahasa senantiasa terbuka dan menyediakan diri pada setiap ekspresi sastra. Sastra pun kerap menyuburkan benih di rahim bahasa. Tak jarang kata yang lama terbenam dalam kenangan, kembali lahir memecahkan kebuntuan dalam proses transformasi objek faktual menjadi simbol abstrak. Hasilnya, perbedaharaan kata menjadi kaya. </p>
<p>Percintaan ini mematahkan pertanyaan ketika sebuah lembaga bernama Balai Bahasa Medan  memandang bahasa dan sastra sama pentingnya dalam kehidupan sebuah bangsa. Tanpa bahasa dan sastra, sebuah bangsa tak mempunyai perekat dan identitas dalam kemajemukannya.</p>
<p>Sikap ini jelas terlihat dalam visi Balai Bahasa Medan yang ingin menjadikan bahasa dan sastra sebagai wahana untuk bekerja sama dan sebagai perekat dalam membangun kehidupan yang disemangati rasa solidaritas dan kesetaraan dalam masyarakat yang majemuk. Visi ini diwujudkan dalam misi meningkatkan mutu bahasa dan sastra, sikap positif masyarakat, mengembangkan bahan informasi, dan kerja sama. Intinya, lembaga ini berkepentingan terhadap pembinaan maupun pengembangan bahasa dan sastra.</p>
<p>Secara teknis dan administrasi, Balai Bahasa Medan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional dibina dan bertanggungjawab kepada Pusat Bahasa. Tentu ada garis-garis yang harus dipatuhi. Tentu pula, Pusat Bahasa yang berdiri sejak 1947 ini memberi ruang kebebasan bagi Balai Bahasa Medan dalam menerapkan misi yang telah ditentukan. Soalnya, pendekatan yang digunakan dalam menjalankan misi tentu disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah. </p>
<p>Tidak sesuai dengan namanya, Balai Bahasa Medan mempunyai tanggung jawab pembinaan serta pengembangan bahasa dan sastra Indonesia di Sumut. Ini bukan tugas yang ringan. Apalagi provinsi ini mempunyai kemajemukan yang begitu tinggi. Beragam bahasa daerah, adat, budaya, dan agama menjadi tantangan tersendiri. Tantangan ini semakin tajam dengan kian garangnya globalisasi merasuk berbagai sendi kehidupan. Diksi asing menjadi penjajah baru yang menyelusup di media massa, papan iklan di ruang-ruang umum. Bahkan ada juga karya sastra tak luput bermain-main dengannya.<br />
Sepintas, kenyataan ini memprihatinkan. Tak dapat dipungkiri, bahasa Indonesia telah menjadi perekat dalam proses berbangsa.  Fungsi pemersatu menjadi begitu menonjol di sini. Nasionalisme kian murung.<br />
Tapi tunggu dulu! Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. </p>
<p>Selain sebagai pemersatu, bahasa juga mempunyai fungsi komunikatif. Kemajuan zaman memaksa fungsi komunikatif bahasa juga berkembang. Perkembangan ini tidak lepas dari akumulasi perkembangan pengalaman dan pemikiran manusia sebagai pengguna bahasa.</p>
<p>Fungsi komunikatif bahasa ini tidak dapat dimusnahkan begitu saja, karena sudah melekat sejak seorang manusia lahir ke bumi. Tak ada jalan lain kecuali terus mengembangkannya, namun dengan sadar dan waspada. Selain untuk menjaga menjaga fungsi pemersatu dari bahasa Indonesia, kesadaran dan kewaspadaan itu diperlukan dalam menemukan peluang pembentukan kata-kata baru yang diserap dari bahasa daerah maupun asing.<br />
<strong><br />
Saringan Sastra</strong><br />
Pembentukan kata-kata baru ini dapat dilakukan seluruh lapisan masyarakat yang bergelut dalam berbagai bidang kehidupan. Tanpa disadari mereka  yang hidup dengan fungsi komunikatif bahasa senantiasa membentuk kata-kata baru. Kata-kata yang belum diakui sebagai bahasa Indonesia itu dianggap memenuhi kebutuhan dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan, dan sikap yang lahir dari pengalaman, baik langsung maupun tidak langsung. </p>
<p>Pengalaman manusia dan kemanusiaan inilah yang diolah sastrawan dalam berkarya. Sastrawan menangkap pengalaman-pengalaman itu dan memilihnya untuk dituangkan ke dalam karyanya. Pemilihan itu dilakukan secara personal, namun menghasilkan sesuatu yang universal karena berawal dari pengalaman manusia dan kemanusiaan.   </p>
<p>Keintiman pun terjalin antara karya sastra dengan pengalaman manusia dan kemanusiaan. Tidak jarang pula, muncul diksi-diksi yang jarang dikenal,  namun bagi sebagian orang yang mempunyai pengalaman tertentu  sangat dikenali. Apalagi diksi itu memang telah melalui saringan imajinasi dan perenungan seorang sastrawan. </p>
<p>Para pemegang kebijakan bahasa dan sastra di Indonesia tidak perlu buru-buru mengambil sikap. Biarkan saja diksi itu berproses secara alami. Ketika semua orang telah merasa memilikinya, di saat itulah diksi yang semula tidak dianggap itu diangkat menjadi salah satu perbendaharaan bahasa Indonesia.  </p>
<p><strong><br />
Pembinaan, Pengembangan, Kerja Sama</strong></p>
<p>Kelahiran karya sastra yang dapat mendorong pembentukan kata-kata baru ini seyogianya mendapat perhatian dari Balai Bahasa Medan. Konsistensi membina dan mengembangkan sastra harus terus terjaga dengan intens. </p>
<p>Pembinaan tidak saja dilakukan kepada sastrawan, tetapi juga kepada penikmat karya sastra.  Upaya ini diharapkan dapat menciptakan kegairahan di kalangan sastrawan dan meningkatkan apresiasi penikmat. Beda dengan pembinaan, pengembangan memusatkan perhatian kepada peningkatan mutu karya. </p>
<p>Untuk itu, Balai Bahasa Medan perlu menjalin kerja sama yang sinergis dengan berbagai pihak, di antaranya seniman, sanggar seni, dinas pendidikan provinsi/kota/kabupaten, sekolah, guru, dan berbagai instansi lainnya. Tanpa itu, jangan diharapkan pembinaan dan pengembangan sastra berjalan baik.</p>
<p>Kerja sama dapat terjalin jika kedua belah pihak saling mempercayai.  Kepercayaan tercapai setelah keduanya saling mengenal. Pertanyaannya, sudahkah Balai Bahasa Medan menjadi lembaga yang diperhitungkan sehingga  layak dikenal?</p>
<p>Semua terpulang pada niat  yang telah terpahat perbuatan. </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tejamu.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tejamu.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=46&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/08/04/percintaan-bahasa-dan-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Sholat</title>
		<link>http://tejamu.wordpress.com/2008/07/20/setelah-sholat/</link>
		<comments>http://tejamu.wordpress.com/2008/07/20/setelah-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jul 2008 10:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tejamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tejamu.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[
Puisi Teja Purnama
kamu mengeluh lagi
meragukan jarak bersama


pernah kamu benar-benar meninggalkanKu
tapi Kutau sesekali kau benar-benar menangis merinduKu
pernah juga kamu begitu rajin menemuiKu
seperti takut kehilangan waktu
bahkan tak ragu, tak malu
walau usai melupakanKu

kini
kamu tak tau lagi
Kita makin dekat
atau jauh
(dipublikasikan di Harian Global)
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=25&subd=tejamu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em>Puisi Teja Purnama</em></p>
<p class="MsoNormal">kamu mengeluh lagi</p>
<p class="MsoNormal">meragukan jarak bersama</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">pernah kamu benar-benar meninggalkanKu</p>
<p class="MsoNormal">tapi Kutau sesekali kau benar-benar menangis merinduKu</p>
<p class="MsoNormal">pernah juga kamu begitu rajin menemuiKu</p>
<p class="MsoNormal">seperti takut kehilangan waktu</p>
<p class="MsoNormal">bahkan tak ragu, tak malu</p>
<p class="MsoNormal">walau usai melupakanKu</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">kini</p>
<p class="MsoNormal">kamu tak tau lagi</p>
<p class="MsoNormal">Kita makin dekat</p>
<p class="MsoNormal">atau jauh</p>
<p>(dipublikasikan di Harian Global)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/tejamu.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/tejamu.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tejamu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tejamu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tejamu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tejamu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tejamu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tejamu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tejamu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tejamu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tejamu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tejamu.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tejamu.wordpress.com&blog=3914776&post=25&subd=tejamu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tejamu.wordpress.com/2008/07/20/setelah-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/949f06507dae44d30b9ad74374097c7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tejamu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>